Tiga Ratus Dua Puluh

Matahari pagi menyinari apartemen di Jakarta, memberikan kilauan hangat pada lantai beton. Aku bisa mendengar dengungan kota di kejauhan—gemuruh lalu lintas, teriakan sesekali dari pedagang kaki lima—tapi rasanya jauh, hampir tidak relevan. Aku fokus pada stik plastik kecil di tanganku, jari-jari me...

Masuk dan lanjutkan membaca