Bab 11
Tatapan tajam dan raut wajah percaya diri Farah memperjelas bahwa dia bukanlah orang yang mudah diajak bergaul.
Dia melirik Amel sekilas sebelum mengalihkan pandangannya pada William. Matanya sedikit membelalak.
Meskipun Bianca sudah memberitahunya soal ini, melihat William hadir langsung di sini tetap saja membuatnya cukup terkejut.
"Pak William, sungguh suatu kehormatan Anda bisa hadir di sini," ucapnya dengan nada yang sedikit menyindir.
Farah sudah mengundangnya berkali-kali sebelumnya, tapi William tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya.
William hanya mengangguk pelan, tidak banyak bicara.
Farah tampak tidak peduli. Ia berjalan memimpin di depan, sementara Bianca mengikuti rapat di belakangnya sambil membisikkan sesuatu.
"Mansion megah di depan itu dibeli oleh Haris, ayah Farah, seharga belasan triliun rupiah beberapa tahun yang lalu. Mereka biasanya memakai tempat ini untuk acara kumpul-kumpul dan pesta kecil," jelas Bianca pelan.
Amel mendorong kursi roda William perlahan, menatap sekelilingnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Dia belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini dan menganggap semuanya sangat menakjubkan.
Melihat ketertarikan gadis itu, William mulai menjelaskan tentang lingkungan sekitar kepadanya.
Mereka melewati jembatan lengkung kecil di atas sebuah sungai buatan, dikelilingi oleh pepohonan yang rindang.
Di depan mereka berdiri bangunan utama, tempat berlangsungnya pesta hari ini.
Bahkan sebelum mereka masuk, alunan musik lembut sudah terdengar dari dalam, diiringi suara obrolan pelan dari kelompok-kelompok kecil tamu.
Begitu Farah dan Bianca melangkah masuk, semua orang tahu bahwa pertunjukan utama akan segera dimulai.
Dalam hitungan menit, Amel muncul di hadapan kerumunan.
"Bukannya ini si gadis kampung itu? Kenapa lo nggak cerita-cerita soal kehidupan di desa ke kita semua?" cibir seseorang.
"Bianca, ini orang yang dibawa pulang sama keluarga lo? Dia kelihatan..."
Kata-kata pedas itu langsung menyerang begitu mereka masuk.
Bianca menyentuh pelan lengan orang itu, lalu menggandeng lengan Farah. "Siska, jangan ngomong gitu dong."
Siska meliriknya, menyerang tanpa pandang bulu, "Kenapa emangnya? Kalau anak pungut yang nggak punya hubungan darah aja bisa ada di sini, kenapa gue nggak boleh ngomong jujur?"
Bianca menarik baju Farah, memasang wajah tersakiti. "Farah, lihat tuh dia. Kita semua kan udah kenal lama, kenapa sih harus bawa-bawa hal yang bikin gue sedih?"
"Ya sudah, karena semuanya sudah kumpul, mari kita mulai pestanya," umum Farah.
Amel tidak mau ikut campur. Ia menyingkir ke sudut ruangan dan perlahan memakan kue sus yang diambilnya dari nampan. Dia juga mengambilkan satu untuk William.
Kue itu lembut dan manis, lumer di mulutnya.
Ia memperhatikan ada permainan tebak dadu di dekat sana. Kalau tebakannya benar akan dapat hadiah, dan kalau salah harus minum segelas sampanye.
Tak lama kemudian, Bianca dan Farah menghampirinya. "Amel, jangan cuma diam di sini. Sini, gue kenalin sama beberapa orang," kata Bianca sambil menepuk lengan Farah. "Gue mungkin nggak kenal banyak orang, tapi Farah kenalannya banyak."
Amel menelan kuenya, menatap kedua perempuan itu. Sejak tadi dia sudah memperhatikan bahwa Bianca menuruti semua perintah Farah, bahkan sampai rela meminum beberapa gelas sampanye demi perempuan itu.
"Lo boleh aja main jadi babu sepuas lo, tapi nggak usah bawa-bawa gue. Gue sama sekali nggak minat ngelayanin seorang tuan putri," ucap Amel blak-blakan.
Kata-kata Amalia begitu tajam dan menohok, cukup untuk membuat siapa pun naik pitam.
"Lia, gue ngundang lo ke sini murni karena menghargai Bunga. Jangan tak tahu diuntung. Nggak usah belagu dulu sebelum lo resmi jadi Nyonya Kusuma. Hati-hati, pacar aslinya bisa aja balik, dan Mas Wira bakal nyampakkan lo detik itu juga," cibir Fika.
Amalia sama sekali tidak terpancing. Ia menoleh pada Wira dan bertanya, "Apa kamu punya pacar asli yang disembunyikan?"
"Nggak ada. Aku selalu setia. Cuma kamu satu-satunya tunanganku," jawab Wira sambil menggenggam erat tangan Amalia.
Amalia kembali menatap Fika. "Lo dengar sendiri, kan? Dia bilang nggak ada."
Dari kejauhan, sekelompok orang memperhatikan kejadian itu, mencatat dalam hati untuk tidak mencari gara-gara dengan Amalia. Mulut pedasnya dan sikap protektif Wira memperjelas bahwa perempuan itu bukan orang sembarangan.
Tepat saat itu, seseorang memanggil Bunga, "Bunga, ayo ganti baju. Tariannya mau mulai."
Bunga segera pamit dan pergi dari situ.
Fika tetap tinggal, melipat kedua tangan di depan dada.
Sebuah panggung besar telah disiapkan di depan, dan dalam beberapa menit, tiga gadis melangkah naik.
Penari utamanya adalah seorang gadis berponi yang tampak sangat polos.
Wira membisikkan perkenalan singkat pada Amalia, "Itu Vanya Haris, putri bungsu Keluarga Haris. Keluarganya punya koneksi kuat dengan pejabat pemerintahan dan jaringan bawah tanah. Tapi Vanya sendiri sudah menari sejak kecil dan sering jadi bintang tamu di grup tari internasional. Kata orang-orang, sifatnya cukup baik."
Begitu alunan musik mengalun, Vanya seolah bersinar, sepenuhnya tenggelam dalam penampilannya.
Saat tempo musik yang sendu itu berdetak makin cepat, gerakan Vanya pun menjadi lebih gesit dan bertenaga, bagaikan sebuah lukisan indah yang hidup.
Jari-jemari Amalia berkedut, diam-diam merasa tertarik.
Dibandingkan dengan Vanya, penampilan Fika sebelumnya terasa hambar. Meski cantik dan gemulai, gerakannya terasa dangkal, persis seperti kepribadiannya.
"Lo ke sini buat memperluas pergaulan, kan? Liat mereka. Kalau lo punya bakat kayak gitu, mungkin kami bakal nerima lo di sirkel ini. Bunga aja udah lulus sertifikasi tari level delapan," ucap Fika sombong sambil mengangkat dagunya.
Amalia tiba-tiba berpikir bahwa sikap menjilat Bunga selama ini ternyata cukup berhasil, mengingat Fika tampak begitu membanggakannya.
Mengabaikan Fika, Amalia kembali fokus menonton tarian di panggung.
Selain Vanya, dua penari lainnya sama sekali tidak istimewa.
Setelah pertunjukan selesai, barulah Amalia melirik Fika. "Gue nggak tertarik jadi badut cuma buat menghibur kalian. Sekalipun gue bisa menari, gue nggak sudi ngelakuinnya cuma demi diterima di sirkel lo."
Fika mendelik, "Maksud lo apa? Lia, lo..."
Bunga buru-buru menengahi, seolah berusaha meredakan suasana. "Fika, udah, jangan ngomong gitu. Amalia kan baru aja pindah dari kampung. Dia belum banyak tahu dan nggak pernah belajar nari. Nyuruh dia nari di sini sama aja bikin dia malu."
Nada bicaranya sarat akan kebanggaan yang sama sekali tidak ditutupi.
Fika mulai tenang dan membalas, "Lo bener. Nggak ada gunanya ngomong sama orang udik yang nggak punya keahlian apa-apa. Gue kan cuma ngasih saran..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kedua mata Fika terbelalak kaget.
