Bab 1

Lorong kelab malam yang remang-remang itu tampak kacau. Seorang perempuan muda, dengan wajah pucat pasi ketakutan, bergegas menerobos kerumunan orang yang bergoyang mengikuti dentuman musik. Dua pria berbadan tegap mengikutinya dari belakang, tetapi ketika mereka berbelok di tikungan, perempuan itu sudah menghilang.

Jantung Amalia Maharani berdegup kencang seperti genderang saat ia menempelkan telinganya ke pintu, mendengarkan dengan saksama setiap suara dari luar.

"Siapa di sana?" Terdengar suara pria dari dalam ruangan.

Amalia berbalik dan terkesiap melihat seorang pria tanpa busana, tubuhnya masih basah kuyup, dengan postur yang sangat atletis.

Wira Kusuma sama sekali tidak repot-repot menutupi tubuhnya saat ia berjalan mendekat. Tatapannya tajam dan nada suaranya mengancam. Ia bertanya, "Siapa yang ngirim kamu?"

Tiba-tiba, terdengar ketukan keras di pintu.

Amalia menahan napas, matanya tertuju pada Wira, takut pria itu akan membongkar keberadaannya.

Tepat ketika ketegangan memuncak, Wira melangkah lebih dekat, tangannya bergerak ke arah gagang pintu. Dalam keputusasaan, Amalia mengalungkan lengannya ke leher pria itu dan langsung menciumnya.

Wira terpaku, aroma segar tubuh perempuan itu menyerbak di indranya. Mata Amalia yang membelalak menatap reaksi Wira dengan gugup, cengkeramannya di leher pria itu mengerat seolah ia bisa mencekiknya kapan saja.

Menarik.

Wira menyeringai, menangkup dagu Amalia dengan satu tangan, dan berkata dengan suara berat, "Kalau mau ciuman, lakukan dengan benar."

Ciuman itu semakin dalam dan penuh gairah, napas mereka berpadu dengan erangan pelan yang menggoda.

Tangan Wira yang lihai menjelajahi pinggangnya, dengan cekatan melucuti gaun perempuan itu. Hawa panas di antara mereka semakin memuncak, membuat Amalia merasa pusing dan kehabisan napas.

Wira mengangkat kedua kaki Amalia dan melingkarkannya di pinggangnya, lalu berbisik dengan suara seraknya, "Masukkan sendiri."

Suaranya yang menggoda dan magnetis terdengar seperti mantra di telinga Amalia.

Amalia menggigit bibirnya, tak mampu lagi menolak. Ia mengulurkan tangan ke bawah untuk memandu pria itu masuk ke dalam dirinya.

Keduanya mendesah bersamaan saat Wira memasukinya sepenuhnya.

Tubuh Amalia berkilau oleh keringat, tangannya menjelajahi dada bidang pria itu, setiap incinya terpahat sempurna.

Semburat merah melintasi wajahnya, suaranya terdengar menggoda. "Ini sama sekali nggak sopan, nggak ada romantis-romantisnya."

Sebagai jawaban, Wira mengentak keras, membuat pintu di belakang Amalia berderak.

Namun bibirnya terasa lembut, menggigit pelan daun telinga Amalia dan menyusuri lehernya dengan ciuman, membuat kulit perempuan itu terasa terbakar.

Suara percintaan mereka tumbuh semakin intens dan mendesak.

Pintu berderak semakin sering, dan Amalia tak bisa menahan teriakannya di akhir, berpegangan erat pada pria itu dengan napas terengah-engah.

Di luar, terdengar gumaman suara rendah. "Dia pasti sudah kabur. Nggak mungkin dia yang ada di dalam sana."

Suara lain menjawab, "Kalaupun iya, itu info yang berguna buat nanti."

Suara-suara itu memudar, menandakan para pengejar itu telah pergi.

Amalia bernapas lega, melangkah mundur dan memisahkan diri dari Wira. Suara perpisahan tubuh mereka terdengar jelas di dalam ruangan.

Tanpa memedulikan tatapan pria itu, ia membungkuk untuk memungut gaunnya, mengeluarkan sebuah kartu debit, dan menyodorkannya pada Wira. "Makasih bantuannya. Ada tiga ratus juta di dalam sini. Kamu nggak bakal rugi."

Masih terbuai dalam sisa-sisa gairah, Wira terkesiap, ekspresinya seketika berubah dingin saat ia melirik kartu itu. Ia mencibir, "Simpan saja. Kamu bakal butuh uang itu buat biaya berobat."

Amalia tampak bingung dan bertanya, "Biaya berobat apa?"

Wira menjawab sinis, "Penyakit kelamin!"

"Kamu gila, ya?!" Amelia tidak punya waktu meladeni omong kosong pria itu. Ia meletakkan kartu tersebut di atas meja dekat pintu masuk dan membungkuk untuk memungut pakaian dalamnya.

Cairan sisa pergumulan mereka mengalir turun di kaki jenjangnya.

Tenggorokan Bima tercekat, campuran antara amarah dan gairah menghancurkan pertahanannya.

Amelia lengah saat pria itu tiba-tiba merengkuh pinggangnya, menariknya ke dalam pelukan. Protesnya terbungkam oleh ciuman panas Bima, dan pakaiannya kembali berserakan di lantai.

Malam itu, gairah mereka meninggalkan jejak di seluruh penjuru apartemen, dari balkon hingga bathtub, bahkan di atas meja makan.

Keesokan paginya, Bima terbangun dan mendapati kamar yang berantakan, tetapi Amelia sudah menghilang.

Sorot matanya menggelap saat melihat kartu itu tergeletak di atas nakas.


Pukul 11:30 siang.

Di sebuah rumah mewah yang megah bak istana, keluarga besar Hartono duduk berjejer, dipimpin oleh seorang wanita tua berambut putih.

Seorang pria menerobos masuk dengan wajah panik dan berkata, "Nyonya Besar, Nona Amelia menghilang dalam perjalanan pulang."

Oma Hartono berdiri dengan marah dan membentak, "Apa katamu?!"

Keluarga Hartono telah menggelar pesta penyambutan besar-besaran untuk pewaris asli mereka, tetapi sekarang anak itu malah menghilang?

Oma Hartono bergegas keluar dengan wajah murka. "Bagaimana kalian bisa seceroboh ini?!"

Bianca menuruni tangga dengan senyum licik yang segera ia sembunyikan di balik ekspresi cemas. "Oma, ada apa? Ada yang hilang?"

"Gadis kampung itu benar-benar tidak tahu sopan santun. Bowo bilang dia mengeluh sakit perut dan numpang ke toilet di sebuah kelab malam. Dia masuk ke sana dan tidak pernah keluar lagi!"

Wajah Oma Hartono memerah padam.

"Mungkin Kak Amelia kaget melihat kota besar dan tersesat?" usul Bianca, menundukkan pandangannya, berpura-pura berpikir. "Tapi menghilang di kelab malam? Itu tempat yang terlalu bebas."

Ia melirik ponselnya, menunggu kiriman video.

Sudah siang begini, dan masih belum ada kabar.

Apa obat perangsang semalam terlalu kuat?

Begitu ia mendapatkan video itu, Amelia pasti akan langsung ditendang keluar dari keluarga Hartono saat ia menginjakkan kaki di rumah ini.

"Dibesarkan di kampung, dia sama sekali tidak punya tata krama." Oma Hartono menggerutu kesal, melangkah menuju ruang perjamuan. "Cari dia sekarang juga. Kalau dia tidak kembali sebelum tengah hari, keluarga Hartono tidak akan pernah mengakuinya sebagai cucu."

"Kalau keluarga Hartono memang tidak menginginkanku, untuk apa repot-repot membawaku kembali?" Sebuah suara dingin terdengar dari kejauhan.

Saat sosok itu melangkah mendekat, semua orang menatap tak percaya.

Bahkan Oma Hartono pun terkesiap. Kemiripan wajahnya sungguh luar biasa, persis seperti mendiang ibunya, Almira Hartono.

Seluruh keluarga Hartono terpaku, menatap Amelia.

Belum pernah ada yang berani berbicara seperti itu kepada Nyonya Besar.

"Kamu... Amelia?" Oma Hartono berjalan cepat menghampirinya, menatap gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Wajah Amelia tampak datar. Tiga bulan lalu, sekelompok orang asing mendatangi rumahnya, mengklaim bahwa ia adalah pewaris sah keluarga Hartono yang berkuasa di Jakarta. Mereka membawanya untuk belajar tata krama dan etiket sebelum membawanya ke ibu kota. Awalnya, ia mengharapkan reuni keluarga yang hangat.

Namun, belum sempat ia tiba, ia sudah dijebak dan dibius, dikhianati oleh orang yang seharusnya ia percaya.

Ikatan darah ternyata sama sekali bukan jaminan kesetiaan.

Bab Selanjutnya