Seratus dua puluh sembilan

Resleting di sisi gaunku macet.

Tentu saja. Aku hanya punya waktu tiga belas menit untuk bersiap-siap menghadiri Makan Malam Amal yang dihadiri oleh Tuan Bertram, dan semesta sepertinya bersekongkol melawanku. Jari-jariku gemetar mengutak-atik sutra saat aku membungkuk canggung di depan cermin, beru...

Masuk dan lanjutkan membaca