Bab 4 Perpisahan Badai

Kata-kata Pak Wibowo menyambar bagai petir, seketika menghentikan pertengkaran Citra dan Rangga.

Bagi mereka berdua, Pak Wibowo adalah sosok pilar keluarga yang tak mungkin diabaikan.

Rangga mengambil keputusan cepat. "Kita pulang dulu. Kita harus cari cara untuk menghadapi Bapak sebelum melakukan hal lain."

Citra mengatupkan bibir rapat-rapat, meletakkan kopernya, dan mengikuti Rangga keluar menuju mobil.

Perjalanan di dalam mobil terasa sunyi senyap. Citra bersandar di kaca jendela, tatapan kosongnya mengawasi jalanan yang berkelebat cepat.

Setibanya di Kediaman Wijaya, Citra langsung membuka pintu mobil dan melangkah masuk tanpa menunggu siapa pun.

Dulu, ke mana pun mereka pergi, Citra selalu menunggu Rangga agar mereka bisa masuk bersama.

Kini, setelah ada pria lain dan perceraian terlintas di benaknya, sikap perempuan itu jelas berbeda.

Wajah Rangga tampak muram saat menyusulnya ke dalam. Mereka berdiri beriringan di depan pintu, mengganti sepatu dalam keheningan yang menyesakkan dada.

Citra bergerak gontai; setelah semua yang terjadi, tenaganya terkuras habis dan dia sama sekali tidak tahu bagaimana harus menghadapi mertuanya itu.

Baru saja ia mengumpulkan keberanian, suara Pak Wibowo terdengar dari arah ruang makan.

"Bapak sudah suruh orang siapkan bistik sapi dan sop ayam di sini—makanan kesukaan Citra."

Hati Citra terasa mencelos, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremasnya kuat-kuat. Rasa perih menusuk dadanya.

Semakin baik perlakuan Pak Wibowo padanya, semakin besar pula rasa bersalah yang menghantuinya.

Ia sempat ragu sejenak, tetapi Rangga sudah selesai mengganti sepatu dan berjalan masuk.

Citra buru-buru menyusul, tak ingin menunda lebih lama lagi.

Meskipun ini hanya makan malam keluarga untuk tiga orang, Pak Wibowo telah menyiapkan hidangan penuh di atas meja.

Mendengar suara langkah dari pintu, Pak Wibowo mendongak dan melihat wajah Citra yang tampak sangat gusar.

Pria paruh baya itu langsung menatap Rangga sambil mengerutkan kening. "Rangga, Citra itu lagi hamil. Kamu harus belajar lebih pengertian. Nggak bisa lagi kamu seenaknya dan membiarkan istrimu yang terus-terusan mengalah!"

Citra menarik kursi untuk duduk, tetapi Pak Wibowo menghampiri dan menuntunnya ke kursi tepat di sebelah kirinya. Tatapannya begitu penuh kasih, menatap menantunya dengan kelembutan yang luar biasa.

"Ini anak pertama kamu dan Rangga—Bapak benar-benar bahagia!"

Saat Pak Wibowo dengan antusias menyebut "anak pertama", secara naluriah Citra melirik Rangga di sebelahnya.

Sorot mata pria itu menjadi lebih dingin, raut ketidaksukaan tergambar jelas di wajahnya.

Citra buru-buru memalingkan wajah.

Tentu saja, Rangga tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai istri.

Di benak pria itu, anak pertamanya seharusnya bersama Alya, kan?

Pak Wibowo terlalu larut dalam euforia menyambut cucu baru, sampai-sampai ia tidak menyadari gurat kelelahan yang amat sangat di wajah Citra.

Rangga mendekat, baru saja hendak duduk di sebelah kanan ayahnya, tetapi Pak Wibowo langsung memelototinya.

"Sudah berapa lama kamu nikah, kok masih nggak peka juga? Duduk di sebelah Citra, ambilkan apa pun yang dia mau makan."

Tubuh Rangga menegang sesaat sebelum ia bergeser dan duduk tepat di sebelah Citra.

Saat makan malam keluarga dimulai, Pak Wibowo terkekeh hangat. "Kehamilan Citra ini kabar yang sangat luar biasa buat keluarga kita. Bapak sudah hubungi media untuk mengumumkan kabar gembira ini. Nanti kalau anaknya sudah lahir, sisa saham yang Bapak pegang akan Bapak hibahkan ke dia sebagai tanda kasih sayang."

Wijaya Group saat ini sedang berada di puncak kejayaan, jadi nilai saham tersebut sudah pasti bernilai fantastis hingga puluhan miliar.

Sangat jelas terlihat betapa Pak Wibowo benar-benar menantikan kehadiran bayi ini.

Semakin besar antusiasme mertuanya itu, semakin cemas pula perasaan Citra.

Semakin tinggi harapan yang dilambungkan pria tua itu sekarang, akan semakin hancur pula perasaannya saat mengetahui kebenaran yang sesungguhnya nanti.

Citra tanpa sadar menegakkan punggungnya di kursi, raut wajahnya tegang. "Eyang, usia kandunganku masih sangat muda. Nggak perlu dibesar-besarkan dulu."

Sambil berkata begitu, ia melirik tajam ke arah Rangga, memberikan isyarat.

Rangga berdeham. "Eyang, ini masih terlalu dini. Kalaupun mau kasih tahu orang-orang, sebaiknya tunggu sampai bayinya benar-benar lahir."

Raut wajah Citra langsung berubah suram.

Di bawah meja, ia menendang pelan kaki suaminya itu.

Mengingat keadaan pernikahan mereka, mana mungkin mereka bisa bertahan sampai anak ini lahir?

Wajah Rangga sama sekali tidak berubah, tetap mempertahankan sikapnya yang tenang dan dingin.

Melihat keduanya sepakat, Eyang Wibowo tidak memaksa lebih jauh.

"Ya sudah, kita ikuti kata Rangga. Kita tunggu sampai cicit Eyang lahir, baru kita adakan syukuran besar-besaran!"

Sisa makan malam itu terasa hambar bagi Citra, seolah ia sedang mengunyah sekam. Perasaannya campur aduk antara cemas dan rasa mual yang menyiksa akibat bawaan hamil.

Di bawah pengawasan Eyang Wibowo, Rangga terus mengambilkan lauk untuk Citra sepanjang makan malam.

Melihat semua hidangan kesukaannya tersaji di piring, Citra sama sekali tidak berselera.

Setelah memaksakan diri makan beberapa suap, ia meletakkan sendok dan garpunya, lalu duduk diam.

Biasanya, setelah makan malam keluarga selesai, Rangga dan Citra akan langsung pamit pulang.

Namun hari ini, Eyang Wibowo tampak sangat khawatir.

Sepanjang makan malam, pria sepuh itu menyadari kalau keduanya tampak tidak fokus, dan mata Citra terlihat sembab, seolah mereka baru saja bertengkar hebat.

Ia tidak tega membiarkan mereka pulang dalam keadaan seperti ini.

"Kalian kan jarang-jarang mampir, menginaplah di sini malam ini. Eyang sudah minta asisten rumah tangga membereskan kamar kalian."

Eyang Wibowo tidak memberikan celah sedikit pun bagi mereka untuk menolak, langsung memutuskan secara sepihak.

Melihat mereka berjalan menuju kamar beriringan, Eyang Wibowo menarik lengan Rangga untuk bicara berdua.

"Hati Citra itu lembut. Kalau kamu bikin dia kesal, turunkan egomu dan minta maaflah. Apa pun masalahnya, bicarakan baik-baik."

Rangga hanya mengangguk sekenanya lalu masuk, menutup pintu kamar dan memutus tatapan penuh perhatian dari kakeknya.

Begitu berbalik, ia melihat Citra sudah mengambil selimut dan bantal cadangan, lalu menggelar kasur lipat di lantai.

"Malam ini terpaksa begini—kita tidur pisah ranjang."

Selesai merapikan tempat tidurnya di lantai, Citra yang menyadari Rangga sudah masuk, menjelaskan hal itu tanpa menatap mata suaminya. Ia lalu menyingkap selimut, bersiap untuk berbaring.

Rangga melangkah lebar menghampirinya, mencengkeram pergelangan tangan Citra dan menariknya berdiri.

"Tidur di kasur," perintahnya dingin.

Citra meronta sekuat tenaga, tetapi tenaganya jelas bukan tandingan Rangga.

"Aku kan sudah setuju untuk cerai. Kamu mau apa lagi sih?"

Mata Citra mulai berkaca-kaca. Ia menatap suaminya dengan kening berkerut marah, nada bicaranya sarat akan rasa jengkel.

"Apa kasur ini kurang besar buatmu? Atau kamu pikir aku bakal macam-macam sama wanita hamil?" cibir Rangga sinis.

"Aku cuma merasa ini nggak perlu. Karena kita mau cerai, sebaiknya kita perjelas batasan dan nggak usah ada urusan lagi, biar orang lain nggak salah paham!" dengus Citra.

'Orang lain' yang ia maksud tentu saja adalah Alya.

Namun, Rangga menangkap maksud yang berbeda. Amarah di matanya semakin berkobar, seolah ada api yang menyala di sana.

"Kamu lebih rela tidur di lantai daripada bikin selingkuhanmu itu salah paham?"

Dada pria itu bergemuruh, urat-urat di pelipisnya menonjol. Ia menatap Citra dengan sorot keras kepala, seolah menuntut jawaban mutlak dari bibir wanita itu.

Citra bungkam. Ia hanya mendongak, menantang tatapan Rangga tanpa gentar.

Setelah keheningan yang mencekam, Rangga akhirnya melepaskan cengkeramannya. Ia berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun, langkahnya cepat dan tegas.

Pintu dibanting tertutup dengan suara dentuman keras yang seolah ikut menghantam dada Citra.

Citra tertinggal sendiri, berdiri mematung di tepi ranjang dengan kepala tertunduk, memendam kepedihan yang menyesakkan dada.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya