Bab [42] Berlutut dan Meminta Maaf

“Hakim Herman, aku benci kamu. Kenapa kamu bohongi aku? Kenapa kamu bawa aku ke sini?”

Aku mengangkat wajah, menatap tajam Hakim Herman dan menuntutnya dengan suara lantang.

“Heh, Clara, kamu ini memang cerdas, tapi kadang bisa sebodoh ini juga, ya. Kalau kamu nggak ditipu, apa kamu bakal nurut...

Masuk dan lanjutkan membaca