Bab 2

“Dia di dalam, lagi tidur,” jawab Nana.

“Ambil dia,” perintah pria itu.

Jantungku seperti jatuh.

“Kapan aku dibayar?” tanya Nana.

Apa? Nana?

“Kau dibayar setelah kita dapat yang kita mau. Ayahnya nggak ada gunanya buat kita. Bos maunya anak perempuan itu, jadi ambil jalang kecil itu.” Pria itu menggeram.

Teror menerjangku. Refleks telapak tanganku menutup mulut, langkahku mundur goyah—tapi kakiku menyenggol sesuatu hingga berbunyi.

Aku meremang dalam ketakutan yang telanjang.

“Nak?” Suara Nana terdengar, disusul lebih dari satu langkah kaki yang mendekat.

Aku merengek pelan, memaksa tubuhku berdiri, lalu lari secepat yang kaki lemahku sanggup menuju hal pertama yang ditangkap naluri.

Jendela.

Aku memanjatnya, bersiap meloncat turun.

“Hei!” terdengar suara lain, dan sebuah tangan mencengkeram pergelangan kakiku.

Jantungku amblas.

Aku menjerit, terpelanting dari jendela dan jatuh menghantam tanah. Aku tidak tinggal diam. Aku segera bangkit dan berlari menerobos pepohonan.

“Hei! Berhenti!”

“Kejar!” teriak suara lain.

“Jangan sampai lepas jalang itu!”

Aku terisak dan merengek sambil lari menyelamatkan nyawa, napasku tersengal, melewati pohon demi pohon. Aku merasakan mereka semakin dekat.

Aku bahkan tak bisa menghitung ada berapa, tapi mereka benar-benar mengejarku.

Aku seperti sudah tak bisa merasakan detak jantungku sendiri.

Aku bahkan tak tahu aku lari ke mana.

Jerit lepas dari mulutku saat aku tersungkur, lututku tergores dan nyeri.

Aku meringis menahan sakit yang menusuk, menoleh ke belakang. Sorot senter bergerak mendekat.

“Jangan sampai lepas!”

Aku bangkit lagi dan terus berlari. Terengah dan merengek tanpa henti, berlari seperti orang kehilangan arah.

Pembunuh orang tuaku mau membunuhku.

Orang tuaku belum cukup buat mereka.

Nana....

Aku tidak percaya dia ada di balik semua ini.

Aku terus berlari sampai kakiku membawaku ke sebuah jalur, dan sebuah mobil melaju kencang mendekat—lampunya menyilaukan, menyerang mataku.

Aku tersentak, mengira akan ditabrak, tapi mobil itu berhenti—hanya sejengkal dari kakiku.

Aku mengembuskan napas, masih berdiri, menggigil seperti belum pernah.

“Apa-apaan ini?!” suara laki-laki asing dari dalam mobil.

“Kamu buta, ya?!” hardik suara laki-laki lain.

“Evelyn?”

Aku membeku saat mendengar suara yang kukenal.

Aku menoleh ke kursi penumpang dan melihat seorang cowok yang kukenal dari kampus—yang selama ini sering mendekatiku—menjulurkan kepala keluar, menatapku dengan wajah terkejut.

“Di sana!” Para pengejarku semakin dekat, membuatku menoleh ke arah mereka. Senter mereka sudah keluar dari pepohonan.

Aku menatap cowok itu. Sekarang dia sudah keluar dari mobil, wajahnya penuh cemas.

“Evelyn...”

Aku langsung lari ke arahnya.

“Tolong aku... tolong. Mereka mau bunuh aku,” ucapku gemetar. Dia memegangku sementara matanya mengarah ke para pria yang mendekat.

“Kita harus pergi, tolong.....”

Dia tidak berkata apa-apa, hanya menggeserku ke belakang tubuhnya, melindungiku, saat dua cowok lain turun dari mobil.

“Mereka orang bersenjata, Mario,” kata salah satu dari mereka pada cowok kampus itu—mengingatkanku pada namanya.

Mario mengeluarkan sesuatu yang bentuknya seperti pistol, membuat jantungku jatuh lagi.

Dia mengokangnya. Aku mendengar dua yang lain juga mengokang senjata mereka, lalu mereka melangkah ke depan mobil.

Mereka mau ngapain?

“Masuk mobil,” kata Mario.

“Apa...?”

Dia membuka pintu kursi belakang untukku, mendesak agar aku masuk.

Aku masuk. Dia menutup pintu setelahku. Jantungku menghantam-hantam saat aku menatap mereka dari dalam.

Hal berikutnya membuatku tersentak. Para pengejarku mengangkat senjata dan membidik Mario serta teman-temannya, tapi Mario dan mereka lebih cepat—mereka menembak lebih dulu.

Aku menjerit, menutup mata dan telinga dengan kedua tangan saat rentetan tembakan terus meletus.

Suara mengerikan itu berhenti. Aku perlahan membuka mata dan menatap keluar. Mario berjalan mendekati tubuh para pengejar yang sudah tergeletak.

Aku melihat Mario menembaki tubuh-tubuh itu tiga kali lagi, membuat ketakutanku membeku. Pikiranku berputar tentang siapa Mario sebenarnya.

Jantungku berdegup liar.

Mereka gangster?

Mario dan teman-temannya kembali ke mobil sambil menyelipkan pistol ke saku belakang celana. Aku gelisah di kursi. Dua temannya masuk ke kursi depan. Mario membuka pintu belakang tempat aku duduk, membuat tubuhku kembali menggigil saat dia ikut masuk dan menutup pintu.

Seluruh tubuhku melemas oleh kenyataan bahwa aku baru saja jatuh ke tangan yang salah.

Mario menatapku.

Napasanku tercekat.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya, menatapku dengan wajah penuh cemas.

Aku tidak menjawab. Aku hanya terus menatapnya.

Alisnya berkerut tipis.

“Kita ke mana sekarang, Mario?” tanya temannya yang duduk di kursi sopir.

“Bawa kita pulang,” perintah Mario.

Temannya menyalakan mesin dan memutar setir. Mobil melaju menuju tempat yang dia sebut rumah.

Di titik ini, aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa.

Haruskah aku berteriak?

Sudah larut, jalanan sepi. Tidak ada yang akan mendengarku atau menyelamatkanku dari mereka.

Tapi mereka benar-benar menyelamatkanku dari orang-orang jahat itu. Mungkin mereka tidak seburuk itu.

Lalu kenapa mereka punya senjata?

Degup di dadaku mulai mereda, tapi pikiranku masih kacau.

“Evelyn,” panggil Mario, membuat jantungku seperti melonjak.

Aku menatapnya.

“Siapa mereka? Kenapa mereka mengejarmu?” tanyanya.

“Aku… nggak tahu,” gagapku, menunduk saat bayangan orang tuaku menyelusup.

“Siapa pun mereka… mereka membunuh orang tuaku,” suaraku nyaris pecah.

“Mereka membakar rumah kami dan mengejarku,” isakku.

Mario menggenggam tanganku, membuatku menoleh padanya sesaat. Wajahnya tampak benar-benar khawatir.

“Aku turut menyesal atas semua yang terjadi. Tapi sekarang kamu aman. Aku janji, nggak akan ada apa-apa yang terjadi sama kamu,” katanya, membuatku kembali menatapnya.

“Kamu aman. Percaya sama aku,” tegasnya.

Mataku sempat bergeser ke teman-temannya, lalu kembali ke Mario.

“Kalian ini siapa?” tanyaku.

Wajahnya berkedut.

“Ken… kenapa kalian semua bawa pistol?”

“Aku, uh…” Dia berhenti, lalu mengusap rambutku pelan. “Kamu nggak perlu takut, Evelyn. Kita nggak akan nyakitin kamu. Aku nggak akan pernah sanggup nyakitin kamu,” katanya, menatap tepat ke mataku.

“Itu Lucas dan Manuel,” lanjutnya, mengisyaratkan ke arah teman-temannya.

“Mereka teman yang paling aku percaya dan paling setia. Kalau kamu nggak keberatan, kita bawa kamu pulang dulu biar kamu bisa mandi dan ganti baju,” ucapnya, matanya turun menilai pakaianku.

“Kamu perlu menenangkan diri. Kamu kelihatan trauma. Aku nggak tahu kamu sudah lari dari kapan, tapi aku bisa lihat kamu lagi ngerasain apa sekarang. Kamu butuh istirahat.”

Aku menatap paha sendiri, masih tidak tenang.

“Lucas, kamu harus ngebut,” kata Mario pada sopir itu.

“Aku udah usaha,” jawab Lucas.

“Kamu yakin soal ini, Mario?” tanya yang satunya. “Nggak bakal bikin kita kena masalah?”

“Aku bakal pastiin nggak,” jawab Mario, membuatku menatapnya lagi.

“Kamu aman sama aku, ya?” dia meyakinkan.

Aku mengangguk kecil saat ia mengusap buku-buku jariku dengan ibu jari.

Aku masih penasaran kenapa mereka semua bawa senjata.

Mereka membunuh para lelaki itu tanpa ragu.

Mario terlihat baik di sekolah, tapi setelah melihatnya membunuh orang-orang itu, dia terasa berbeda bagiku sekarang.

Cara bicaranya pada teman-temannya penuh kuasa. Itu membuatku bertanya-tanya, mereka benar-benar teman… atau anak buah?

Aku bingung.

Dan paranoid.

Tapi aku tidak punya pilihan selain diam. Setakut apa pun aku berada di sekitar mereka sekarang, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain percaya.

Aku cuma berharap aku tidak jatuh ke bahaya yang lain.

Aku bahkan belum pulih dari trauma yang Nana buat. Aku tidak percaya dia bersekongkol dengan pembunuh orang tuaku.

Tidak masuk akal.

Dia seperti keluarga buat kami. Dia seperti ibu buatku.

Dia sudah bersama kami sejak aku kecil. Kami baik padanya. Kenapa dia melakukan ini pada kami?

Dia membiarkan orang tuaku dibunuh, dan nyaris menyerahkanku pada para pembunuh itu. Rasanya benar-benar menghancurkan.

Ada usapan di buku-buku jariku, membuatku menatap Mario dengan mata basah.

Aku menunduk lagi, dadaku mengencang saat memikirkan orang tuaku.

Tuhan, ini mengerikan.


Mataku terpaku pada sebuah mansion raksasa begitu aku turun dari mobil. Mansion putih yang sangat besar, diterangi lampu-lampu yang membuatnya tampak menyala di kegelapan.

Hampir lebih besar dari rumah kami yang sudah jadi abu. Dadaku mengencang mengingat tragedi yang kulihat.

“Evelyn,” panggil Mario, menarik perhatianku. Ia mengulurkan tangannya.

Aku menyeka air mata yang terus mengalir, lalu meraih tangannya.

“Selamat datang di rumahku,” katanya sambil tersenyum.

“Cantik sekali,” ucapku.

“Makasih,” katanya, menuntunku menaiki tangga lebar menuju pintu masuk mansion. Teman-temannya mengikuti di belakang kami.

“Eum… soal yang kamu tanyakan, Evelyn,” kata Mario, berhenti mendadak hingga aku menatapnya.

“Kami bawa senjata karena kami orang mafia.”

Aku membeku.

Dia mengangguk.

Dia… dia barusan bilang orang mafia?

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya