Seratus dua puluh dua

Begitu aku turun dari mobil, bangunan bermuka kaca itu menjulang di depanku seperti potongan foto majalah—licin, bersudut tegas, tanpa minta maaf karena begitu modern. Studio utama sang desainer. Tempat yang selama ini cuma kulihat dari jauh, lewat rubrik sosial yang mengilap atau obrolan setengah b...

Masuk dan lanjutkan membaca