Dua Ratus Delapan Belas

Aku tidak menyangka dia benar-benar datang.

Bukan hanya datang—tapi juga mengantarku sendiri.

Pagi itu, aku mondar-mandir gelisah di ruang depan, portofolio kupegang erat di dadaku seolah bisa melindungiku dari tatapan tajam yang akan kutemui. Perutku mual, dan bukan hanya karena mual pagi yang masi...

Masuk dan lanjutkan membaca