Bab [43] Ciuman Panas di Ruang Bawah Tanah

"Pergi!" Rahang Hakim Herman mengeras, suaranya tidak keras, tetapi penuh dengan kekuatan yang menggetarkan.

Maya Nurhayati tertegun sejenak, lalu mundur keluar dari pintu. Sebelum pergi, tatapan matanya seolah menyimpan seekor binatang buas yang siap menerkam dan menelanku hidup-hidup.

Aku terbar...

Masuk dan lanjutkan membaca