Bab [3] Mengapa Dia
Kepala Maya Yanuar berdengung hebat, seolah otaknya berhenti bekerja.
Bagaimana mungkin dia?
Kenapa harus dia?
Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Indrani Yanuar, menyapa dengan nada manis yang dibuat-buat, "Lama tidak bertemu, Kakak."
Ia sengaja menekan nada suaranya pada kata "Kakak".
Penekanan itu sukses memantik kilatan dingin di mata Maya Yanuar.
Indrani Yanuar adalah anak haram ayahnya, yang baru dibawa pulang ke rumah keluarga saat usianya delapan tahun.
Tatapan Maya Yanuar sedingin es. "Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Karena aku bosan sendirian di rumah."
Indrani Yanuar tersenyum penuh arti. "Kak, kenapa wajahmu pucat sekali? Sepertinya kaget sekali melihatku."
Bukan sekadar kaget.
Sebelum Indrani Yanuar dibawa pulang, Maya Yanuar selalu mengira dirinya adalah anak paling bahagia di seluruh dunia.
Keluarga kaya raya, orang tua yang tampak harmonis.
Sampai akhirnya, Indrani Yanuar dibawa pulang dengan heboh, diumumkan secara terbuka sebagai putri kedua keluarga Yanuar, dan mimpi indahnya hancur berkeping-keping.
Ini bukan hanya pengkhianatan ayahnya terhadap ibunya!
Yang lebih menyakitkan lagi...
Usia Indrani Yanuar hanya berbeda beberapa bulan darinya!
Itu artinya, saat ibunya sedang mengandung dirinya, ayahnya sudah tidur dengan perempuan lain.
Maya Yanuar mencengkeram telapak tangannya kuat-kuat, berusaha menarik kesadarannya kembali ke masa kini. Ia membalas dengan nada mengejek.
"Memang sangat mengejutkan. Tidak kusangka setelah bertahun-tahun di luar negeri, hal pertama yang kamu lakukan saat kembali adalah menggoda kakak iparmu sendiri!"
"Kak, jangan bicara sekasar itu. Kalau bukan karena akal-akalanmu dulu, akulah yang seharusnya menjadi istri Arya!"
Ujung kalimat Indrani Yanuar juga diucapkan dengan nada dingin yang menusuk.
Tujuannya kembali ke Indonesia sangat sederhana: merebut semua yang menjadi milik Maya Yanuar.
Ucapan itu seolah merobek selubung tipis yang menutupi pernikahan Maya dan Arya Pratama, menelanjangi kenyataan pahit di baliknya, dan membuat wajah Maya memucat.
Padahal, sudah berkali-kali ia mencoba menjelaskan.
Bukan dia yang melakukannya.
"Turun!"
Arya Pratama, yang sedari tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. Suaranya yang dingin membuat Indrani Yanuar tak berani membantah dan segera berdiri tegak.
Arya menatap Maya dengan dingin.
"Mulai hari ini, Indrani Yanuar resmi bekerja di Grup Pratama."
Kilatan tak percaya melintas di mata Maya.
Bekerja di Grup Pratama?
Lalu bagaimana dengan posisinya?
Kalimat Arya selanjutnya memberikan jawaban yang menghancurkan hatinya.
"Dia sekretaris baruku. Mulai sekarang, kamu hanya mengurus pekerjaan sebagai asisten."
Jantungnya seakan diremas kuat, rasa sakit menjalari dada Maya.
Ia menatap lekat-lekat wajah Arya, suaranya terdengar pilu. "Bukan itu yang kita bicarakan kemarin."
Arya menjawab tanpa ekspresi. "Kamu tetap asistenku. Aku sudah berjanji padamu soal pekerjaan, tentu saja tidak akan ada perubahan."
Arya membedakan dengan jelas antara pekerjaan sekretaris dan asisten.
Sekretaris bertanggung jawab atas jadwal pribadinya dan beberapa kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan asisten sepenuhnya menangani masalah yang berhubungan dengan proyek-proyek pekerjaan.
Tindakan Arya ini jelas-jelas menendang Maya keluar dari lingkaran kehidupan pribadinya.
Indrani Yanuar maju selangkah, menarik lengan baju Arya dengan manja. "Arya, bagaimana kalau aku dan Kakak sama-sama jadi asisten saja? Sekalian aku bisa belajar darinya."
Alis Arya yang tajam sedikit melembut saat menatap Indrani.
"Kamu baru masuk perusahaan, masih banyak hal yang belum kamu mengerti. Pelan-pelan saja, posisi sekretaris ini hanya untuk melatihmu."
Hati Maya terasa semakin perih.
Ia bisa menangkap makna tersembunyi dari kalimat Arya.
Posisi asisten itu, cepat atau lambat, juga akan menjadi milik Indrani.
Meskipun ada janji di antara dirinya dan Arya, Indrani adalah wanita yang paling dicintai suaminya.
Maya menyembunyikan kepedihan di matanya.
Seorang Arya Pratama yang selalu memegang teguh janjinya pun...
Bisa berubah karena Indrani Yanuar.
Tentu saja Indrani juga mengerti maksudnya. Dengan nada penuh kemenangan, ia berkata, "Kalau begitu, selanjutnya aku minta tolong Kakak untuk membantuku mengenal lingkungan perusahaan, ya."
Kening Maya berkerut. "Hari ini aku masih banyak pekerjaan."
Baru saja penolakannya terucap, ia merasakan tatapan tajam penuh tekanan dari Arya.
"Sebagai bawahan, melaksanakan perintah atasan adalah satu-satunya tugasmu!"
Maya hanya bisa mengangguk pasrah sambil menggertakkan gigi. "Baik."
Ia memungut dokumen yang jatuh di lantai, meletakkannya di meja, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan.
Indrani mengikuti tepat di belakangnya.
Maya pura-pura tidak melihatnya, mulai menjelaskan tata letak departemen di perusahaan.
"Di sini ruang istirahat, di sebelah sana area kerja, dan itu pantry. Peraturan lebih detail ada di grup besar perusahaan."
Indrani menatap kuku-kukunya yang baru di-manikur dengan acuh tak acuh, lalu mengangkat wajahnya menatap Maya dengan sinis. "Kadang aku benar-benar salut padamu. Sudah tahu Arya tidak mencintaimu, tapi masih bisa tidak tahu malu menempel padanya selama ini."
Satu kalimat itu, tepat menusuk di titik terlemah Maya.
Sekarang mereka berada di pantry, tanpa Arya sebagai penonton. Indrani pun menunjukkan sifat aslinya.
Indrani tersenyum miring. "Apa kamu masih belum sadar? Arya sudah memberimu kesempatan untuk menjaga harga dirimu. Cepatlah bercerai, setidaknya kamu masih punya sedikit martabat."
Maya menatapnya dengan tenang. "Kenapa aku harus bercerai? Selama aku tidak menandatangani surat cerai, kamu selamanya hanya akan menjadi orang ketiga. Anakmu pun akan jadi anak haram, sama sepertimu."
Di akhir kalimatnya, Maya membalas hinaan itu dengan telak.
"Aku punya seribu satu cara untuk membuat hidupmu tidak tenang."
Tidak dicintai adalah lukanya.
Anak haram adalah luka Indrani.
Wajah Indrani langsung berubah. Tanpa pikir panjang, ia menyambar cangkir kopi di dekatnya dan menyiramkannya ke arah Maya.
"Jalang! Beraninya kamu menghinaku!"
Reaksi Maya sangat cepat. Tepat saat pergelangan tangan Indrani terangkat, ia mendorong balik tangan itu. Kopi panas itu pun tumpah seluruhnya ke tubuh Indrani sendiri.
Riasan dan pakaian elegannya hancur total.
"Maya Yanuar, apa yang kamu lakukan?!"
Tiba-tiba terdengar bentakan seorang pria dari belakang. Sebelum Maya sempat berbalik, sebuah dorongan kuat menghantamnya.
Ia langsung jatuh ke lantai, tangannya mendarat di atas tumpahan kopi panas.
Rasa sakit yang menyengat membuatnya meringis.
Ia mendongak, menatap Arya Pratama yang berwajah muram. Mata suaminya itu begitu kelam, seolah menyimpan amarah yang siap meledak.
"Aku..."
Belum selesai Maya bicara, Indrani sudah memotongnya dengan isak tangis yang dibuat-buat.
"Arya, ini semua salahku. Aku yang terlalu bodoh, tidak bisa mengerti maksud Asisten Yanuar. Kamu jangan marah padanya, ya."
Arya melangkah cepat ke sisi Indrani, memeriksa keadaannya dengan cermat, baru kemudian menatap Maya dengan dingin.
"Kalau kamu tidak mau membimbingnya, kamu bisa bilang langsung. Tidak perlu menggunakan cara rendahan seperti ini."
Rasa sakit di pergelangan tangannya membuat Maya menarik napas tajam. Ia mencoba menjelaskan, "Dia yang lebih dulu mau menyiram kopi ke arahku."
"Aku punya mata."
Satu kalimat singkat itu membuat wajah Maya semakin pucat pasi.
Melihat punggung Arya yang membawa Indrani pergi, rasa sakit yang menusuk-nusuk kembali menyerbu dadanya.
Bagaimana ia bisa lupa, Arya Pratama tidak pernah memercayainya?
Setelah Arya kembali ke ruang direktur utama, rekan-rekan kerja yang sejak tadi menonton dari jauh segera berlari menghampiri dan membantu Maya berdiri.
Mereka semua tahu betapa gigihnya Maya dalam bekerja, dan karena itu mereka sangat menghormatinya.
"Asisten Yanuar, kamu tidak apa-apa? Pergelangan tanganmu terkilir, ya?"
"Pak Pratama kenapa hari ini? Akting murahan perempuan itu jelas sekali, masa Pak Pratama yang sepintar itu tidak bisa lihat?"
"Mungkin ini yang namanya cinta itu buta, ya?"
Menghadapi tatapan khawatir bercampur gosip dari rekan-rekannya, Maya memijat pergelangan tangannya sambil berusaha tersenyum.
"Tidak apa-apa. Sekarang jam kerja, ayo semuanya kembali bekerja."
Setelah kerumunan bubar, barulah Maya menunduk melihat pergelangan tangannya.
Terkena kopi panas, area sekitar sendinya memerah dan bengkak. Sepertinya memang terkilir.
Ia mengepalkan tangannya dalam diam.
Rekan kerjanya saja peduli dan menanyakan keadaannya.
Tapi suaminya sendiri tidak.
Kondisi pergelangan tangan Maya ternyata lebih parah dari dugaannya. Ia meminta izin dua jam untuk pergi ke rumah sakit.
Saat hendak meninggalkan kantor, Rahman Hartono muncul berjalan santai dikelilingi beberapa orang.
Hari ini ia mengenakan setelan kasual abu-abu muda. Wajahnya tampan, postur tubuhnya tinggi, dan sebuah anting berkilauan terpasang di telinga kanannya, memberinya kesan santai dan sedikit liar.
Melihat Maya Yanuar berjalan ke arahnya, matanya langsung berbinar.
"Maya Yanuar, ini tentang proposal kuartal depan antara Grup Hartono dan Grup Pratama..."
Belum selesai ia bicara, pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Maya yang bengkak. Wajahnya langsung berubah muram.
