Bab [5] Wanita di Puncak Hati

Pada akhirnya, memang hanya Indrani Yanuar wanita yang terukir di relung hati Arya Pratama.

Hanya dengan perceraian, Arya bisa segera menikahinya.

Itulah sebabnya, pria itu tampak begitu tidak sabar.

Lima tahun pernikahan yang susah payah dipertahankan, ternyata tidak ada artinya dibandingkan seulas senyum Indrani Yanuar.

Tanpa sadar, tubuh Maya Yanuar sedikit gemetar, tapi ia tidak menoleh ke belakang.

Suaranya tetap tenang, tanpa gejolak emosi sedikit pun, hanya satu kata yang keluar dari bibirnya, "Baik."

Setelah itu, ia tidak lagi berhenti. Ia melangkah pergi, berjalan berdampingan dengan Rahman Hartono.

Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa enggan? Pergi begitu saja tanpa ragu?

Hati Arya Pratama terasa sedikit hampa.

Apa mungkin dia juga ingin segera mengakhiri pernikahan ini?

Atau... dia benar-benar sudah menemukan jalan keluar untuk dirinya sendiri?

Arya terpaku menatap punggung kedua orang itu yang semakin menjauh, sampai beberapa saat ia tidak bergerak.

"Kak Arya, aku lapar, nih. Kita cari makan, yuk?"

Suara manja Indrani menariknya kembali ke dunia nyata.

Arya Pratama melirik jam tangannya, keningnya sedikit berkerut.

"Aku ada rapat sebentar lagi. Lain kali saja, ya."

Entah kenapa, Arya terlihat sedikit lesu.

Mereka sudah menghabiskan hampir setengah hari di rumah sakit, sementara banyak pekerjaan di kantor yang menumpuk.

Indrani Yanuar mengangguk patuh, bibirnya tersenyum tipis.

"Indrani ikut Kak Arya saja. Kita beli nasi kotak di jalan juga nggak apa-apa, kok. Aku tahu tempat makan yang enak, searah jalan pulang ke kantor."


Maya Yanuar dan Rahman Hartono juga hanya makan siang singkat di jalan, lalu bergegas kembali ke kantor.

Di dalam ruang kerja Maya Yanuar, Rahman Hartono menyerahkan dokumen yang ada di tangannya.

"Ini draf kontrak yang sebelumnya. Kamu mau baca ulang nanti saja?"

Bagaimanapun, Maya baru saja terluka dan suasana hatinya mungkin sedang tidak baik. Kontraknya sudah ada di sini, Rahman tidak terburu-buru untuk meminta tanda tangan.

"Tidak perlu, saya lihat sekarang saja."

Maya Yanuar sama sekali tidak peduli. Ia mengambil kontrak itu dan membacanya lembar demi lembar dengan teliti.

Pekerjaan adalah pekerjaan. Ia tidak pernah membawa masalah pribadi ke dalam urusan kantor.

Jika tidak begitu, perusahaan dengan persaingan seketat Grup Pratama tidak akan membiarkannya bertahan selama enam tahun.

Selama enam tahun, ia mendedikasikan dirinya, mengorbankan hampir seluruh waktu dan tenaganya untuk perusahaan.

Tiba-tiba, ia mengangkat kepala dan menunjuk salah satu kalimat. "Saya rasa bagian ini kurang pas. Perusahaan Anda hanya menyebutkan akan menyediakan barang yang dibutuhkan Grup Pratama 'tepat waktu', tapi tidak ada batasan waktu yang spesifik. Kalau perusahaan Anda tidak memiliki stok barang ini selama setahun, apa kami harus menunggu selama itu?"

Hanya dengan sekali lihat, ia langsung menemukan celah dalam dokumen itu.

Jika kontrak ini disetujui, pihak mereka bisa menunda pengiriman barang sesuka hati, dan Grup Pratama tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jika pasokan terganggu dan produksi perusahaan terhambat, kerugiannya akan sangat besar.

"Menurut saya, bagian ini harus diubah menjadi batas waktu satu bulan. Jika setelah satu bulan perusahaan Anda masih belum bisa mengirimkan barang tepat waktu, maka harus membayar denda tiga kali lipat sesuai aturan."

Rahman Hartono tertawa kecil sambil mengacungkan jempol pada Maya Yanuar. "Maya Yanuar, kamu memang luar biasa! Tanpa kemampuanmu yang sehebat ini, PT Pratama tidak akan bisa sesukses sekarang. Kamu dan Steven Susanto benar-benar duo maut di PT Pratama."

Maya Yanuar tersenyum tipis, lalu mendorong kembali dokumen itu. "Tolong Pak Hartono revisi dulu, baru bawa ke sini lagi."

Ia berpikir sejenak, lalu menambahkan, "Setelah urusan ini selesai, saya pasti akan traktir Pak Hartono makan."

Rahman Hartono membuat gestur 'OK'. "Tidak masalah, pasti akan saya kerjakan sesuai permintaanmu. Tentu saja, bisa makan bareng wanita cantik adalah sebuah kehormatan bagi saya."

Ia bangkit berdiri, mengedipkan sebelah matanya pada Maya Yanuar dengan gaya main-mainnya yang khas.

"Kapan pun si cantik ini butuh bantuan, jangan ragu hubungi saya. Telepon saya dua puluh empat jam aktif untukmu."

Setelah berkata begitu, Rahman Hartono membuka pintu dan pergi.

Ruangan kembali sunyi.

Maya Yanuar mengambil dokumen paling atas dan mulai memasukkan data ke komputer.

Ia baru selesai mengerjakan semua dokumen itu saat hari sudah malam.

Kantor sudah sepi, hanya beberapa karyawan yang masih lembur.

Melihat Maya Yanuar keluar, seseorang menyapa, "Bu Asisten Yanuar, belum pulang?"

Maya Yanuar memijat pelipisnya yang terasa pegal sambil tersenyum. "Saya sudah mau pulang. Kalian?"

Suaranya lembut dan ramah.

Bagi Maya, semua karyawan adalah bagian dari perusahaan, ia menganggap mereka seperti keluarga. Dengan begitu, perusahaan akan memiliki ikatan yang lebih kuat.

Karena itulah, ia memiliki pengaruh yang besar di perusahaan. Arya Pratama hanya membuat keputusan besar, ia tidak pernah peduli dengan urusan manajemen seperti ini.

"Kami masih ada sedikit pekerjaan lagi."

"Semangat, ya!" ujar Maya dengan sopan.

Sering kali, ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah semua yang ia lakukan ini hanya untuk perusahaan? Ataukah lebih banyak untuk Arya Pratama?

Hanya saja, semua pengorbanannya seolah tidak pernah dihargai oleh Arya.

Tiba-tiba, hatinya terasa dingin.

Setelah turun dari lift, Maya Yanuar masuk ke mobilnya dan langsung pulang ke apartemennya.

Ia punya apartemen sendiri, jadi ia tidak perlu tinggal di rumah pernikahan mereka.

Lagipula, ia pikir, saat ini Arya juga tidak ingin ia tinggal di sana.

Terlalu lelah. Setibanya di rumah, ia tidak memikirkan apa-apa lagi. Setelah mandi kilat, ia langsung naik ke tempat tidur.


Beberapa hari berikutnya, Arya Pratama sibuk dengan pekerjaan, sampai-sampai ia hampir lupa soal surat cerai.

Sebagai Direktur Utama perusahaan, pekerjaannya memang sangat banyak.

Maya Yanuar justru bersyukur dengan kesibukan ini. Jika bisa terus ditunda, apakah itu artinya mereka tidak perlu bercerai?

Pikirannya buyar lima hari kemudian. Saat pulang kerja, ia tiba-tiba merasa mual, seolah ada cairan asam yang naik dari perutnya.

Ia bersandar di dinding, mencoba untuk muntah, tapi tidak ada apa pun yang keluar.

Karena sering sibuk dengan urusan kantor dan jadwal makan yang tidak teratur, ia memang sering sakit maag.

Mungkin maagku kambuh lagi? pikirnya.

Tepat saat itu, ponsel di dalam tasnya berdering nyaring.

Rasa mualnya sedikit mereda. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat nama peneleponnya. Ternyata Arya Pratama.

"Kamu di mana?"

Begitu panggilan tersambung, suara Arya langsung terdengar, seolah menunggu satu detik pun adalah buang-buang waktu.

"Di apartemenku."

Ia mengatakannya dengan jelas, sengaja menekankan kata 'apartemenku'.

"Datang ke vila sekarang. Sekalian tanda tangani surat cerainya."

Nada bicaranya mutlak, bukan meminta, melainkan memberi perintah.

"Aku tahu."

Jawaban Maya terdengar datar, lalu ia langsung menutup telepon.

Akhirnya, pria itu punya waktu juga.

Hari ini semuanya akan berakhir, kan?

Jantungnya terasa seperti diremas, tapi apa yang harus dihadapi, tetap harus dihadapi.

Ia bangkit, membuka pintu, dan pergi.

Tak lama kemudian, ia tiba di vila.

Vila ini adalah rumah pernikahan mereka, tempat mereka menghabiskan lima tahun bersama.

Saat ia masuk, Arya Pratama sudah duduk tegak di sana.

Maya berjalan mendekat, dan sekilas matanya menangkap beberapa lembar surat cerai yang tergeletak di bawah meja.

Tulisan besar 'SURAT PERCERAIAN' terasa begitu menyakitkan mata.

Ia duduk di seberang Arya, baru saja hendak mengambil surat itu untuk ditandatangani, ketika suara dingin Arya terdengar.

"Lusa ulang tahun Kakek. Kita pergi cari kado bersama."

Karena sibuk bekerja, Maya hampir lupa kalau lusa adalah hari ulang tahun Kakek.

Kakek dari keluarga Pratama selalu baik padanya dan sangat menyayanginya. Setiap tahun, hadiah untuk Kakek selalu ia yang memilihkan.

Maya Yanuar mengangguk. "Boleh."

"Kamu harus menemaniku seperti biasa. Aku tidak mau Kakek tahu soal perceraian kita untuk sekarang. Beliau sudah tua, aku tidak mau membuatnya syok."

"Tidak masalah."

Jawabannya cepat dan tanpa bantahan.

Entah kenapa, ada sedikit rasa lega di hatinya.

Kalau lusa adalah pesta ulang tahun Kakek, setidaknya surat cerai ini tidak perlu ditandatangani hari ini, kan?

Melihat Arya tidak berkata apa-apa lagi, Maya bangkit berdiri. "Ada hal lain?"

Saat itu, Arya Pratama menarik surat cerai itu dan meletakkannya di atas meja.

"Kamu lupa tujuanmu datang ke sini?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya