Bab [4] Selama Kamu Masih Menjadi Istriku
Maya Yanuar tersenyum tipis, senyuman yang menyiratkan kepahitan di balik ketegarannya.
Dengan gerakan cepat yang hampir tak terlihat, ia menarik ujung lengan bajunya ke bawah, berusaha menutupi luka di pergelangan tangannya.
Ini adalah masalah pribadinya. Entah karena harga diri atau keangkuhan, ia tidak ingin orang lain tahu.
"Tanda tangan kontrak? Sini, berikan padaku."
Ia berpura-pura tenang, mengulurkan tangannya yang tidak terluka untuk menerima dokumen itu.
Namun, Rahman Hartono tidak memberikan dokumen itu. Sepasang mata hitamnya yang tajam menatap lurus ke arah Maya, seolah ingin menembus seluruh pertahanannya.
"Bagaimanapun juga, kamu adalah menantu perempuan pilihan Keluarga Pratama. Ini Grup Pratama, apa ada orang yang sudah bosan hidup sampai berani macam-macam denganmu?"
Nada bicaranya dingin dan berat. Pandangannya perlahan turun dari wajah Maya, lalu berhenti tepat di pergelangan tangannya yang terluka.
Menantu perempuan Keluarga Pratama, memangnya Arya Pratama mengakuinya?
Senyum pahit terukir di bibir Maya Yanuar. Ia hanya diam.
Ada beberapa hal yang terlalu sulit untuk diucapkan.
Seperti luka di dalam hati, sesekali masih terasa nyeri, tapi itu bukan urusan orang lain.
Rahman Hartono adalah orang yang cerdas!
Berita yang tersebar luas di internet tentang Direktur Utama Grup Pratama yang menjemput kekasihnya di bandara tengah malam sudah menjelaskan segalanya.
Satu-satunya orang yang bisa membuat Maya Yanuar mengalah hanyalah Arya Pratama.
"Bagus sekali, ya? Suami bajinganmu itu membawa selingkuhannya masuk ke rumah?"
Nada suaranya terdengar kesal, seolah ikut menahan geram, tatapannya menajam.
Ekspresi di wajah Maya tidak bisa berbohong padanya. Sepertinya wanita ini benar-benar tidak ingin memperpanjang masalah.
Bibir Maya Yanuar kembali terkatup rapat, kukunya nyaris menancap ke telapak tangannya.
"Jangan bilang kamu mau membiarkannya begitu saja. Ini sama sekali bukan gayamu."
Rahman Hartono mendecak kesal karena kecewa. "Kalau memang sudah tidak tahan, lain kali kalau perempuan itu datang, kabari aku. Aku tidak punya sopan santun untuk tidak memukul wanita. Biar aku yang memberinya pelajaran."
"Dia terluka lebih parah dariku!"
Maya Yanuar mengangkat wajahnya, sorot matanya memancarkan keangkuhan yang dingin.
"Aku mau ke rumah sakit sebentar untuk mengobati luka, nanti cepat kembali."
"Aku temani."
Tanpa pikir panjang, Rahman Hartono melempar dokumen di tangannya ke asistennya dan bergegas menyusul Maya.
Mereka pergi ke rumah sakit terdekat dari kantor.
Rahman Hartono menemaninya saat lukanya dibersihkan dan dirawat.
Selain luka bakar, pergelangan kakinya juga sedikit terkilir. Tapi tidak terlalu parah, cukup diolesi salep dan akan membaik dalam beberapa hari.
Rahman Hartono yang mengambilkan obat, membayar tagihan, bolak-balik mengurus semuanya dengan sangat sigap dan penuh perhatian.
Setelah beberapa saat, akhirnya semua urusan selesai.
Wajah Maya Yanuar masih pucat, matanya sedikit bengkak, dan ia terlihat sangat lesu.
Rahman Hartono melirik jam tangannya, sudah hampir tengah hari.
"Makan siang bareng, yuk. Aku yang traktir."
Sejujurnya, Maya Yanuar sama sekali tidak nafsu makan.
"Cuma mau pisah, kan? Bukan kiamat. Makan itu harus. Kalau tidak, bagaimana istrimu ini punya tenaga untuk melawan mereka?"
Dia mengangkat bahu dengan gaya bicaranya yang biasa, sedikit seenaknya dan santai.
Maya Yanuar mengangguk pelan.
Ia tidak ingin menolak kebaikan Rahman, apalagi pria itu sudah menemaninya sibuk seharian.
"Menurutmu, enaknya kita makan di mana, ya?"
Rahman menyebutkan sederet nama restoran terkenal.
Namun, suasana hati Maya Yanuar sedang tidak karuan. "Terserah, di mana saja boleh."
"Terserah? Terserah itu di mana, ya? Coba aku pikirkan baik-baik."
Ia pura-pura mengerutkan kening, memasang wajah seolah sedang berpikir keras.
"Sudah, kamu saja yang tentukan mau di mana," kata Maya, sedikit pasrah.
Tepat pada saat itu, dua orang berjalan dari arah berlawanan. Mereka adalah Arya Pratama dan Indrani Yanuar.
Ternyata, Arya juga membawa Indrani ke rumah sakit ini.
Maya Yanuar terlihat berjalan sangat dekat dengan pria itu, ekspresinya tampak santai, dengan nada pasrah namun penuh kelembutan.
Sebuah ekspresi santai yang belum pernah Arya lihat sebelumnya saat Maya bersamanya.
Wajah Arya Pratama seketika menjadi gelap.
Apa wanita ini sudah tidak sabar? Begitu terburu-buru mencari pengganti?
Atau mungkin... dia sudah merencanakannya sejak lama.
"Loh, Kak Maya juga di sini? Sama siapa itu? Kelihatannya akrab sekali, ya. Sama sekali tidak menghargai Kak Arya. Bagaimanapun juga, Kak Maya kan masih berstatus istri Kak Arya secara hukum. Keluyuran sama laki-laki lain di luar begini, apa tidak keterlaluan?"
Indrani Yanuar menghela napas, lalu melanjutkan, "Aku saja ikut sedih untuk Kak Arya. Benar-benar keterlaluan, kan?"
Api amarah itu seketika tersulut.
Arya Pratama melangkah maju dengan cepat, membentak dengan suara dingin, "Maya Yanuar! Jangan lupakan statusmu! Selama kita belum bercerai, kamu masih bagian dari Keluarga Pratama. Sebaiknya jaga jarak dengan pria lain di luar!"
Maya Yanuar tertegun.
Tidak tahu malu! Dia justru menuduhnya tidak tahu malu!
Ia ingin sekali bertanya balik, apa Arya sendiri punya rasa malu?
Jelas-jelas dirinyalah istri sah Arya Pratama, lalu wanita yang ada di sampingnya itu statusnya apa?
Maya Yanuar menyeringai sinis, "Lalu kamu sendiri? Apa kamu ingat statusmu yang sudah menikah saat meninggalkan istrimu untuk menemani wanita lain ke rumah sakit?"
Arya Pratama mengerutkan kening. "Indrani bukan wanita lain."
"Lagi pula, jelas-jelas kamu yang melukainya, tapi bukannya menyesal, kamu malah tega mengucapkan kata-kata sedingin itu?"
Maya Yanuar ingin tertawa, tapi tidak bisa.
Apa Arya tidak melihat perban yang jelas-jelas membalut tangannya? Atau dia melihatnya, tapi memang tidak peduli?
Ia tidak mau memikirkannya lagi. Toh, mereka akan segera bercerai, apa gunanya semua ini?
Tiba-tiba, Maya Yanuar merasa sedikit lebih lega.
"Tenang saja, surat cerai akan segera kuberikan padamu. Dengan begitu, aku bukan lagi bagian dari Keluarga Pratama, dan apa pun yang kulakukan tidak ada hubungannya denganmu."
Alis Arya Pratama semakin berkerut.
Dia menyetujuinya begitu cepat. Sepertinya dia benar-benar sudah menemukan penggantinya!
Entah kenapa, Arya merasa kesal. Ada perasaan seperti sesuatu yang selama ini ada dalam genggamannya kini lepas dari kendali.
"Aduh!"
Indrani Yanuar tiba-tiba memekik kesakitan, wajahnya tampak menderita.
"Kak Arya, sakit sekali!" rengeknya dengan suara memelas.
Arya akhirnya menemukan alasan untuk melampiaskan amarahnya. Ia berkata dengan suara dingin, "Maya Yanuar, masalah ini bisa tidak kuperpanjang, tapi sekarang kamu harus segera minta maaf pada Indrani!"
Dia memerintahnya dengan nada otoriter, sama seperti saat ia memberikan perintah di kantor.
Hati Maya Yanuar terasa seperti diremas. Ia sedikit menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresinya. "Kalau aku tidak mau minta maaf, apa kamu akan menggunakan cara-cara yang biasa kamu pakai untuk melawan saingan bisnismu padaku?"
Benteng pertahanannya yang kuat hancur seketika. Kerapuhan yang tidak pernah ia tunjukkan kini terlihat jelas.
Di dunia bisnis yang kejam, Asisten Yanuar yang dikenal tegas dan menentukan tidak pernah menunjukkan sedikit pun kelemahan.
Tiba-tiba, hati Arya Pratama terasa tidak nyaman. Tepat saat ia hendak mengatakan sesuatu, tawa sinis terdengar dari samping.
Rahman Hartono seolah mendengar lelucon paling konyol. "Apa? Istri sah disuruh minta maaf sama pelakor? Kamu yang gila atau aku yang gila?"
Sindiran tajam tanpa tedeng aling-aling itu membuat wajah Arya Pratama menjadi dingin.
Maya Yanuar berhasil menenangkan dirinya dan kembali ke sikapnya yang tenang dan terkendali.
"Dia yang melukaiku, seharusnya dia yang minta maaf padaku, kan? Kalau kamu memang begitu peduli padanya, cek saja CCTV."
"Ide bagus. Biar sekalian jelas siapa yang salah. Kalau sengaja melukai orang, itu termasuk tindak pidana, kan?" timpal Rahman Hartono, sambil melirik Indrani Yanuar dengan sengaja.
Indrani Yanuar panik. Wajahnya terlihat jelas sekali gugup.
"Kak Arya, sebenarnya tidak sesakit itu, kok. Lagipula ini tidak sepenuhnya salah Kak Maya, memang aku yang kurang hati-hati. Cuma masalah kecil, tidak usah dibesar-besarkan, ya?"
Ia melirik pergelangan tangan Maya, berpura-pura ikut prihatin. "Kak Maya sepertinya juga terluka. Ini semua salahku."
Ekspresi yang begitu tulus. Aktingnya benar-benar bagus.
Maya Yanuar tersenyum dingin. "Kalau memang tahu salah, kenapa dari tadi kamu tidak menjelaskan?"
Indrani Yanuar memasang wajah lugu dan polos.
"Tadi aku kesakitan sekali, jadi lupa."
Ia menengadah menatap Arya Pratama sambil merajuk, "Kak Arya pasti tidak akan mempermasalahkannya, kan?"
"Kalau begitu, masalah ini kita anggap selesai."
Hanya dengan satu kalimat ringan, masalah itu ditutup. Wajah Arya Pratama tetap dingin dan sikapnya kaku. Namun, saat menatap Indrani Yanuar, sorot matanya sedikit melembut.
Jika Maya Yanuar yang berbuat salah, pasti akan diusut tuntas.
Tapi giliran Indrani Yanuar, masalahnya dianggap selesai.
Arya yang biasanya selalu profesional dan memisahkan urusan pribadi, kini berkali-kali melanggar prinsipnya demi Indrani Yanuar.
Benar kata orang, pilih kasih itu memang tidak adil.
"Ayo kita pergi," kata Maya Yanuar sambil tersenyum tenang.
Rahman Hartono melirik Indrani Yanuar dengan pandangan meremehkan, lalu berjalan mengikuti Maya.
Tepat saat itu, Arya Pratama berseru, "Tunggu!"
Seketika, langkah Maya Yanuar terhenti. Ada sedikit harapan dan kegembiraan tersembunyi di dalam hatinya.
Dia memanggilnya, jangan-jangan...
Namun, kalimat dingin dari belakang punggungnya menghancurkan harapan terakhirnya.
"Jangan lupa surat cerainya!"
