Bab [3] Dua Insiden Berdarah

Hakim Herman sedang bermasturbasi!

Dia mengabaikanku, istrinya yang masih hidup dan bernapas, tapi malah memilih memuaskan dirinya sambil menatap foto Maya Nurhayati!

Entah karena merasa malu pada diriku sendiri atau malu untuknya, perasaan campur aduk ini membuatku bersembunyi di balik pintu. Tak lama kemudian, suara-suara sensual mulai terdengar dari dalam walk-in closet, begitu menggoda hingga membuat bulu kuduk berdiri.

Aku berdiri bertelanjang kaki di lantai yang dingin, hawa dingin itu langsung merayap ke seluruh tubuhku. Aku seolah membeku, terpaku di tempat, tak bisa bergerak sedikit pun.

Aku mendengarnya menarik beberapa lembar tisu. Kukira dia akan selesai, tapi ternyata, pria perkasa itu malah memulai ronde baru.

Hatiku hancur berkeping-keping. Kali ini, aku benar-benar terluka. Setiap desahannya terasa seperti sayatan pisau yang menggores hatiku.

Aku kembali ke kamar, pintu tertutup pelan di belakangku, seolah memisahkanku dari semua kekacauan di luar. Kamar itu sunyi senyap, hanya detak jantungku sendiri yang bergemuruh di telinga. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan, seperti bendungan yang jebol, mengaburkan pandanganku. Aku terduduk lemas di tepi tempat tidur, membiarkan air mata mengalir deras, hatiku dipenuhi kekecewaan dan kemarahan pada Hakim Herman. Aku teringat semua keanehan sikapnya selama ini. Hatiku terasa seperti disayat-sayat, rasa sakitnya datang bagai gelombang pasang.

Aku menyeka air mataku. Sebuah tekad mulai terbentuk di dalam hati. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus menemukan bukti, mengungkap kebenaran di balik pengkhianatan ini. Hanya dengan cara itu, aku bisa mendapatkan bagian harta yang lebih besar setelah bercerai nanti! Sebenarnya, uang tidak begitu penting bagiku, tapi aku tidak sudi membiarkan uang hasil jerih payahku dinikmati oleh Maya Nurhayati!

Dengan cepat, aku mencuci muka dan merias diri. Aku harus sampai di rumah sakit mendahului Hakim untuk menemui Maya Nurhayati.


Aku melangkah masuk ke kamar rawat di rumah sakit. Maya Nurhayati sedang asyik menunduk memainkan ponselnya, seolah tak peduli dengan dunia di sekitarnya. Kondisinya tampak baik-baik saja, tetapi begitu melihatku masuk, raut wajahnya langsung berubah-ubah, lebih cepat dari lampu lalu lintas.

"Clara Tanoto, kok kamu di sini!"

Benar. Dia memang selalu memanggilku langsung dengan nama lengkapku. Dulu kukira itu tanda kedekatan kami, tapi sekarang aku sadar, mungkin dia memang tidak sudi menyebut panggilan "Kak Ipar".

Memangnya kenapa? Apa dia pikir dengan tidak memanggilku Kak Ipar, dia bisa merebut posisi itu?

Mimpi!

"Maya, kamu sakit apa?" tanyaku penuh perhatian, berusaha membuat suaraku terdengar seramah mungkin.

Dia mengangkat kepala, wajahnya sedikit memerah. Dia menggesekkan pipinya ke telapak tanganku, lalu tersenyum manja. "Ih, Mas Herman nyebelin, deh. Kan udah dibilang jangan kasih tahu keluarga, aku cuma nggak mau Kakak khawatir." Suaranya terdengar lembut, seperti anak kucing yang sedang bermanja-manja.

"Terus, kamu mau makan sesuatu?"

"Aku mau apel." Matanya berbinar, penuh harap seperti anak kecil. Dia terkikik sambil terus berakting imut, tangannya yang mungil diletakkan di dada seolah sedang merajuk padaku.

"Oke, aku kupasin, ya." Aku mengangguk, mengambil pisau buah, dan dengan terampil mulai mengupas apel. Gerakan pisau di kulit buah itu mengeluarkan suara kres-kres yang renyah.

Aku ini memang bodoh.

Sebelum ke rumah sakit, niat awalku adalah mencari bukti perselingkuhan Hakim. Aku juga sudah bertekad tidak akan bersikap baik lagi pada adik iparku ini. Tapi, begitu mendengar caranya bicara, teringat semua kenangan kami, dan mengingat bahwa semuanya belum terbukti, hatiku luluh juga.

Bagaimanapun, aku dulu benar-benar tulus padanya. Empat tahun kami hidup bersama, aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Apa pun yang aku punya, dia pasti juga punya. Setiap kali dia masuk ke kamarku dan menginginkan sesuatu, aku akan memberikannya tanpa berpikir dua kali.

Jika dia benar-benar melakukan hal serendah itu, rasanya seperti menusukku dari belakang, tepat di depan mataku sendiri.

"Kakak baik banget, deh." Maya Nurhayati menatapku, seulas senyum tersungging di bibirnya, matanya berbinar jenaka.

"Ya iyalah. Aku kan Kakak Iparmu." Aku memotong apel yang sudah dikupas menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyodorkannya. "Nih, cobain."

Dia mengambil sepotong apel, menggigitnya, dan senyum puas terukir di wajahnya. "Manis banget! Emang beda kalau yang kupasin Clara Tanoto."

Sambil mengunyah apel, dia menyodorkan ponselnya padaku. "Lihat deh foto yang barusan aku ambil, cantik nggak?" Di foto itu, berkat filter kecantikan, wajahnya terlihat merona sehat. Dia lebih mirip cosplayer yang memerankan orang sakit di acara festival daripada pasien sungguhan.

Dia menggeser layar, menunjukkan hasil jepretannya satu per satu sambil menggerutu, "Mas Herman tuh jahat banget, cuma basa-basi doang. Lihat nih, aku kirim foto, dia cuma balas 'Iya'."

Tiba-tiba aku teringat lagi bagaimana Hakim bermasturbasi. Dia pasti melakukannya sambil melihat foto-foto ini. Aku juga sempat melihat riwayat obrolan mereka. Sikap Hakim di sana sungguh lembut.

[Aku cantik nggak?]

[Iya]

[Mas kok belum ke sini?]

[Bentar lagi]

[Terus, menurut Mas mana yang paling bagus?]

[Yang kedua]

...

Dibandingkan dengan obrolannya dengan Maya, balasan Hakim untukku memang sangat singkat. Bahkan jika semua pesanku digabungkan, jumlah balasannya tidak akan sampai sepersepuluh dari balasannya untuk Maya.

Perbedaan yang begitu jelas, bagaimana bisa selama ini aku buta dan tidak melihat apa-apa?

"Kakakmu sibuk," kataku sedikit linglung.

Tiba-tiba, pintu kamar didorong terbuka.

"Clara Tanoto, kenapa kamu di sini!"

"Mas! Kamu datang!"

Suara kakak-beradik itu terdengar bersamaan. Hakim berjalan cepat ke arahku. Aku merasakan pergelangan tanganku dicengkeram erat, lalu diseret keluar dari kamar. "Brak!" Bahuku menabrak kusen pintu. Aku menggigit bibir menahan sakit, air mata langsung menggenang di pelupuk mata.

Di koridor, dia menunduk sambil menggulung lengan kemejanya. Bicaranya pelan tapi sangat serius, "Jelasin, kamu ini sebenarnya kenapa?"

"Aku cuma mau jenguk Maya, aku khawatir. Karena kamu sudah datang, aku pulang se..."

"Nggak ada yang perlu dilihat. Sudah kubilang ini penyakit lamanya."

Aku berpikir, dia melarangku menjenguk tapi dia sendiri menjaganya siang dan malam. Bukankah ini karena dia merasa bersalah? Jadi, aku bertanya, "Kenapa kamu begitu takut aku ke sini? Apa kamu menyembuny..."

Belum selesai aku bicara, tangisan histeris meledak dari dalam kamar.

"Mas! Mas Herman!" Mendengar jeritan itu, tubuh Hakim seolah tersengat listrik, secara refleks hendak berlari kembali ke dalam. Tanpa sadar aku menarik ujung lengan kemejanya. "Sayang, kalau gitu aku pu..."

Hakim menoleh dan memotong ucapanku, "Sudah, urusan kita nanti di rumah! Kamu nggak lihat Maya kenapa?!"

Raut wajahnya yang panik membuatku tertegun sejenak. Aku lupa melepaskan peganganku. Dia menarik lengannya dengan kasar untuk masuk ke kamar. Kancing di ujung lengan bajunya menyangkut di kuku ibu jariku. Aku menjerit pelan kesakitan dan refleks melepaskan tanganku. Saat aku menunduk, kuku jariku sudah robek dan berdarah.

Tapi pandangannya hanya tertuju pada Maya Nurhayati.

Aku menatap punggungnya yang sibuk mengurus wanita lain, dan aku bisa merasakan cinta dan kekagumanku selama dua puluh tahun ini perlahan hancur berkeping-keping.


Rasa sakit di ibu jariku datang seperti gelombang pasang. Aku menatap kuku yang terlepas dengan perasaan cemas. Meskipun begitu, aku memutuskan untuk mendaftar ke dokter sendiri. Bau desinfektan yang menyengat memenuhi udara. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarku, semua tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

"Permisi, mau daftar ke poli apa?" tanyaku di meja pendaftaran, suaraku sedikit bergetar.

"Bedah Tangan," jawab perawat itu sambil menatapku sekilas, lalu dengan cepat membuatkan nomor antrean. Aku menerima kertas itu, dalam hati berdoa semoga semuanya lancar.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya namaku dipanggil. Dokter memeriksa tanganku dengan teliti, alisnya sedikit berkerut. "Kondisi ini perlu dioperasi. Sebaiknya ada keluarga yang menemani."

"Saya bisa sendiri, Dok." Aku berusaha tegar, meski hati ini mulai panik.

"Anda memang berani, tapi setelah operasi perlu ada yang merawat," kata dokter dengan nada lembut, seolah memberiku semangat.

Aku mengangguk, tapi pikiranku melayang pada Hakim Herman. Dia pasti akan datang, kan?

Aku mengeluarkan ponsel, mencoba meneleponnya, tapi yang terdengar hanyalah nada sibuk yang dingin. Rasa kecewa langsung menyergap hatiku, tapi aku tahu aku tidak boleh ragu lagi.

"Saya akan ke ruang operasi sendiri," kataku pada dokter dengan mantap.

"Baik, kalau itu keputusanmu, mari kita mulai." Dokter itu tersenyum tipis, sepertinya menghargai keberanianku.

Di luar ruang operasi, aku menarik napas dalam-dalam. Jantungku berdebar kencang. Seorang perawat membuka pintu dan memberi isyarat agar aku masuk. Ruangan itu terang benderang, alat-alat bedah tersusun rapi, dan udara dipenuhi bau desinfektan.

"Rileks saja, operasinya cepat selesai," kata dokter di sampingku dengan suara menenangkan.

Aku mengangguk, berusaha membuat diriku serileks mungkin. Saat operasi dimulai, aku bisa merasakan sedikit ketegangan, tapi suara dokter bagaikan obat penenang. "Kamu sangat berani, pertahankan terus, ya."

Seiring berjalannya operasi, aku memejamkan mata dan berbisik dalam hati, "Semuanya akan baik-baik saja."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya