Bab [1] Bukan Alat untuk Melampiaskan Hasrat

Pukul tiga dini hari, saat Maya Yanuar sedang tertidur lelap, suara pintu yang terbuka tiba-tiba membangunkannya.

Hanya ada satu lampu tidur berwarna kuning hangat yang menyala di kamar.

Sambil menyipitkan mata, Maya Yanuar melihat seorang pria berdiri di dekat jendela, sedang membuka kancing kemejanya.

Cahaya temaram menyoroti kontur wajah Arya Pratama yang tegas dan menawan, sedikit melembutkan tatapan dingin dan suram di matanya.

Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sebulan penuh perang dingin.

Suara Maya Yanuar terdengar serak, khas orang baru bangun tidur, "Kamu pulang?"

"Hm."

Arya Pratama hanya bergumam singkat sebelum tubuhnya yang tinggi dan tegap menindih Maya. Ia menunduk dan mencium bibir Maya, sementara tangannya yang lain sudah lihai menanggalkan gaun tidur sutra yang dikenakan istrinya.

Setelah sempat tertegun sejenak, Maya Yanuar langsung meronta.

"Arya Pratama, kita sudah bertengkar begitu lama, dan begitu pulang kamu cuma mau melakukan ini?"

Ada nada amarah yang tak tertahankan dalam suaranya.

Dia ini manusia, bukan alat pemuas nafsu.

Sekilas, ketidaksenangan melintas di mata Arya Pratama. Sambil mencengkeram dagu Maya Yanuar dari atas, ia berkata, "Kamu istriku. Membantu memenuhi kebutuhan biologisku itu sah secara hukum."

"Masalah pertengkaran kita yang kemarin belum selesai..."

Belum sempat Maya Yanuar menyelesaikan kalimatnya, Arya Pratama sudah memaksakan diri masuk.

Rasa sakit yang menusuk tanpa pemanasan apa pun langsung menjalari tubuh Maya Yanuar, membuatnya gemetar tanpa sadar.

"Arya Pratama, aku bukan alat! Apa kamu pulang cuma karena ingin melakukan ini?"

Mata Arya Pratama menyiratkan ketidaksabaran. Ia langsung membungkam mulut Maya Yanuar yang terus mengomel dengan bibirnya.

Lima tahun pernikahan membuat mereka hafal mati setiap lekuk tubuh dan titik sensitif masing-masing.

Dalam sekejap, Maya Yanuar takluk di bawah sentuhan Arya Pratama.

Suasana sensual yang mulai memanas tiba-tiba dipecahkan oleh dering ponsel yang terdengar begitu memekakkan telinga.

Dari sudut pandang Maya Yanuar, ia tidak bisa melihat nama si penelepon.

Namun, ia menangkap dengan jelas perubahan emosi yang sekilas terpancar di mata Arya Pratama.

Arya Pratama langsung menghentikan gerakannya. Tangan kirinya mengangkat telepon sementara tangan kanannya membekap mulut Maya Yanuar.

Bersamaan dengan rasa sesak yang menyerang, Maya Yanuar mendengar suara manja dari seberang telepon.

"Arya, aku sudah sampai di bandara, nih. Kapan kamu jemput aku?"

Seketika, pupil mata Maya Yanuar membesar.

Pukul tiga dini hari, seorang wanita menelepon Arya Pratama dengan nada semanja itu?

Arya Pratama membekap mulutnya, jelas sekali takut ia akan mengeluarkan suara.

"Oke, aku langsung ke sana sekarang!"

"Hati-hati di jalan ya, aku tunggu."

Setelah panggilan berakhir, Arya Pratama tanpa ragu menarik diri dan beranjak dari tempat tidur.

Gairah yang baru saja dibangkitkan dalam tubuh Maya Yanuar seolah langsung padam disiram seember air es.

Tanpa sadar, ia mengepalkan tangannya dengan erat.

Arya Pratama sebenarnya adalah pria dengan hasrat yang sangat tinggi.

Setiap malam, setidaknya ia akan ‘menggempur’ Maya dua kali.

Ini adalah pertama kalinya Arya Pratama berhenti di tengah-tengah percintaan mereka.

Terlebih lagi, karena telepon dari seorang wanita.

Rasa sakit yang tajam seketika menusuk hati Maya Yanuar.

Ia menatap Arya Pratama yang bergegas menuju ruang ganti, lalu bertanya, "Kamu mau ke mana?"

Arya Pratama mengerutkan kening menatapnya, matanya menyiratkan ketidaksabaran. "Aku tidak suka orang lain bertanya-tanya urusanku."

Nada bicaranya yang dingin sangat kontras dengan kelembutan dan kehangatan yang ia tunjukkan saat menerima telepon tadi.

Kuku Maya Yanuar tanpa sadar menancap ke telapak tangannya. Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tetap tenang, "Aku hanya mengkhawatirkanmu."

Arya Pratama tidak menjawab.

Pintu dibanting hingga tertutup, disusul suara mesin mobil yang menyala dari halaman.

Maya Yanuar duduk termangu di tempat tidur dengan wajah pucat pasi.

Suara wanita yang manis dari telepon tadi terus terngiang di benaknya.

Sangat sedikit orang yang tahu nomor pribadi Arya Pratama.

Nada bicara wanita itu yang penuh tawa jelas menunjukkan bahwa hubungan mereka sangat akrab.

Fakta bahwa Arya Pratama rela pergi di tengah malam buta membuktikan betapa pentingnya wanita itu baginya.

Maya Yanuar tiba-tiba teringat kejadian bulan lalu, saat mobilnya ditabrak dari belakang. Jika bukan karena kantong udara dan sabuk pengaman, ia pasti sudah tewas dalam kecelakaan itu.

Dengan sisa tenaga, ia merangkak keluar dari mobil yang ringsek. Hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon Arya Pratama.

Baru saja berada di ambang kematian, tangannya yang memegang telepon gemetar hebat.

Namun, bukan simpati yang ia dapatkan, melainkan nada jengkel dari Arya Pratama.

"Hubungi asuransi, hubungi polisi."

Dari awal hingga akhir, tidak ada satu pun kata perhatian. Tidak ada pertanyaan apakah ia terluka atau tidak.

Maya Yanuar menahan rasa perih di matanya, lalu membungkus dirinya dengan selimut seperti kepompong.

Kenangan bertahun-tahun bersama Arya Pratama berkelebat di benaknya seperti film yang diputar cepat.

Ia memejamkan matanya dengan erat.


Keesokan paginya saat bangun, Maya Yanuar tanpa sadar meraba sisi tempat tidur di sebelahnya.

Dingin.

Arya Pratama tidak pulang semalaman.

Tepat pada saat itu, ponselnya tiba-tiba menerima notifikasi video berita hiburan.

Rahman Hartono yang mengirimkannya.

— Rahman Hartono: 【Eh, apa bener suamimu main belakang?】

Maya Yanuar membuka video itu. Setelah melihat isinya, wajahnya yang sudah pucat menjadi semakin tidak berdarah.

Latar video itu adalah bandara. Tokoh utamanya tentu saja Arya Pratama, dan di sampingnya ada seorang wanita mungil yang tampaknya sedang berbicara manja padanya.

Arya Pratama mendorong koper wanita itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat tangan si wanita.

Dilihat dari video itu saja, kebersamaan mereka berdua seolah memancarkan aura romantis.

Media bahkan membuat judul yang bombastis dan mencolok.

【Pak Pratama Jemput Wanita Misterius di Tengah Malam, Dugaan Hubungan Asmara Terkuak.】

Pada saat itu, hati Maya Yanuar seolah diremas oleh sebuah tangan tak kasat mata.

Wanita ini... inikah orang yang membuat Arya Pratama tanpa ragu pergi menjemputnya kemarin?

Meskipun mereka menikah, pernikahan itu dirahasiakan.

Di mata publik, Arya Pratama selalu menyandang status lajang.

Tapi, apa dia sendiri lupa kalau dia sudah menikah?

— Maya Yanuar: 【Mungkin mereka cuma teman.】

— Rahman Hartono: 【Maya Yanuar, dia sudah separah ini dan kamu masih membelanya? Kamu ini sudah terbiasa jadi korban ya? Sudahlah, tendang saja dia, sama abang saja sini.】

Tatapan Maya Yanuar terasa getir, matanya semakin perih.

Memangnya Arya Pratama bisa ia larang?

— Maya Yanuar: 【Video ini sudah viral ya?】

— Rahman Hartono: 【Iya, sekarang banyak netizen yang julid bilang kalau wanita itu Nyonya Pratama yang asli. Laki-laki brengsek kayak gitu cuma bawa sial kalau dipertahanin.】

— Maya Yanuar: 【Aku tahu.】

Ia meletakkan ponselnya dan menghela napas panjang.

Apa yang ingin dilakukan Arya Pratama tidak pernah bisa ia cegah.

Terlebih lagi, Arya Pratama terlihat begitu peduli pada wanita itu.

Setelah bangun dan membersihkan diri seadanya, Maya Yanuar berangkat kerja seperti biasa.

Kemarin ia mengerjakan proyek hingga pukul satu dini hari.

Ditambah lagi karena ulah Arya Pratama, ia tidak bisa tidur sampai menjelang pagi.

Saat ini, kepalanya terasa pening dan kacau. Di sekelilingnya, banyak rekan kerja yang sedang bergosip tentang video penjemputan di bandara itu saat jam istirahat.

Maya Yanuar mengambil termosnya, berniat mengambil air hangat. Namun, baru selangkah, pandangannya tiba-tiba berputar dan kegelapan langsung menelannya.


Saat sadar, ia sudah berada di rumah sakit.

Maya Yanuar mencium bau obat yang menyengat di udara. Ingatan terakhir sebelum pingsan muncul kembali di benaknya. Dengan susah payah ia menoleh, dan melihat Arya Pratama ada di sampingnya.

Sekilas, binar bahagia terpancar di matanya.

"Arya..."

Baru saja suaranya terdengar.

Arya Pratama sudah menatapnya dengan wajah datar.

"Kita cerai."

Bab Selanjutnya