Bab [7] Apakah Kamu Suka?
Mata hitam Maya Yanuar menatapnya, setenang permukaan air danau.
“Apa kamu benar-benar mau membawanya ke pesta ulang tahun Kakek? Kamu tahu sendiri sifat Kakek.”
Ia tidak menyalahkan keputusan Arya, hanya mengingatkannya.
Tentu saja Arya Pratama paham. Kakek tidak menyukai Indrani Yanuar.
“Seorang anak haram, mana pantas masuk ke rumah keluarga Pratama?”
Itulah kata-kata Kakek dulu.
Lagi pula, bagaimana mungkin Indrani bisa dibandingkan dengan Maya Yanuar? Baik dari segi penampilan, kepribadian, maupun kemampuan, tidak ada satu pun yang bisa menandingi Maya.
Maya Yanuar adalah menantu yang paling ideal untuk keluarga Pratama.
Lusa adalah pesta ulang tahun Kakek. Jika Arya terang-terangan membawa Indrani, Kakek pasti akan marah. Kalau sampai terjadi keributan, situasinya akan jadi runyam.
Ini memang masalah yang merepotkan.
Kening Arya Pratama sedikit berkerut. Saat ia sedang berpikir, ponselnya kembali berdering.
Melihat nama si penelepon, sebersit kelembutan terpancar di matanya.
Ia mengangkat telepon itu tanpa memedulikan perasaan Maya.
Toh, mereka akan segera bercerai. Dengan siapa pun Arya menelepon, itu bukan lagi urusannya.
Bahkan jika Arya membawa wanita lain pulang, apa yang bisa Maya lakukan?
“Indrani!” panggilnya dengan suara rendah.
Benar saja, telepon itu darinya. Indrani masih belum mau menyerah, ya?
Dia begitu ingin masuk ke dalam keluarga Pratama, dan ini adalah kesempatan yang sangat bagus.
“Aku tahu, tapi kamu juga tahu sifat Kakek. Sekarang bukan waktu yang tepat. Aku janji, nanti aku pasti akan membawamu pulang. Sudah, ya…”
Arya menenangkan Indrani dengan suara lembut, lalu langsung berjalan ke lantai atas.
Saat pergi, sudut matanya bahkan tidak melirik Maya sedikit pun, seolah-olah Maya hanyalah udara, tak kasat mata.
Maya meringkuk di sofa, seakan ingin menyembunyikan dirinya di sana.
Mendengar suara lembut Arya, sekujur tubuhnya justru terasa dingin membeku.
Itu adalah suara penuh kasih sayang yang hanya Arya berikan untuk Indrani, bukan untuknya, istrinya sendiri.
Melihat punggung Arya yang perlahan menjauh, hati Maya terasa diremas-remas.
Ya, sudahlah. Mereka akan segera bercerai, apa lagi yang bisa ia harapkan?
Ia bangkit dan perlahan kembali ke kamar tidur.
Pemandangan yang familier menyambutnya. Ranjang besar yang hangat, foto dirinya yang masih terpajang di nakas, semuanya masih sama seperti dulu.
Maya tersenyum pahit, lalu mengambil gaun tidur dari lemari dan berganti pakaian.
Tepat pada saat itu, pintu kamar didorong terbuka.
Arya Pratama selesai menelepon di ruang kerja dan langsung datang ke sini.
Melihatnya, Maya sedikit terkejut, tetapi raut wajahnya tetap datar.
“Kalau kamu mau tidur di sini, aku akan tidur di kamar tamu.”
Ucapannya terdengar tenang.
Bagaimanapun, mereka akan segera bercerai. Tidak pantas lagi tidur bersama.
Ia menunduk, mencoba melewatinya.
Namun, tiba-tiba Arya menarik lengannya.
Tanpa sempat bersiap, Maya ditarik ke dalam pelukannya dan diimpitkan dengan kuat ke dinding.
Arya lebih tinggi darinya, menatapnya dari atas dengan sepasang mata hitam yang berkilat penuh hasrat.
Maya tahu apa arti tatapan itu.
“Lepaskan aku!”
Maya berusaha keras mendorongnya, tetapi Arya justru memeluknya semakin erat.
Tubuhnya menegang sejenak.
“Pak Pratama!”
Ia sengaja menggunakan panggilan formal itu, berharap bisa menyadarkan Arya.
“Kita akan segera bercerai. Saya harap Anda bisa menjaga sikap.”
Di satu sisi Arya terus mendesak untuk bercerai, di sisi lain ia bersikap kurang ajar seperti ini. Dianggap apa dirinya?
Jika hanya untuk melampiaskan nafsu, Arya bisa mencari wanita lain.
“Kita kan belum resmi cerai. Selama kamu masih istriku, aku berhak menjalankan kewajibanku sebagai suami.”
Ucapannya terdengar begitu angkuh dan superior.
Di hadapan Maya, Arya memang selalu seperti itu. Seenaknya sendiri, melakukan apa pun yang ia mau.
Dengan paksa, Arya mengangkat dagunya. Bibir tipisnya terkatup, perlahan mendekat.
“Arya…”
Hanya satu kata itu yang sempat keluar dari bibir merah mudanya sebelum dibungkam oleh bibir Arya.
Ciumannya kasar, menyapu ganas seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Maya sedikit terbuai, tanpa sadar memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, barulah Arya melepaskan bibirnya, tetapi terus bergerak turun, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di leher jenjangnya yang putih.
Bulu matanya bergetar. Tubuhnya yang semula kaku perlahan melunak.
Arya merasakan perubahan pada tubuh Maya. Tangannya menjadi semakin liar, mendarat di dadanya dan meremasnya dengan kuat.
Wajah Maya tampak mabuk kepayang, desahan lirih tanpa sadar keluar dari bibirnya.
Lima tahun. Mereka sudah sering melakukannya. Arya sangat mengenal tubuhnya, ia tahu persis bagaimana cara membuatnya terangsang.
“Suka?”
“Suka!”
Pipi Maya memerah, suaranya terdengar seperti orang mabuk.
Arya menanggalkan gaun tidurnya, lalu mengambil kesempatan untuk memasuki tubuhnya.
Di bawah serangan ganasnya, Maya akhirnya melepaskan seluruh pertahanannya.
Ia menyambut Arya, desahannya terdengar semakin menggoda.
Tiba-tiba, Arya Pratama berhenti.
Maya yang masih memejamkan mata tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi suara Arya yang dingin dan sinis terdengar jelas di telinganya.
“Kamu tidak pernah bisa menolakku. Apa Rahman Hartono pernah melihatmu bernafsu seperti ini?”
Bagaikan seember air es yang disiramkan ke kepalanya.
Tubuh Maya seketika menegang.
Sontak ia membuka matanya, gairah di dalamnya lenyap tak bersisa.
Tentu saja ia mengerti nada sarkasme dalam ucapan Arya.
Tapi, apa Arya tidak mengerti? Ia seperti ini karena ia mencintainya.
Apa Arya benar-benar berpikir ia akan bergairah seperti ini pada pria mana pun?
Lalu, dianggap apa dirinya?
Di mata Arya, siapa sebenarnya dirinya?
Maya mendorong Arya dengan sekuat tenaga.
“Marah? Sepertinya kalian memang sudah tidur bersama, ya? Dia sudah sering melihatmu seperti ini?”
Seluruh tubuh Maya gemetar.
“Arya Pratama, kamu brengsek!”
Dengan marah, ia berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.
Bersandar di pintu, tubuhnya luruh ke lantai.
Ia berjongkok, memeluk kepalanya dengan kedua tangan. Air mata penuh kepedihan dan rasa malu mengalir di pipinya.
Bagaimana bisa Arya mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan?
Ternyata di matanya, Maya begitu murahan!
Ya, sudahlah. Indrani Yanuar adalah wanita pujaan hatinya.
Setelah emosinya sedikit lebih tenang, Maya bangkit dan menyalakan keran, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, lagi dan lagi.
Gairah mereka barusan bukanlah cinta, melainkan penghinaan!
Ia ingin membersihkan semua itu.
Terdengar suara Arya Pratama dari luar pintu, “Kenapa? Begitu nama Rahman Hartono disebut, kamu langsung marah? Sepertinya tebakanku benar.”
Emosi yang meledak-ledak kembali menyelimutinya. Dengan suara serak karena tangis, ia berkata, “Apa aku pernah tidur dengan Rahman Hartono atau tidak, hatimu tahu yang sebenarnya. Kamu tahu aku mencintaimu, makanya kamu bisa begitu seenaknya, menyakitiku lagi dan lagi.”
Arya Pratama terdiam.
Maya benar. Kapan ia punya waktu untuk melakukan hal semacam itu dengan Rahman Hartono?
Setiap hari, kalau tidak sibuk bekerja, ia pulang untuk mengurusnya. Sama sekali tidak ada waktu untuk yang lain.
Secercah rasa bersalah menyelinap di hatinya.
Arya mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar mandi.
Maya meringkuk di sudut, tubuhnya gemetar, matanya sembap karena air mata.
“Maaf, aku minum sedikit tadi, jadi tindakanku agak keterlaluan.”
Ia mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Maya dengan gerakan yang lembut.
“Aku gendong kamu kembali, ya.”
Dengan perlahan, ia mengangkat tubuh Maya, membaringkannya kembali ke ranjang, lalu dengan perhatian menyelimutinya.
Setelah melakukan semua itu, barulah ia mematikan lampu dan berbalik pergi.
Dalam kegelapan malam, mata Maya terbuka lebar, pikirannya kembali ke kejadian tadi.
Jarang sekali Arya bersikap selembut itu padanya.
Ia selalu merindukan kehangatan dari Arya.
Tetapi sekarang, ia lebih suka Arya bersikap dingin padanya. Dengan begitu, saat ia pergi nanti, hatinya tidak akan sesakit ini.
Sesuatu yang tidak diselesaikan dengan tuntas hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
