Bab [132] Serangan Kritis

Malam kian larut.

Arya Jaya duduk di sofa, kakinya bersilang dengan anggun. Tangannya memegang sebuah majalah gaya hidup, namun huruf-huruf di halaman itu seolah memiliki sayap.

Sama sekali tidak masuk ke dalam otaknya.

Telinganya hanya menangkap suara gemericik air yang konstan.

Sari Wijaya ada...

Masuk dan lanjutkan membaca