Empat Puluh Sembilan

Kursi kulit itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaanku saja—beku di dalam, malu tak terkatakan. Aku duduk kaku di kursi belakang, tangan terletak di pangkuanku, gemetar sedikit saat aku menatap tanganku. Mataku pedih karena menangis, tapi aku tak berani membiarkan satu tete...

Masuk dan lanjutkan membaca