Bab 3 Kehamilan Terpapar

Sophia pulang seperti orang linglung.

Kepalanya kosong melompong, tak tahu harus bagaimana menghadapi kehamilan ini.

Ia duduk di sofa, menatap ke satu titik tanpa fokus, sama sekali tidak menyadari Zachary sedang mengamatinya dari lantai atas. Pemandangan itu justru menyulut amarah Zachary makin menjadi.

Sophia besar di lingkarannya. Bertahun-tahun, Zachary adalah satu-satunya laki-laki dalam hidupnya. Sekarang, bukan cuma berani selingkuh, Sophia bahkan nekat mengandung anak laki-laki lain!

Zachary mengeluarkan ponselnya dan mengetik cepat, mengirim pesan pada asistennya.

[Selidiki kegiatan Sophia belakangan ini. Cari tahu dia berhubungan dengan siapa saja. Aku mau semua detailnya, satu pun jangan ada yang terlewat.]

Dokter sudah memastikan usia kandungan satu bulan, artinya kejadian itu terjadi di sekitar waktu tersebut.

Sophia tak tahu apa yang sedang Zachary rencanakan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba merapikan benaknya.

Ini anaknya, dan ia harus bertanggung jawab.

Sophia mengambil berkas perceraian yang sudah ditandatangani dari laci, lalu mengetuk pintu ruang kerja.

Zachary sedang menekuni tumpukan dokumen.

Mata Sophia yang biasanya bening dan indah kini tampak redup, seolah sudah habis digerus lelah. “Tanda tangani ini. Hari ini kita sempat menyelesaikan semuanya di pengadilan.”

Mendengar itu, pena Zachary berhenti. Tekanannya begitu kuat sampai nyaris menembus kertas, dan tanda tangannya jadi terpelintir, tidak wajar.

“Kelihatannya kamu sudah lupa semua yang kubilang di rumah sakit,” kata Zachary tanpa mengangkat kepala.

“Aku akan urus Dylan. Mau kamu tanda tangan hari ini atau tidak, aku tetap akan pindah.”

Sophia mengira kemarahan Zachary semata karena ia menganggap dirinya dikhianati.

Bagaimanapun, sejak kecil Zachary hidup tanpa pernah benar-benar ditentang. Tak ada yang berani melawan kehendaknya.

Meski ia yang sebenarnya disakiti, ia memang sudah mempermalukannya.

Dengan getir, Sophia menertawakan dirinya sendiri dalam hati—kini mereka impas. Sama-sama mengkhianati pernikahan ini. Buat apa mempertahankan sandiwara yang malah bikin mereka muak?

Lagipula Zachary sejak awal memang tidak pernah benar-benar ingin menikah dengannya.

Sekarang, dia pasti akan makin jijik padanya.

Tatapan Zachary yang tajam mengunci Sophia.

“Apa istimewanya laki-laki itu sampai kamu berani mempertaruhkan semuanya buat dia? Kamu mau bawa anak itu kabur, lalu balik ke dia?”

Sophia sudah tidak ingin menanggapi tuduhan-tuduhan semacam itu lagi.

Ia menatap Zachary dan berkata tenang, “Kita berdua sudah mengkhianati pernikahan ini. Tidak ada gunanya saling menyalahkan.”

Zachary mematahkan penanya sampai terbelah dua.

“Paula dan aku itu masa lalu, Sophia. Sampai kapan kamu mau terus begini? Sabar aku ada batasnya. Kalau kamu mau menyingkirkan anak itu, aku anggap tidak pernah terjadi apa-apa.”

Zachary mengerahkan sisa kewarasan yang ia punya untuk menahan amarahnya. Itu konsesi terbesar yang bisa ia berikan.

Setiap kata membuat hati Sophia makin membeku.

Siapa yang pertama kali minta cerai? Siapa yang lebih dulu mengkhianati pernikahan ini?

Tapi dia malah bilang Sophia yang “terus begini”.

Sophia benar-benar kelelahan. “Tidak ada gunanya membahas ini lagi. Pernikahan ini harus selesai.”

Sejak kecil ia mengejar Zachary. Bertahun-tahun mengejar, menahan sakit dan jungkir balik berusaha menggapainya, membuatnya babak belur sampai tinggal sisa.

Cinta sekuat apa pun, kalau tak pernah dibalas, lama-lama pasti padam.

Setelah mengatakan itu, Sophia berbalik dan kembali ke kamarnya.

Dari belakang, terdengar suara sesuatu ditendang sampai terbalik dengan kasar.

Sophia tak peduli dan tak menoleh lagi.

Rumah ini dulu rumah pertama mereka setelah menikah. Tiga tahun ia tinggal di sini, jejaknya ada di mana-mana.

Tapi hampir tak ada tanda-tanda keberadaan Zachary, karena selama tiga tahun itu, ia nyaris tak pernah menghabiskan waktu di rumah.

Sophia cepat-cepat membereskan barang-barangnya. Saat ia mengangkat kepala, Zachary sudah berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin membeku.

“Jadi kamu sudah bulat? Kamu mau mempertaruhkan semuanya demi cinta sejati kamu?”

“Iya.”

Tak ada gunanya menjelaskan, dan sekalipun ia mencoba, Zachary tetap tak akan percaya.

Sophia memilih mengikuti saja asumsi Zachary.

Tiba-tiba ia teringat drama-drama romantis yang dulu sering ia tonton, yang tokoh laki-laki dan perempuannya selalu menolak berkomunikasi dengan jujur, sampai-sampai salah paham makin menganga.

Dulu ia heran, kenapa mereka nggak duduk dan ngomong baik-baik. Tapi sekarang, saat ia berada di posisi itu, ia baru paham. Ada hal-hal yang memang tak bisa diucapkan.

Ia menatap Zachary lalu bertanya, “Kamu masih ingat perjanjian pranikah kita? Kalau salah satu pihak mau mengakhiri pernikahan, pihak satunya harus setuju.”

Ironisnya, pasal itu justru tambahan dari Zachary sendiri. Ia menaruhnya sebagai jalan keluar—supaya suatu hari ia bisa menikahi Paula.

Sophia mendorong koper ke arah pintu. Namun baru lewat, Zachary langsung mencengkeram pergelangan tangannya.

Matanya penuh obsesi dan bahaya.

“Kamu yakin bajingan itu bisa menghidupi kamu dan anak itu? Kamu mau ke mana setelah keluar dari keluarga Spencer? Karena kamu yang minta cerai, kamu nggak akan dapat sepeser pun dariku.”

Sophia berusaha melepaskan diri dan berkata dingin, “Itu bukan urusan kamu. Aku punya tangan dan pendidikan. Aku bisa menghidupi diriku sendiri.”

“Kamu—!”

Zachary sampai tak bisa berkata-kata karena amarah.

Laki-laki sialan mana yang sudah mencuci otak Sophia sampai segitunya ingin pergi?

Melihat sikap Sophia yang sedingin itu padanya, ia justru merasa tak berdaya dengan cara yang tak ia duga. Sejak kapan Sophia yang penurut itu menghilang?

Sekarang seperti ada dinding tak kasatmata di antara mereka. Sophia berdiri tepat di depannya, tapi terasa sejauh berada di ujung dunia.

Sophia menggenggam gagang kopernya erat-erat, mencoba pergi, tapi tubuh Zachary menutup pintu sepenuhnya, tak menyisakan celah untuk lewat. Mereka berdua terjebak dalam kebuntuan yang canggung, tak satu pun mau mundur.

Wajah Zachary menggelap, ia hendak mengatakan sesuatu lagi ketika ponselnya tiba-tiba berdering.

Dylan.

Dari suaranya, Dylan terdengar sangat gembira.

“Zachary, kamu sama Sophia lagi bareng sekarang? Kenapa kabar sebagus ini nggak kamu bilang dari kemarin?”

Karena Sophia tepat di sana, ia jelas mendengarnya. Keduanya sama-sama mengernyit bingung.

Kabar bagus? Kabar bagus apaan!

Dylan tak bisa melihat raut kaget mereka dan terus bicara.

“Hari ini, waktu asisten rumah tangga kita nganterin anaknya kontrol, dia lihat kalian berdua di rumah sakit. Kalau dia nggak cerita, sampai kapan kalian mau nyimpen ini dari aku? Bawa Sophia ke sini sekarang. Aku mau umumkan ini ke media!”

Jantung mereka sama-sama jatuh.

Sial.

Bukan cuma kabarnya sudah sampai ke Dylan, tapi Dylan juga salah paham total!

Kalau kehamilan itu benar-benar sampai jadi konsumsi publik, Sophia bahkan tak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya