Seratus delapan

Matahari mulai tenggelam di balik awan saat kami tiba kembali di rumah besar, jari-jari emasnya merentang di sepanjang jalan kerikil yang panjang. Kaki saya terasa sakit dalam sepatu yang lagi-lagi terlalu ketat, lagi-lagi bukan milik saya. Saya menggenggam tas kecil saya dengan longgar, seperti yan...

Masuk dan lanjutkan membaca