Bab 51

Wira memutar kursi rodanya. Matanya yang biasanya memikat kini tertutup kabut, membuat jalan pikirannya sama sekali tak terbaca. Bibirnya terkatup rapat.

"Mungkin?" Suaranya mengalun pelan menembus heningnya taman kecil itu.

Begitu kata-kata itu terucap, jantung Wira entah mengapa berdebar kencan...

Masuk dan lanjutkan membaca