Bab [8] Perasaan yang Dicuri Tidak Diinginkan
Saat Maya Yanuar membuka mata, hari sudah terang.
Ia mendapati dirinya meringkuk di sudut ranjang. Ranjang yang begitu besar terasa sangat kosong dan lapang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ranjang ini benar-benar terlalu besar. Begitu besar hingga hatinya terasa hampa.
Suasana begitu sunyi, tak ada suara apa pun yang terdengar.
Ia teringat kejadian semalam. Arya Pratama pergi saat hari sudah sangat larut. Entah di mana pria itu tidur.
Kamar tamu atau ruang kerja?
Mungkin di ruang kerja, pikirnya. Dulu, setiap kali Arya sibuk bekerja sampai larut, ia juga selalu tidur di sana.
Tepat pada saat itu, ponselnya berdering pelan, suara notifikasi pesan masuk.
Sambil membalikkan badan, ia meraih ponsel di atas meja nakas dan membukanya. Sebuah foto dari Indrani Yanuar.
Foto itu menunjukkan dua tangan yang saling bertautan erat.
Ia bisa mengenali salah satunya adalah tangan perempuan, dan yang satu lagi tangan laki-laki.
Tangan laki-laki itu memiliki buku-buku jari yang tegas dan menonjol. Jelas sekali itu tangan Arya Pratama.
--【Aku bahagia sekali. Aku dan Kak Arya melewati malam yang indah bersama.】
Hati Maya Yanuar terasa perih, disusul gelombang rasa mual yang naik ke tenggorokannya.
Semalam, Arya jelas-jelas tidur dengannya.
Tapi setelah itu, pria itu malah pergi menemui Indrani Yanuar.
Bagaimana bisa dia menghadapi dua perempuan dalam waktu yang bersamaan?
--【Kamu tahu tidak, sebenarnya aku dan Kak Arya yang lebih dulu kenal. Tapi Kak Arya tidak mau aku menikah muda, dia takut aku menanggung banyak tekanan, makanya dia mengirimku kuliah ke luar negeri. Ini juga salah satu cara Kak Arya menjagaku dan melindungiku.】
Pesan dari Indrani datang lagi.
Maya Yanuar tersenyum dingin.
Setiap kata terasa seperti jarum yang menusuknya, membuatnya sakit luar biasa.
Ia tahu, di dalam hati Arya Pratama ada seorang "Cinta Monokrom". Sosok yang tak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun.
Arya pernah berkata padanya, "Maya, aku hanya mencintai satu perempuan, dan perempuan itu bukan kamu. Kami sudah saling kenal sejak lama, dan dia selalu ada di hatiku. Seumur hidupku, aku hanya akan mencintainya."
Ternyata, perempuan yang dimaksud Arya benar-benar Indrani Yanuar.
--【Kamu sadar tidak kalau kamu itu pencuri? Saat aku di luar negeri, kamu mencuri lima tahun pernikahanku. Sekarang, sudah saatnya kamu kembalikan.】
Ternyata, dari awal hingga akhir, semua ini hanyalah angan-angannya seorang diri.
Hanya dia yang mencintai Arya Pratama. Sedangkan Arya tidak pernah sekalipun mencintainya.
Itulah mengapa, hanya saat bersama Indrani, Arya bisa begitu perhatian dan lembut.
Di mata dan hatinya, hanya ada Indrani Yanuar.
Sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, ia tidak menginginkannya lagi.
Ia tidak membalas pesan Indrani. Tidak ada gunanya juga.
Jika tujuan Indrani hanya untuk membuatnya marah dan terhina, maka Indrani sudah berhasil.
Ia meletakkan ponselnya, beranjak dari tempat tidur, lalu membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum turun ke lantai bawah.
Di bawah, Bu Wati sudah menyiapkan sarapan.
Di meja makan yang besar itu, hanya ada dirinya seorang.
Bu Wati menyajikan sarapan, lalu melirik ke arah tangga. "Apa Pak Pratama mau sarapan bersama?" tanyanya.
"Tidak perlu, dia sudah pergi," jawab Maya datar.
Bu Wati terkejut. "Pagi sekali ke kantor? Kasihan sekali Pak Pratama, sampai tidak sempat sarapan."
Maya yang sedang mengangkat cangkir untuk minum susu tiba-tiba tersedak dan terbatuk-batuk.
Bu Wati buru-buru menepuk-nepuk punggungnya. "Nyonya, pelan-pelan. Kenapa sampai tersedak?"
Wajah Maya memerah karena batuk.
Arya Pratama memang sangat sibuk. Tapi bukan sibuk mengurus perusahaan, melainkan sibuk menemani Indrani.
Benar-benar merepotkan pria itu, harus bergegas pergi menemuinya selarut itu.
Bu Wati kembali dengan segelas susu baru, menggantikan susu yang tadi.
"Nyonya, akhir-akhir ini wajah Nyonya pucat sekali. Harus lebih perhatikan kesehatan, ya."
Ekspresi Maya tetap datar, nada bicaranya biasa saja. "Bu Wati, mulai sekarang, Ibu tidak perlu memanggil saya Nyonya Pratama lagi."
Bu Wati tertegun sejenak, masih tidak mengerti maksud perkataannya.
Kalau tidak dipanggil Nyonya Pratama, lalu apa? Bukankah dia istri Pak Pratama?
Maya perlahan memakan sepotong telur mata sapinya, matanya sedikit menunduk. "Kami akan segera bercerai."
Bu Wati yang sedang memegang gelas susu begitu terkejut hingga tangannya lemas. Gelas itu jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping dan susunya tumpah ke mana-mana.
"Maaf, Nyonya."
Bu Wati buru-buru memunguti pecahan gelas, lalu mengambil kain pel untuk membersihkan lantai.
"Sudah lima tahun, hubungan Bapak dan Nyonya baru saja membaik. Kenapa harus bercerai?" Bu Wati menghela napas panjang, terdengar sangat menyayangkan. "Nyonya sudah mengurus rumah ini bertahun-tahun, kalau berpisah begini, saya saja merasa sayang sekali."
Sejak mereka menikah, Bu Wati sudah bekerja di sini.
Sebagai istri Pak Pratama, Maya adalah orang yang lembut, sangat peduli pada para pekerja di rumah, dan tidak pernah sekalipun membentaknya. Terhadap Pak Pratama, perhatiannya bahkan lebih dari seratus persen.
Orang sebaik ini, jika harus meninggalkan keluarga Pratama, Bu Wati pun merasa berat hati.
"Tidak ada masalah besar, kan? Seharusnya Pak Pratama bisa membujuk Nyonya."
Bu Wati yakin, perpisahan ini pasti diajukan oleh Maya. Bagaimanapun, Tuan Pratama memang terasa agak dingin pada istrinya.
Maya tersenyum getir. "Dia yang mengajukan cerai."
Bu Wati kembali terdiam membisu.
Kali ini, ia benar-benar tidak bisa mengerti.
"Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Lima tahun ini, rasanya seperti waktu yang aku curi. Sudah saatnya aku kembalikan," ucap Maya dengan suara berat. Dengan ekspresi muram, ia bangkit dari kursi dan meninggalkan vila.
Kebetulan sekali, setibanya di kantor, saat hendak masuk lift, Maya melihat Arya Pratama. Pria itu juga sedang menunggu lift.
Ia hanya meliriknya sekilas, lalu menyapa dengan dingin, "Pagi, Pak Pratama."
Arya hanya mengangguk sekilas sebagai balasan.
Sepertinya Maya masih marah karena kejadian semalam. Arya sadar, tindakannya memang sedikit keterlaluan.
"Aku sudah siapkan gaun untukmu. Nanti coba di ruang istirahat. Kalau tidak pas masih bisa diperbaiki, jadi tidak akan mengganggu acaramu besok," kata Arya.
"Saya mengerti."
Pandangan Maya lurus ke depan, sama sekali tidak menatapnya.
Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersamaan, tapi tak ada lagi percakapan di antara keduanya.
Apa yang perlu dikatakan sudah dikatakan. Apa yang tidak perlu, lebih baik tidak usah diucapkan.
Setibanya di ruang kerjanya, Maya benar-benar melihat sebuah kotak gaun di atas mejanya.
Tanpa melihat isinya, ia langsung membawa kotak itu ke ruang istirahat.
Saat mendorong pintu ruang istirahat dan duduk di kursi, ia tiba-tiba terpaku.
Ia teringat, dulu ia dan Arya pernah bercinta di sini.
Waktu itu, ia berhasil mendapatkan proyek penting untuk perusahaan, dan Arya menghadiahinya sebotol anggur.
Mereka minum bersama di kantor, dan setelah mabuk, mereka bercinta dengan panas di ruangan ini selama satu jam.
Arya menciumnya dengan penuh gairah, gerakannya pun sangat intens. Pinggang belakangnya bahkan sampai memar karenanya.
Baginya, pengalaman itu terasa begitu luar biasa. Tapi setelahnya, Arya malah menuduhnya sengaja merayunya, dan mendiamkannya selama sebulan penuh.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Apa seorang istri perlu merayu suaminya sendiri?
Bagi suami istri, bercinta berapa kali pun dan di mana pun adalah hal yang normal.
Tapi sudahlah, di masa depan, ia tidak akan merayunya lagi, apalagi bercinta di sini.
Maya menghela napas panjang, lalu membuka kotak gaun itu. Di dalamnya ada sebuah gaun berwarna putih.
Ia mengenakan gaun itu dan melangkah keluar.
Harus diakui, gaun ini sangat pas di tubuhnya. Ditambah lagi, ia memang sudah cantik dari sananya, dan warna putih membuatnya tampak semakin anggun.
"Ini gaun pilihan Kak Arya, kan?"
Entah sejak kapan, Indrani sudah ada di sana dan berkomentar dengan nada ceria.
Anehnya, Indrani juga mengenakan gaun putih, dengan model yang sangat mirip dengan yang ia pakai.
"Kak Arya tahu aku suka warna putih, jadi setiap kali memilihkan baju, dia pasti akan pilih warna putih."
Wajah Maya seketika menjadi dingin.
Selama ini ia mengira Arya yang menyukai warna putih. Ternyata bukan dia, melainkan Indrani.
Tiba-tiba, ia merasa dirinya benar-benar konyol.
Ia kembali masuk ke ruang istirahat, mengganti gaunnya, lalu membawa kotak itu ke kantor Arya Pratama.
"Gaun ini saya kembalikan. Saya mau pilih sendiri!"
