Seratus Empat Puluh Sembilan

Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai, lembut dan perak, perlahan-lahan seperti jari-jari yang membelai lantai. Aku terbangun bukan karena suara alarm atau langkah kaki di lorong, tetapi karena perasaan halus bahwa sesuatu telah berubah—sesuatu yang tenang namun tak bisa disangkal.

Aku duduk da...

Masuk dan lanjutkan membaca