Lima Puluh Sembilan

Aku berdiri di depan cermin setinggi badan untuk ketiga kalinya, merapikan kain satin gaun merah marun yang berhasil kupilih dari sedikit opsi yang diizinkan. Sekilas aku sempat melirik labelnya. Seandainya saja ibu mertuaku membiarkanku merancang gaunku sendiri—yang membawa napasku, hatiku—tapi aku...

Masuk dan lanjutkan membaca