Bab 6

Keluarga Kusuma sudah berkali-kali menyinggung rencana pernikahan itu kepada keluarga Wijaya.

Namun, keluarga Wijaya selalu mengelak, tak pernah sekalipun mengakui status Bella di depan publik.

Terutama Wira, yang kabarnya sampai berdebat keras dengan para tetua keluarganya gara-gara urusan ini.

Tapi lihatlah dia sekarang.

Wira tampak sama sekali tak terganggu oleh ucapan Pak Candra. Pria itu tetap tersenyum, tapi kata-katanya setajam belati. "Saya tidak bermaksud kasar, tapi karena Om bertanya, saya akan bicara blak-blakan. Seseorang yang sekadar merebut tempat orang lain tidak pantas menjadi istri saya. Untungnya, tunangan saya bukan orang yang seperti itu, jadi saya tidak keberatan."

"Kamu..."

Ini penghinaan terang-terangan!

Wajah Bella seketika memerah padam. Dia nyaris ambruk ke lantai, air mata menggenang di pelupuk matanya. Ujung-ujung jarinya menancap kuat ke telapak tangannya sendiri.

Amarahnya meledak, menyumpah serapahi Wira ribuan kali dalam hati. Bagaimana mungkin gadis udik itu bisa dibandingkan dengannya? Namun pada akhirnya, ia tak berani berucap sepatah kata pun.

Meski kakinya cacat, Wira tetaplah putra mahkota kebanggaan, sosok yang sama sekali tak berani ia singgung.

Bu Ayu ragu sejenak, lalu berjalan menghampiri dan mengusap kepala Bella untuk menenangkannya, sebelum menoleh dan memberi isyarat lewat tatapan mata pada suaminya.

Masih ada beberapa asisten rumah tangga di sekitar mereka. Kalau mereka tidak membantah ucapan Wira, Bella tidak akan pernah punya muka lagi untuk tampil di pergaulan elite.

Pak Candra membenarkan letak kacamata berbingkai emasnya. "Bella adalah putri kami, dibesarkan dengan penuh kasih sayang sejak kecil. Di hati keluarga Kusuma, dia tidak ada bedanya dengan anak kandung sendiri. Wira, sebaiknya kamu tidak bicara seperti itu lagi ke depannya."

Wira hanya mengangguk acuh tak acuh.

Tentu saja berbeda, bahkan diperlakukan lebih baik dari anak kandung sendiri.

"Soal apa yang baru saja kamu usulkan, maaf, Om tidak bisa setuju. Amel baru saja dijemput dari desa belum lama ini. Tantenya dan Om masih sangat rindu padanya, jadi lebih baik dia tinggal di rumah ini. Lagi pula, kalian berdua belum resmi menikah, rasanya kurang pantas. Soal ibuku, Om punya cara sendiri untuk menghadapinya, jadi tidak perlu..."

"Papa." Suara seorang perempuan memotong pembicaraan mereka.

Bella melangkah maju, merangkul lengan Pak Candra dengan suara manis dan penuh perhatian.

"Pa, kenapa nggak biarkan Amel pergi saja? Dia bisa menghabiskan waktu bersama Mas Wira dan membangun kedekatan. Kalau nggak, pas Nenek bangun besok dan lihat Amel, Nenek pasti bakal sedih dan nyalahin Papa, bahkan mungkin ngancam mau nyakitin dirinya sendiri lagi."

Bella pernah dengar desas-desus bahwa sejak kaki Wira patah, pria itu memang terlihat ramah dan santai di luar, tapi sebenarnya sangat tempramental di belakang pintu, bahkan sering memukuli pelayannya. Kalau Amel pergi ke sana, pasti bakal ada tontonan menarik.

Kilat kepuasan jahat melintas di matanya, namun dengan cepat disembunyikan. "Gimana menurut Papa?"

Amel hanya berdiri diam di belakang, seolah-olah perdebatan itu sama sekali bukan tentang masa depannya.

Pak Candra menatap Bella, putri yang telah ia besarkan sejak kecil itu, lalu menarik lengannya secara perlahan. Keningnya berkerut sesaat. Ia menepuk pelan jasnya, suaranya berubah dingin. "Tidak bisa. Amel, ke sini."

Ia memberi isyarat pada Amel, seolah sedang memanggil hewan peliharaan.

Ia bertanya, "Bagaimana menurutmu? Mau tetap tinggal di Kediaman Kusuma atau pergi ke Rumah Utama Wijaya?"

Amel sedikit terkejut karena Pak Candra menanyakan pendapatnya, tapi ia menjatuhkan pilihan tanpa ragu.

"Aku akan tetap tinggal di Kediaman Kusuma," jawab Amel.

Cakra sama sekali tidak terkejut. Ia menatap Wahyu yang duduk di kursi roda. "Wahyu, kau dengar sendiri. Amel yang memilih untuk tinggal, bukan aku yang memutuskannya."

Wahyu menjawab santai, "Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa. Tapi kalau Amel ada masalah, dia harus ingat untuk menghubungiku."

Ia menyebutkan nomor teleponnya, meminta Amel untuk menyimpannya, lalu memutar kursi rodanya dan pergi dengan raut puas.

Bella berdiri di sana, menyaksikan semua itu dengan gigi gemeretak menahan amarah.

Setelah orang luar itu pergi, Cakra menatap Amel lekat-lekat dan berkata, "Biar pelayan yang mengantarmu ke kamar nanti."

Bella langsung menawarkan diri. Ia memaksakan sebuah senyuman dan menarik tangan Amel layaknya kakak yang baik, "Biar aku saja yang antar Amel. Aku tahu kamarnya di mana."

Kamar itu awalnya adalah kamar tamu. Didekorasi dengan hangat, dengan dinding bernuansa merah muda dan satu sisi tembok yang penuh dengan boneka.

Begitu masuk, Bella langsung membuang topengnya. Ia melepaskan tangan Amel, matanya penuh dengan rasa jijik, dan nada suaranya berubah mencemooh, "Jangan pikir tinggal di sini adalah hal yang bagus. Suatu hari nanti, aku akan pastikan kau pergi dari sini dengan cara yang sama seperti saat kau datang."

Amel menjawab dengan tenang, "Yah, aku menantikan hari itu tiba."

Bella tidak marah, hanya mendengus sinis lalu pergi. Biar saja anak itu bicara besar sekarang, batinnya, pada akhirnya dia juga yang akan menderita.

Setelah orang menyebalkan itu pergi, Amel duduk di tepi ranjang. Kasur yang empuk itu sedikit memantul menahan berat badannya. Lumayan nyaman. Ia mematikan lampu, membungkus dirinya dengan selimut, dan langsung tertidur.

Keesokan paginya.

Amel berdiri di taman kecil Vila Keluarga Kusuma, menghadap matahari terbit. Ia berlari beberapa putaran, lalu mencari tempat kosong untuk berlatih bela diri.

Setiap pukulannya bersih dan tajam, tanpa keraguan sedikit pun. Ini adalah kebiasaan yang sudah ia bangun sejak kecil.

"Permisi, saya mau menyapu."

Amel mengerutkan kening dan pindah ke tempat lain.

"Permisi lagi."

Amel tetap diam dan kembali bergeser.

"Permisi..."

"Kalau tidak salah ingat, kau baru saja menyapu bagian ini."

Amel menatap dingin pelayan di depannya.

Pelayan itu menyahut ketus, "Kalau saya suruh pindah, ya pindah saja. Kenapa repot amat sih? Anda tidak benar-benar berpikir gadis kampung seperti Anda bisa membalikkan keadaan hanya karena kembali ke Keluarga Kusuma, kan? Keluarga Kusuma hanya punya satu nona muda, Nona Bella Kusuma."

Amel bertanya, "Siapa namamu?"

Mata tajam Amel menatap pelayan itu bak anak panah, ekspresinya sama sekali tidak terbaca.

Mendapat tatapan seperti itu, nyali pelayan tersebut langsung menciut. Keringat dingin mulai bercucuran, tak sanggup membalas tatapannya.

Sialan, bagaimana bisa seorang perempuan kampung punya aura sekuat ini, persis seperti Tuan Cakra?

Pelayan itu menjawab gugup, "Kenapa Anda peduli siapa nama saya?"

Amel berkata, "Aku perlu tahu namamu supaya aku bisa memecatmu. Bagaimanapun juga, darah Kusuma mengalir di nadiku. Kalau aku meminta ayahku untuk memecatmu, menurutmu dia akan mendengarkan tidak? Atau Nona kesayanganmu itu yang akan memohon untukmu?"

Pelayan itu panik, "B-bukan begitu maksud saya. Hanya saja sejak Anda kembali, Keluarga Kusuma jadi kacau. Nona Bella..."

"Kau dipecat."

Suara bernada dingin itu tiba-tiba memotong ucapan mereka. Keduanya serempak menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria jangkung dengan kaki jenjang berdiri di sana, proporsi tubuhnya tampak sempurna. Ia bersandar santai pada pilar, entah sudah berapa lama ia berdiri mengawasi mereka.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya