Bab 7 Anak Siapakah Anda?
Seusai pelariannya yang nyaris merenggut nyawa, kaki Alya terasa seperti agar-agar saat ia melangkah masuk ke RS Evergreen. Nyaris saja ia ambruk tepat di lobi.
Seorang perawat segera berlari menghampiri, menopang tubuhnya.
“Aku perlu tahu… bayiku masih hidup atau nggak,” pinta Alya, bibirnya pucat dan bergetar.
Sepuluh menit kemudian, perawat itu kembali mengantar Alya ke ruang dokter, membawa hasil pemeriksaan.
Dokter jaga menatap lembaran hasil itu, lalu menggeleng pelan. “Dari hasil pemeriksaan, Ibu mengalami hematoma subkorion di rahim. Itu yang memicu perdarahan dan membuat Ibu mengira keguguran. Tapi sebenarnya kehamilan Ibu berkembang bagus. Nggak perlu khawatir.”
Begitu mendengar penjelasan itu, hawa dingin seolah menyapu seluruh tubuh Alya.
Dengan bibir masih gemetar, ia meminta kepastian, “Jadi… maksud Dokter, bayiku masih hidup?”
Dokter itu mengangguk. “Dan kondisinya sangat sehat. Selama Ibu jaga diri baik-baik, bayi ini pasti bisa lahir cukup bulan.”
Alya mengembuskan napas kecil, mengucapkan terima kasih, lalu keluar dengan langkah yang seperti bukan miliknya.
Ia nyaris jatuh ke bangku lorong, bersandar pada dinding putih yang bersih, berusaha mencerna semua yang terjadi beberapa hari terakhir.
Raka membenci pria yang sudah menghamilinya. Keberadaan bayi ini jadi pengingat terus-menerus bahwa dirinya pernah dikhianati.
Bagi Raka, itu garis yang tak bisa dimaafkan. Alya merasa seolah ribuan jarum menusuk jantungnya.
Ia tak pernah membayangkan Raka akan sejauh itu—bahkan sampai menyuap orang rumah sakit untuk menyingkirkan anak ini.
Air mata meluncur di pipinya. Alya mengangkat tangan, menyeka aliran yang tak mau berhenti.
Di detik itu juga, ia mengambil keputusan terakhirnya.
Ia harus pergi dari Raka.
Ia akan membawa anak ini, memulai hidup baru—hidup tanpa Raka….
Setelah menenangkan Paula yang masih terguncang, Raka tidak memejamkan mata semalaman, lalu pagi-pagi sekali ia bergegas ke rumah sakit bersama James.
Saat ia mendorong pintu kamar rawat, yang terlihat hanya seprai kusut.
Alya, yang seharusnya masih pemulihan di rumah sakit, menghilang begitu saja. Bahkan perawat yang ditugaskan menjaganya pun tidak ada.
Urat di pelipis Raka berdenyut jelas. “Alya di mana?”
Wajah James seketika pucat, ia buru-buru mengeluarkan ponsel untuk menghubungi pihak manajemen rumah sakit.
Kemarin waktu mereka membawanya masuk, Alya baik-baik saja. Bagaimana mungkin hari ini lenyap begitu saja?
Setengah jam kemudian, direktur rumah sakit dan perawat yang bertanggung jawab atas Alya berdiri di depan Raka, keduanya tampak panik sekaligus bersalah.
“Pak Spencer… pagi ini saat perawat kami menyiapkan Nyonya Spencer untuk tindakan kuret, Nyonya Spencer tiba-tiba lari sendiri. Entah bagaimana beliau bisa menghindari sistem keamanan rumah sakit, naik taksi, lalu menghilang.”
Raka menangkap satu kalimat kunci dari penjelasan itu, sorot matanya menggelap. “Alya keguguran? Kenapa saya nggak dikabari?”
Direktur itu menunduk, ada kilat singkat lewat di matanya. “Nyonya Spencer terluka akibat kebakaran. Dalam kondisi seperti itu, keguguran bisa dianggap… wajar, jadi kami tidak menghubungi keluarga. Siapa sangka…”
Raka tidak berminat mendengar alasan rumah sakit. Jari-jarinya yang panjang menarik dasinya dengan gelisah, lalu ia memerintah James.
“Cari dia. Gue nggak peduli caranya—temukan Alya.”
Tatapannya dingin, dan di dadanya ada amarah bercampur perasaan yang saling bertumpuk.
James tak berani menunda. Begitu menerima perintah, ia langsung mengerahkan orang-orang untuk memburu jejak Alya.
…
Lima tahun kemudian.
Sebuah pesawat mendarat perlahan di Bandara Kota Zamrud. Alya melangkah keluar sambil menggenggam tangan dua anak—satu di kiri, satu di kanan.
“Mama, ini Kota Zamrud yang Mama ceritain terus itu ya?” tanya Julia Taylor, mata bulatnya yang menggemaskan menyapu sekeliling dengan rasa ingin tahu.
Alya menarik napas panjang, lalu mengangguk.
Dalam lima tahun yang singkat, Kota Zamrud sudah berubah begitu banyak—sampai-sampai nyaris tak ada lagi yang sama dengan kota yang ia ingat.
“Rangga, kenapa dari tadi diam aja?” Alya menoleh ke samping, ke arah kakaknya, Rangga Pratama.
Begitu naik taksi, Alya ngoceh terus seperti burung pipit, muter-muter suaranya memenuhi ruang sempit di antara mereka bertiga.
Wajah Rangga tetap datar. “Berisik banget, sih.”
Dari dulu Rangga memang dingin, bahkan ke Alya pun nyaris nggak pernah kelihatan hangat.
Alya mendengus, manyun, lalu melotot ke profil kakaknya.
Ia malah menempel manja ke lengan Sari. “Bunda, hari ini kita mau ketemu siapa, sih?”
Sari mengelus lembut rambut Alya yang mengembang, senyum tipis hinggap di bibirnya.
“Anggap saja… dia itu seperti kakek buat Bunda.”
“Kakeknya kayak gimana?” Mata Alya berbinar penasaran, dan bahkan Rangga pun tak bisa menahan diri untuk melirik.
Sari memang tak pernah bercerita soal Pak Damar pada mereka.
Dalam ingatan Sari, wajah Pak Damar muncul jelas; senyumnya tanpa sadar makin lembut.
“Nanti juga kamu tahu kalau sudah ketemu.”
Selama yang Sari ingat, Pak Damar tak pernah marah pada mereka.
Bahkan lima tahun lalu, saat Sari pergi tanpa pamit—ketika akhirnya mereka tersambung lagi—yang Pak Damar tanyakan cuma apakah ia baik-baik saja di luar negeri.
Mengingat suara cemas itu di telepon, dada Sari kembali nyeri.
Lima tahun lalu, waktu ia pergi, kesehatan Pak Damar sudah mulai menurun.
Kali ini mereka pulang karena kondisi Pak Damar kritis.
Begitu Sari mendorong pintu kamar rawat dan melihat Pak Damar terbaring lemah di ranjang, ia tak kuasa menahan tangis.
Pak Damar tampak jauh lebih kurus, sama sekali bukan sosok yang ia simpan di kepala selama ini.
Mendengar suara pintu, Pak Damar pelan-pelan menoleh.
Begitu melihat Sari, mata tuanya langsung berbinar.
“Sari?”
Sari mengangguk sambil menghapus air mata. Begitu tangannya turun, Alya yang penasaran langsung berlari kecil ke sisi ranjang.
“Kamu orang yang Bunda aku pulang buat jenguk, ya?” Alya mengedipkan mata besarnya, wajahnya bikin siapa pun luluh.
Pak Damar berusaha duduk lebih tegak. Melihat dua anak itu, tatapannya sempat ragu sekejap. “Kamu pasti Alya?”
Alya mengangguk cepat, kedua kuncirnya memantul-mantul, lalu menyapa dengan suara manis.
Sari menyentil halus lengan Rangga, menyuruhnya mendekat dan salam.
Pak Damar memang sudah sering dengar cerita Sari tentang dua anak ini, tapi ketika mereka benar-benar berdiri di depannya, ia hampir tak berani percaya.
Namun melihat mereka pulang membuat hatinya lega.
Lalu Pak Damar menatap Sari dengan cemas. “Sari, kamu di sana nggak jaga diri, ya? Kok kelihatan makin kurus.”
Sari menahan tangis sambil menarik kursi dan duduk di sisi ranjang. “Bapak ngomong gitu? Bapak sendiri kenapa jadi begini… kurus tinggal tulang!”
Begitu Sari mulai bicara, suaranya jelas bergetar, penuh isak.
Pak Damar buru-buru mengulurkan tangan, ingin menghapus air matanya.
Alya awalnya duduk manis, tapi lama-lama bosan.
Ia menarik lengan Rangga, mengajak kakaknya berjalan jinjit menyusuri dinding, lalu menyelinap keluar kamar.
Sari sibuk mengejar cerita-cerita yang tertinggal bersama Pak Damar, sama sekali tidak menyadari gerak anak-anak itu.
Alya melangkah keluar dengan rasa ingin tahu, memandangi koridor rumah sakit.
“Bunda bilang kita nggak boleh keluyuran,” Rangga memperingatkan, suaranya tegas.
Ia meraih Alya, hendak menariknya kembali.
Alya malah lari kecil, menoleh sambil menjulurkan lidah ke arah Rangga dengan nakal. “Cuma lihat-lihat bentar doang, nanti juga balik…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Alya merasa tubuhnya menghantam sesuatu yang keras.
Sakit!
Hidungnya seperti mau patah.
Alya terjengkang jatuh, duduk di lantai sambil mengusap hidungnya, air mata menggenang.
“Anak siapa kamu? Orang tua kamu mana?” suara laki-laki terdengar dari atas.
Arman sempat melirik ke Dimas untuk memastikan dia tidak marah, lalu bergerak hendak menolong anak yang jatuh itu.
Namun Dimas sudah lebih dulu melangkah, berjongkok sebelum Arman sempat menyentuhnya.
Ia membantu Alya berdiri, lalu bertanya lembut, “Sakit jatuhnya?”
