Bab 8
"Maya Martadinata!" panggil Bima dari belakang.
Alya akhirnya sadar kalau perempuan ini pasti saudara kembar Bima, Maya Martadinata.
Maya menoleh dan menatap tajam Bima, mengabaikannya sambil memberi isyarat pada asisten rumah tangga untuk mengantar Oma Sari kembali ke kamarnya.
Lalu, tatapannya beralih pada Alya.
Saat Maya mengamati Alya, Alya pun balas memperhatikannya.
Maya mengenakan setelan blazer kerja yang pas di badan, rambutnya diikat tinggi, memancarkan aura profesional yang kuat. Namun, sisa-sisa kepolosan di wajahnya tak bisa menyembunyikan betapa mudanya ia sebenarnya.
Tatapannya sedingin es saat ia berkata, "Kamu nggak seharusnya bicara seperti itu pada Oma."
Maya menambahkan, "Terlepas dari apa pun yang pernah Oma lakukan, beliau tetap kepala keluarga ini. Beliau sudah sepuh, dan kamu harus menjaga ucapanmu di depan orang tua."
Alya tidak membalas, hanya tersenyum sinis.
Orang tua? Orang tua macam apa yang kelakuannya seperti itu?
Selama mereka tidak membawa-bawa nama Eva, mereka boleh bicara apa saja. Tapi kalau sudah menyinggungnya, Alya tidak akan segan-segan membalas.
Dia tak akan ragu melakukannya lagi.
Dari kejauhan, Oma Sari yang baru setengah jalan menaiki tangga mendengar semuanya dengan jelas.
Oma Sari berseru, "Maya, nggak usah buang-buang waktu ngomong sama dia. Dia nggak akan ngerti. Oma nggak akan pernah menerima orang luar sepertinya di keluarga Martadinata ini. Oma nggak akan pernah mengakuinya sebagai cucu. Cucu Oma cuma kamu dan Bella. Jangan biarkan dia muncul di depan Oma lagi. Bikin muak saja."
Melihat wajahnya saja sudah cukup membuat darah Oma Sari mendidih.
Maya menghela napas panjang tapi tak berkata apa-apa. Setelah Oma Sari naik ke lantai atas, ia menyodorkan sebuah kartu kredit pada Alya dan menyebutkan nomor PIN-nya. "Ini kartu tambahanku. Kamu baru saja pulang, pasti butuh uang untuk mengurus keperluanmu."
Setelah itu, ia langsung pergi tanpa peduli apakah Alya akan menerimanya atau tidak.
Namun, Bima masih belum beranjak.
Gara-gara kejadian barusan, ia menatap Alya dengan penuh rasa kesal.
Bima memperingatkan, "Alya, terserah lo mau main-main kayak apa, tapi gue ingetin, jangan harap Maya bakal beresin kekacauan yang lo buat."
Dia dan Maya adalah saudara kembar dan selalu kompak. Satu-satunya hal yang mereka sepakati adalah rasa tidak suka mereka pada Bella; sejak kecil mereka tidak pernah memedulikan anak itu.
Bima menambahkan, "Dia udah sibuk banget sama kerjaannya. Lo udah umur dua puluhan; jangan bikin dia repot ngurusin lo, atau lo bakal berhadapan sama gue."
Alya menguap lebar, "Gue nggak nyangka lo seprotektif ini. Mengejutkan! Model terkenal ternyata punya titik lemah buat saudara perempuannya."
Alya bisa melihat bahwa Bima sebenarnya tidak punya niat buruk padanya, hanya rasa setia yang luar biasa pada Maya.
Bima memutar bola matanya, meletakkan sebuah kotak kecil yang elegan di atas meja, dan berkata, "Ini kado selamat datang buat lo."
Lalu ia buru-buru pergi, tampak salah tingkah.
Alya membuka kotak itu dan menemukan sebuah jam tangan cantik yang berkilau tertimpa cahaya pagi.
Si kembar ini benar-benar penuh kejutan.
Soal Oma Sari, Alya akan memastikan wanita tua itu sering-sering melihat wajahnya.
Kilatan iseng terpancar dari senyum Alya.
Kalau saja Eva, yang sangat mengenalnya, melihat ini, dia pasti tahu bahwa Alya sedang merencanakan sesuatu.
Keluarga Martadinata punya satu tradisi: kalau kamu tidur di rumah, kamu wajib bangun untuk sarapan bersama keesokan paginya.
Aturan itu benar-benar ditegakkan.
Oma Ningsih juga harus hadir.
Keesokan paginya, Amalia tiba di ruang makan lebih awal. Oma Ningsih sudah ada di sana bersama cucu kesayangannya, Bianca, yang sedang sibuk merayu sang nenek sampai tertawa terbahak-bahak. Suasana ruang makan terasa begitu ceria.
Tanpa ragu, Amalia mengambil tempat duduk tepat di sebelah Oma Ningsih.
Raut wajah Oma Ningsih seketika berubah masam. Dia menoleh dan membentak, "Ngapain kamu di sini? Pindah! Masih banyak kursi kosong di sana."
Amalia menjawab santai, "Nggak mau, aku suka makan di sebelah Oma. Bikin aku seneng."
Oma Ningsih sampai kehabisan kata-kata.
Anggota keluarga yang lain makan dalam diam, tak ada yang berani bersuara. Mereka takut amarah Oma Ningsih akan berimbas pada mereka.
Oma Ningsih mendengus, "Tapi Oma muak lihat muka kamu. Sana pindah, jangan sampai Oma lihat kamu."
Amalia membalas, "Justru karena Oma makin kesal lihat aku, makanya Oma harus lebih sering-sering lihat aku biar kebiasa."
Oma Ningsih membanting sendok dan garpunya ke atas meja, lalu berdiri untuk pergi.
Bianca buru-buru menyusul untuk memapahnya, lalu menatap Amalia dengan sorot mata penuh celaan. "Ya ampun, Amalia, tolong hargai Oma sedikit dong. Kamu nggak pantas ngomong begitu ke beliau."
Amalia tertawa pelan. Beberapa orang memang nggak pernah kapok.
"Amalia sayang, walaupun Tante bukan ibu kandungmu, Tante ini tetap orang tuamu. Kamu itu masih muda, tapi emosimu meledak-ledak banget. Oma itu sudah sepuh dan kesehatannya kurang baik. Tega banget kamu bikin beliau kesal begini? Kalau sampai kedengaran orang luar, keluarga kita bisa jadi bahan omongan se-Jakarta," tegur seorang wanita berwajah lembut dari seberang meja.
Begitu Tante Lisa selesai bicara, pria di sebelahnya ikut menimpali, "Betul itu. Namanya juga anak yang besar di kampung, sopan santunmu jelas nggak bisa dibandingin sama Bianca. Lihat tuh Bianca, selalu sopan, selalu nyapa, dan berbakti banget sama Oma. Dia bahkan rela ngelepas pernikahan yang bagus demi kamu. Kok kamu nggak tahu diuntung banget sih? Kamu tuh benar-benar beda jauh sama Bianca."
Suami istri itu bergantian menceramahi Amalia sambil terus memuji-muji Bianca.
Amalia hanya mendengarkan sambil perlahan menyendok sup ke mangkuknya.
Melihat Amalia diam saja, Om Hendra dan Tante Lisa saling berpandangan. Mereka mengira sudah berhasil menciutkan nyali gadis itu, dan merasa makin di atas angin.
Om Hendra menoleh ke arah Darmawan dan Rina. "Kalian harus didik Amalia dengan benar. Kalau nggak sanggup, kirim saja dia ke luar negeri beberapa tahun biar belajar tata krama. Kita nggak butuh anak yang cuma bikin malu keluarga di rumah. Lagipula, kita kan masih punya Bianca. Kalian nggak butuh anak perempuan lagi. Harusnya kalian dengar saranku dulu dan tetap kenalin Bianca sebagai anak kandung kalian."
Darmawan buru-buru menghabiskan minumannya, mengelap mulutnya, lalu berdiri sambil merapikan dasinya. "Aku nggak akan ngirim Amalia ke luar negeri. Dia itu anak keluarga Wijaya. Dia memang masih muda dan sedikit impulsif, tapi aku sendiri yang akan mendidiknya."
Dia mengambil tas kerjanya, bersiap untuk berangkat, tapi Om Hendra malah makin panas.
"Memangnya kenapa kalau dia keluarga Wijaya?" sergah Om Hendra. "Sejak dia balik, Mama sudah pingsan dua kali saking marahnya dan bilang nggak mau lihat mukanya lagi. Apa Mas mau putus hubungan sama Mama demi dia? Jangan lupa siapa yang besarin Mas. Mas mau ngerusak hubungan sama Mama cuma demi anak yang bahkan nggak tumbuh besar sama Mas?"
Darmawan membenarkan letak kacamatanya, menatap tajam ke arah adiknya itu. "Kamu kelihatannya peduli banget soal ini. Urus saja urusanmu sendiri."
"Mas..."
Ruang makan mendadak hening. Semua orang menahan napas melihat ketegangan itu.
Tepat pada saat itu, seorang asisten rumah tangga masuk. "Pak Darmawan, ada Tuan Kusuma di depan."
