Bab [45] Dia Tidak Layak

Mata sipitnya sedikit terangkat, seulas senyum tipis terukir di bibirnya, ada raut kelegaan di wajahnya.

"Sepertinya hari ini kita benar-benar harus merayakannya dengan minum-minum."

Rahman Hartono mengangkat cangkir kopinya, menyentuhkannya ke cangkir Maya, lalu berkata dengan nada santai.

"Asis...

Masuk dan lanjutkan membaca