Bab [1] Kasih Sayang Saudara
Suasana di dalam rumah begitu hening, sampai suara pintu yang tertutup dengan bunyi klik terdengar begitu jelas. Aku tahu mereka semua sudah pergi. Dengan langkah cepat, aku bergegas ke kamarnya dan langsung mengunci pintu dari dalam.
“Jangan … aku takut,” bisiknya.
“Tenang, ada aku di sini,” jawabku menenangkan.
… Kring, kring, kring! Ponselku berdering. Dari seberang telepon, terdengar suara dingin suamiku, Arjuna. "Rani dirawat di rumah sakit. Tolong bawakan beberapa setel pakaian ganti, pakaian dari rumah sakit tidak bersih."
Aku terkejut. "Ada apa? Dia baik-baik saja, kan?" tanyaku cemas.
Tut… tut… tut… Panggilan langsung diputus.
Menikah dengan Arjuna selama empat tahun, aku sudah terbiasa dengan sikap dinginnya. Setibanya di rumah sakit, aku baru sadar tidak tahu nomor kamar Rani. Kucoba menelepon Arjuna dan Rani, tapi tak satu pun dari mereka yang mengangkat. Akhirnya, aku bertanya pada perawat, tapi malah mendapat jawaban bahwa tidak ada pasien bernama Rani Kusuma.
Aku mulai panik dan berputar-putar di lobi. Tiba-tiba, di tengah keramaian, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Postur Arjuna yang tinggi tegap membuatnya begitu mencolok, mengingatkanku pada ungkapan menonjol di antara yang lain.
"Rani bagaimana? Kenapa teleponku tidak diangkat?" teriakku sambil berlari ke arahnya.
Pria angkuh itu hanya berdiri mematung, wajahnya tanpa ekspresi. "Berikan barangnya, kamu boleh pulang," katanya datar.
Ya Tuhan, aku datang jauh-jauh hanya untuk mengantar pakaian? Pekerjaan seperti ini bahkan bisa dilakukan oleh asisten rumah tangga. Apa perlu sampai aku, kakak iparnya sendiri, yang melakukannya?
"Dia sakit apa? Aku khawatir," desakku.
"Tidak serius, jangan khawatir."
"Kamu takut aku cemas, makanya tidak mau jujur, ya?"
Belakangan aku sadar, kekhawatiranku ini hanyalah kebodohan belaka.
Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tanpa basa-basi, ia merebut tas di tanganku dan pergi begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun. Aku terpaku di tempat, pikiranku berkecamuk. Jangan-jangan Rani menderita penyakit parah?
Aku kembali ke meja perawat. Setelah bersusah payah mencari informasi, akhirnya aku tahu penyakit yang diderita Rani: fisura ani. Dokter bahkan menambahkan keterangan, "Diduga akibat hubungan intim."
Mendengar itu, kepalaku terasa pening seketika. Aku nyaris terjatuh. Dosa apa yang telah kuperbuat?
Setahuku, Rani tidak punya pacar. Tapi anusnya robek karena hubungan intim, dan yang membawanya ke rumah sakit adalah suamiku sendiri. Kalaupun harus dirawat, kenapa sampai memakai nama palsu? Rahasia apa yang mereka sembunyikan?
Aku tetap mengucapkan terima kasih pada perawat, lalu berjalan gontai meninggalkan lobi. Samar-samar kudengar mereka berbisik di belakangku, "Zaman sekarang, anak muda memang berani sekali, ya. Kalau sudah rusak, baru tahu rasa dan mencari dokter untuk membereskannya."
Aku berjalan tanpa tujuan di koridor rumah sakit. Ingin pulang, tapi hati ini tidak rela. Ingin ke kamar rawatnya, tapi takut menghadapi kenyataan. Akhirnya, aku membulatkan tekad untuk menuju kamarnya. Kakiku terasa berat, seolah menolak. Aku berjalan sangat pelan, pikiranku terus melayang.
Rani Kusuma dan keluarga Pratama tidak punya hubungan darah. Ibunya, Bu Siti, adalah ibu tiri Arjuna. Dulu, Bu Siti menikah dengan ayah Arjuna sambil membawa serta putrinya, Rani. Saat itu, Rani berusia lima tahun, dan Arjuna tiga belas tahun. Bisa dibilang, mereka adalah kakak-beradik yang tumbuh bersama sejak kecil.
Setelah aku dan Arjuna menikah, Rani tiba-tiba berkata tidak ingin tinggal bersama orang tuanya di rumah utama keluarga. Ia bersikeras ingin tinggal bersama kami. Jadilah rumah pernikahan kami selalu dihuni oleh tiga orang. Dunia ini memang penuh dengan hal-hal aneh. Aku heran, kenapa dulu aku bisa setuju dengan permintaan itu. Selama beberapa tahun ini, aku sering memergoki Rani memeluk leher Arjuna dengan manja. Aku yang naif ini selalu berpikir itu hanyalah kedekatan biasa antara kakak dan adik. Tapi sekarang, siapa yang tahu apa yang mereka lakukan saat tidak ada orang lain?
Aku tak berani melanjutkan pikiranku. Dengan langkah terhuyung-huyung, aku tiba di depan pintu kamarnya. Melalui kaca pintu, aku melihat Rani terbaring di ranjang, wajahnya pucat pasi dengan air mata membasahi pipi mungilnya. Ia memegang tangan Arjuna sambil mengatakan sesuatu, terlihat begitu rapuh dan menyedihkan. Arjuna duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit condong ke depan seolah sedang berbisik menenangkan. Karena ia membelakangiku, aku tidak bisa melihat ekspresinya atau mendengar suaranya, tapi aku bisa merasakan betapa ia mengkhawatirkannya.
Tanganku menggenggam gagang pintu, tapi tidak sanggup memutarnya. Aku membeku, lalu akhirnya melepaskannya. Apa yang bisa kulakukan jika aku masuk sekarang? Membuat keributan? Tidak, itu terlalu gegabah. Bagi keluarga konglomerat seperti kami, terutama dalam pernikahan bisnis yang terjalin demi kepentingan ekonomi, menjaga citra adalah yang terpenting. Aku bisa kehilangan cinta, tapi tidak boleh kehilangan harga diri.
Sebelum menikah, teman-temanku sudah berkali-kali mengingatkanku, pernikahan bisnis mana ada cinta? Semua hanya dijalani seadanya. Tapi aku yang bodoh saat itu benar-benar percaya bahwa aku menikah karena cinta. Namun kemudian, keluargaku berubah. Ayah meninggal, dan Ibu berjuang sendirian menopang bisnis keluarga. Aku ingin membantu, tapi sayangnya tidak punya bakat bisnis. Jadi, perusahaan kami sangat bergantung pada bantuan Arjuna. Jika aku membuat keributan hanya berdasarkan dugaan, hubungan pernikahan kami yang sudah hambar ini mungkin tidak akan bisa dipertahankan lagi. Logikaku menyuruhku untuk pulang.
Di rumah tidak ada siapa-siapa. Ini memberiku kesempatan untuk mencari petunjuk. Aku memutuskan untuk menggeledah kamar Rani. Gadis sepertinya pasti punya banyak rahasia, dan kamarnya pasti menyimpan jejak.
Tapi aku salah perhitungan. Kamar Rani bahkan tidak memiliki satu buku atau selembar kertas pun, apalagi buku harian seperti yang kubayangkan.
Hanya ada sebuah foto di atas meja riasnya. Foto lama yang sudah agak menguning. Kondisinya yang usang sangat kontras dengan kamar tidurnya yang didekorasi dengan mewah. Benda itu terlihat sangat tidak pada tempatnya.
Namun, foto aneh inilah yang menjadi harta kesayangan Rani.
Di dalam foto, Rani kecil bersandar erat pada Arjuna yang jangkung. Foto ini diambil pada hari pertama Rani datang ke keluarga Pratama. Saat itu, Arjuna sudah seperti pemuda dewasa, pipinya masih ranum dan tampan, tapi wajahnya masam. Jelas sekali ia tidak ingin difoto, tapi tetap menuruti keinginan Rani.
Jadilah foto ini, foto favorit Rani.
Aku mengobrak-abrik kamarnya, tapi tak menemukan satu huruf pun. Ini sama sekali tidak terlihat seperti kamar seorang mahasiswi. Tapi jika mengingat Rani, ini wajar saja. Dia tidak pernah serius, sering bolos kuliah, dan hobi terbesarnya mungkin hanya menghabiskan uang.
Setiap kali kehabisan uang, ia akan merengek manja sambil menarik-narik lengan Arjuna.
Jika orang lain yang melakukannya, mungkin akan terlihat menyebalkan. Tapi tidak dengan Rani. Wajahnya imut, beratnya hanya sekitar tiga puluh lima kilogram dengan tinggi seratus lima puluh delapan sentimeter. Tubuhnya mungil seperti boneka porselen dari anime.
Jangankan Arjuna, bahkan aku sebagai kakak iparnya saja sering tak tahan untuk mentransfer empat puluh juta rupiah sebagai uang jajan tambahan untuknya.
Tapi sekarang, aku menyesalinya. Lebih baik uang itu kuberikan untuk pakan anjing!
Aku tidak menyerah. Aku pergi ke ruang kerja Arjuna, bahkan memeriksa kontrak-kontrak di dalam brankas. Tetap saja, nihil.
Pukul tiga dini hari, aku membuka ponsel dan mencari di internet, "Cara menemukan jejak perselingkuhan suami."
Trik-trik yang diberikan warganet tidak ada yang cocok untuk keluarga besar seperti kami.
Aku berbaring di tempat tidur, tak bisa tidur. Setelah berpikir sejenak, aku mengiriminya pesan, "Sayang, malam ini pulang?"
Kenapa aku mengirim pesan itu? Karena aku sadar, aku ingin menggunakan perhatiannya padaku sebagai bukti bahwa ia tidak selingkuh. Jauh di lubuk hatiku, aku menolak menerima perselingkuhannya, apalagi dengan adik iparku sendiri.
Tapi aku juga tahu, ia pasti tidak akan pulang. Ia pasti akan menjaga Rani semalaman suntuk, tanpa tidur.
Tak disangka, Arjuna langsung membalas. Meskipun hanya satu kata dingin, "Pulang," fakta bahwa ia membalas pesanku sudah cukup membuatku girang bukan main.
Aku segera bertindak. Kuganti pakaianku dengan lingerie paling seksi yang kumiliki, lalu duduk di sofa ruang tamu di lantai satu, agar ia bisa langsung melihatku begitu membuka pintu. Aku ingin menghargai momen berdua yang langka ini.
Tapi lagi-lagi, aku salah perhitungan. Waktu berlalu menit demi menit, dan ia tak kunjung kembali…
Dia membohongiku.
Aku memeluk ponselku, air mata menetes satu per satu di atas layar.
Dalam keadaan setengah sadar, entah kapan aku tertidur. Tiba-tiba, aku merasakan seseorang mengguncang bahuku. Saat kubuka mata, wajah tampan dan angkuh Arjuna muncul di hadapanku.
Aku bangkit dari sofa. Selimut yang menutupi tubuhku tanpa sengaja melorot, memperlihatkan diriku yang telah "dipersiapkan" dengan saksama. Aku sengaja memutar tubuhku, membentuk pose lekuk S, dan bertanya dengan lembut, "Sayang, lapar nggak? Mau makan sesuatu?"
Ia ragu sejenak, lalu seperti yang kuduga, ia langsung menggendongku menuju kamar tidur di lantai atas.
Aku mencium jakunnya, setengah merayu, setengah membujuk, "Sayang, aku mau…"
Tapi dia tidak melakukannya…
"Pakai bajumu, nanti kedinginan." Ia meletakkanku di atas ranjang, mengucapkan kalimat dingin itu, lalu berbalik masuk ke kamar mandi.
Hatiku membeku seketika. Dia bisa begitu bergairah hingga membuat Rani masuk rumah sakit, tapi tidak mau menyentuhku, istrinya yang sah. Apakah bercinta denganku begitu menjijikkan?
Gairahku surut seketika. Aku bersandar di dinding yang dingin, membiarkan otakku yang tadinya dikuasai nafsu kembali berpikir jernih. Aku memutuskan untuk mengujinya sekali lagi.
