Bab 3

Para tamu tampak terkejut, menatap Wira seakan tak percaya.

Sejak kecelakaan yang menimpanya, pria itu jarang sekali berbicara di depan umum dan seolah kehilangan minat pada apa pun maupun siapa pun.

Desas-desus yang beredar menyebutkan bahwa di balik topeng pria baik-baik yang ia kenakan, Wira sebenarnya adalah sosok yang muram dan kejam, bahkan tak segan menyiksa para pelayannya.

Tidak ada yang menyangka dia akan membuka suara hari ini, apalagi dengan nada yang begitu lembut.

Bu Ratna, yang awalnya tertegun, kini tak bisa menyembunyikan antusiasmenya. "Tentu, tentu saja boleh."

Sejak kecelakaan itu, Wira tak pernah peduli pada sekitarnya, tapi hari ini suasana hatinya sepertinya sedang sangat baik.

Bella, yang ketakutan setengah mati kalau-kalau Wira akan mengajaknya bicara, buru-buru menyusut di balik punggung Ayu. Wajahnya memancarkan penolakan yang amat sangat.

Sementara itu, Amalia melangkah menghampiri Wira tanpa ragu sedikit pun. Ia mengambil alih pegangan kursi roda pria itu dan bertanya dengan santai, "Kita mau ngobrol di mana?"

Sangat kentara bagi semua orang betapa berbedanya sikap kedua perempuan itu terhadap Wira. Tatapan Bu Ratna pada Amalia pun seketika berubah, kini dipenuhi rasa kagum sekaligus lega.

"Kamar tamu," jawab Wira, melirik sekilas ke arah Amalia.

Amalia mendorong kursi roda itu keluar ruangan. Ia sengaja mengambil jalur yang melewati Bella, berniat memancing reaksi.

"Nona Bella Kusuma, apa kau pikir aku tadi berniat bicara denganmu?" Suara bariton Wira yang berat tiba-tiba memotong, diiringi dengusan sinis yang samar.

Wajah Bella langsung merah padam, menanggung malu yang tak tertahankan.

Di kamar tamu.

Begitu pintu tertutup, ekspresi Amalia dan Wira serempak berubah dingin.

Perempuan itu membiarkan kursi roda Wira teronggok begitu saja di dekat pintu, sementara ia sendiri melangkah santai dan menghempaskan diri ke sofa.

Dengan senyum miring, Wira berkata, "Meninggalkan tamu yang kesulitan bergerak di dekat pintu rasanya sangat tidak sopan, bukan begitu?"

Amalia menatap pria itu dari atas ke bawah. "Santai saja, kaki ketigamu sepertinya cukup kuat. Pakai saja itu untuk jalan ke sini."

Kemarin, benda brengsek itu hampir saja membuatnya mati kelelahan.

Wira tertegun.

Ia sama sekali tidak menyangka Amalia akan membuka percakapan dengan komentar sevulgar itu.

Namun sedetik kemudian Wira menyeringai, membalas dengan nada acuh tak acuh, "Saran saya, jaga mulutmu. Kau tentu tidak ingin orang-orang tahu kalau Nona Kusuma yang terhormat ini mengidap penyakit kelamin, kan?"

Amalia bahkan tidak berkedip saat membalas, "Kalau begitu kau sudah tertular habis-habisan olehku kemarin. Apa kau tidak takut aku akan berteriak pada semua orang kalau Tuan Muda Baskoro terjangkit HIV?"

Tatapan Wira menggelap, memancarkan aura bahaya yang tertahan, nadanya penuh ejekan. "Siapa yang akan percaya pria cacat sepertiku bisa kena HIV?"

Garis wajahnya yang tegas terlihat semakin menawan saat ia sedang serius, membuat siapa pun sulit memalingkan pandangan.

Amalia, yang menyadari perbedaan drastis ekspresi pria itu dibandingkan saat ia baru tiba di kediaman Keluarga Kusuma tadi, tersenyum cerah. "Sudah bosan pura-pura jadi pria baik-baik?"

Ia menyilangkan kaki, mengayunkannya dengan santai, sama sekali mengabaikan ancaman Wira di awal tadi dan malah asyik melontarkan godaan sarkastis.

Mata Wira terkunci pada Amalia. Sikap santainya sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang penuh tipu daya.

Namun, Wira sudah terlalu sering menghadapi orang-orang yang mencoba mengancamnya. Ia tahu betul cara menundukkan mereka.

"Nona Kusuma, kau sadar betul kan, kalau kau berjuang sendirian, kau tidak akan bertahan lebih dari tiga hari sebelum ditendang keluar dari rumah ini," Wira mengingatkannya dengan nada santai.

Bulu mata Amalia yang lentik bergetar pelan, tapi ia tidak menjawab.

Ia tahu persis bagaimana Keluarga Kusuma menganakemaskan Bella. Tiga hari bahkan terdengar terlalu optimis.

Dengan cekatan Wira memutar kursi rodanya mendekat. Senyum di bibirnya sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang dingin. "Dengan wajah seperti itu, Nyonya Kusuma tidak akan membiarkanmu pergi dari rumah ini dalam keadaan utuh."

"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" tawar Wira.

Amalia mendongak, menatap langsung ke dalam mata pria itu, dan bertanya dengan nada penuh selidik, "Aku menjaga rahasiamu, dan kau membantuku bertahan di Keluarga Kusuma?"

"Bukan cuma bertahan. Kalau perlu, aku bisa membantumu menginjak-injak Bella sampai hancur. Bagaimana?" Mata Wira berkilat penuh kelicikan, suaranya terdengar seperti bujukan iblis.

Entah kenapa, Alya teringat kejadian semalam saat pria itu dengan suara seraknya membujuk untuk ronde kedua. Telinganya mendadak terasa panas.

Wira, seolah bisa membaca pikirannya, menatap dengan kilat menggoda. "Tentu saja, kalau kamu butuh 'layanan khusus' lainnya, aku bisa memberikannya, tergantung suasana hatiku."

Alya tiba-tiba tersenyum. "Sepertinya kamu belum puas semalam."

Dia berdiri, meletakkan tangan kirinya di sandaran tangan kanan kursi roda Wira, menyelipkan kaki kanannya di antara kedua kaki pria itu. Jari-jari lentiknya menelusuri dari alis turun ke hidung mancungnya, melewati bibir dan jakun, lalu mengaitkan jarinya di dasi Wira dan menarik pria itu mendekat dengan cepat.

"Setuju. Tapi menghancurkan Bella itu urusanku sendiri."

"Dan soal layanan khususmu itu, Pak Wira, saranku jangan terlalu melebih-lebihkan pesonamu sendiri."

Hidung mereka nyaris bersentuhan, napas mereka berbaur. Wangi parfum keduanya menyatu menjadi aroma baru yang memabukkan.

Tatapan Alya turun dari mata ke bibir pria itu.

Hanya ditatap seperti itu saja sudah membuat tenggorokan Wira terasa kering, dan celananya perlahan terasa sesak.

Alya tiba-tiba melepaskan dasinya, melirik penuh arti ke arah celana pria itu, dan menggoda, "Sepertinya ada yang butuh 'layanan khusus' sekarang."

Setelah berkata begitu, dia mundur selangkah, melambaikan tangan, dan keluar dari ruangan lebih dulu.

Wira tiba-tiba merasa sangat frustrasi. Selama ini dia selalu bangga dengan pengendalian dirinya, tapi entah kenapa dia selalu lepas kendali kalau sudah di dekat Alya!

Setelah sedikit menenangkan diri, dia mengambil ponselnya dan menelepon. "Kek, aku sudah bertemu dengannya. Dia anak yang diadopsi oleh teman lama Kakek, Alya. Bisa ceritakan lebih banyak soal dia kalau Kakek ada waktu?"

Di luar ruangan, Alya tidak buru-buru kembali ke pesta. Dia berjalan ke sudut yang sepi, mengeluarkan ponselnya, dan masuk ke akun bernama "Melodi Rahasia".

Dia memotret lantai secara asal dan mencari draf melodi yang sudah dia buat sebelumnya, lalu mengunggahnya dengan takarir, "Lagi sibuk hari ini, ini sedikit cuplikannya."

Baru saja dia hendak menunggu reaksi para pengikutnya, sebuah bayangan menutupi cahayanya.

Pria itu berkata, "Nona Martadinata, sedang apa sendirian di sini? Bella mencarimu ke mana-mana, menunggumu untuk menyapa para tamu. Tidak sopan sekali."

Pria itu orang asing, tapi wajahnya samar-samar memiliki garis keturunan keluarga Martadinata.

Alya menyimpan ponselnya, ekspresinya datar. "Lo siapa?"

Pria itu terkejut, lalu mencoba menjaga gengsinya. "Lo bisa panggil gue Kak Ardi, sama seperti Bella."

Nada bicaranya seolah menyiratkan bahwa Alya hanya punya hubungan dengannya karena kebaikan hati Bella.

Senyum sinis Alya tidak pudar. "Lo nggak punya nama lengkap?"

Wajah Ardi memerah menahan marah. Baru saja dia hendak membalas, matanya tertuju pada kalung Alya, seolah menemukan kelemahan. "Bikin malu saja, pakai barang kotor dan rongsokan ke acara penting begini. Lo nggak tahu malu, ya?"

Kalung Alya memang sudah pudar, hadiah ulang tahun ke-18 dari nenek angkatnya, Nenek Euis. Kalung itu berlapis emas, tapi lapisannya sudah luntur dimakan usia, hanya menyisakan liontin berukir nama 'Alya' yang masih berkilau.

Wajah Alya menegang. "Jaga mulut lo!"

Ardi tak bisa menahan diri lagi. "Berani-beraninya lo ngomong begitu ke gue? Kelihatan banget lo nggak punya tata krama. Hari ini, gue bakal ngajarin lo..."

Tiba-tiba Bella berlari menghampiri, menahan tangan Ardi dengan wajah memelas. "Kak Ardi, jangan marah sama Alya. Ini salahku karena nggak ngenalin dia duluan. Dia masih kesal, makanya dia nggak mau pakai kalung pemberian keluarga kita."

Keributan itu menarik perhatian para tamu. Mereka mulai berbisik-bisik dan menatap Alya dengan pandangan merendahkan dan penuh cela.

Wajah Bu Mirna memerah padam. Alya yang baru saja kembali ini benar-benar mempermalukan keluarga Martadinata hanya demi mencari perhatian!

Alya menatap Bella dengan mata menyipit, senyumnya menyiratkan aura dingin. "Kalung apa? Kapan dikasihnya? Ada rekaman CCTV-nya nggak? Jangan-jangan kurirnya yang nyolong, soalnya gue nggak pernah terima kalung apa pun."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya