Bab [6] Dia Hanya Adikku!

"Kamu nggak cinta aku."

Aku menatap lurus ke dalam mata Hakim Herman yang berkaca-kaca, mengucapkan setiap kata dengan penekanan.

Lalu, aku membuang muka, tak sanggup lagi menatapnya.

Sekarang, di mana pun aku melihat, aku selalu menemukan bukti bahwa dia tidak lagi mencintaiku. Kesabarannya untukku sudah habis tak bersisa.

Ya, aku sudah tidak punya harapan lagi.

Melihatku berpaling, Hakim menarik pergelangan tanganku, menyeretku menuju ruang ganti pakaian.

"Hakim, lepasin aku!"

Mengingat apa yang ia lakukan di sana tadi pagi, aku tidak sudi melangkahkan kaki ke ruangan itu lagi.

Aku meronta sekuat tenaga, tapi cengkeraman Hakim malah semakin kencang.

Dengan satu lengan, Hakim menjepitku ke pintu ruang ganti, sementara tangan lainnya dengan kurang ajar mengangkat daguku. Aku terpaksa menatap matanya.

Wajahnya menggelap, suaranya dingin menusuk. "Clara Tanoto, kalau kamu begini terus, bagaimana aku bisa bawa kamu pulang ke rumah?"

Aku menarik-narik ujung gaunku dengan gugup.

"Ini semua salahmu. Gaun bagus-bagus jadi kusut begini, memang sudah nggak bisa dipakai lagi," kataku, berusaha melunakkan suasana. Suaraku kubuat terdengar manja.

"Kamu pilihin satu buat aku, ya? Aku percaya sama selera suamiku."

"Sekarang kamu berani nyuruh-nyuruh aku?" tanyanya balik, dengan nada sok santun tapi munafik.

Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Pinggangnya begitu kencang dan ramping, tanpa sedikit pun lemak, seperti remaja delapan belas tahun.

"Memangnya kenapa? Cuma pilihin baju aja nggak boleh?"

Hakim di hadapanku ini terasa begitu asing. Benarkah ini pria yang kucintai selama dua puluh tahun?

Aku belum pernah sekalipun merasakan dilayani olehnya. Sejak menikah, justru akulah yang mengatur hidupnya sampai ke detail terkecil. Sekarang, karena kami akan berpisah, aku harus mencari cara untuk menebus semua itu.

"Ini yang terakhir kali. Nyonya yang lain nggak akan dapat perlakuan seperti ini."

Hakim mengambil sebuah cheongsam berwarna putih gading lalu melemparkannya hingga menutupi kepalaku, kemudian berbalik keluar dari ruang ganti.

"Nyonya lain mungkin nggak dapat perlakuan ini, tapi Maya Nurhayati pasti dapat," gumamku sambil menarik gaun itu dari kepalaku dengan kesal.

"Clara Tanoto! Kamu mau bikin masalah sampai kapan?! Maya itu adikku!"

Dia selalu mengurus adik tirinya itu dengan tangannya sendiri, tapi giliranku, semuanya terasa seperti anugerah yang harus kusyukuri.

"Adik? Kamu berani bilang kalau Maya Nurhayati itu nggak punya perasaan lain ke kamu?" suaraku meninggi.

Sekali lagi, Hakim mendorongku ke dinding. Bibirnya menyergap bibirku tanpa ampun, membuatku tak punya ruang untuk menghindar.

Karena kita akan berpisah, lebih baik aku nikmati saja semua ini untuk diriku sendiri, pikirku dalam hati, sambil membalas ciuman panas Hakim.

"Ingat posisimu. Cukup jadi Nyonya Herman yang baik," kata Hakim dengan suara berat, tidak melanjutkan ciumannya. "Soal yang lain, itu bukan urusanmu!"

Memanfaatkan kelengahan Hakim, aku berbalik dan naik ke kamar tidur di lantai atas. Hakim tidak mengikutiku. Jelas, dia lebih menyukai ruang ganti.

Aku berdiri di depan cermin, mencoba cheongsam itu. Kain sutranya yang dihiasi bordiran bulan dan bunga yang indah membuatku seolah berada di tengah lautan bunga, terasa ringan dan anggun.

Aku membuka meja rias, memoles wajahku dengan riasan tipis, lalu mengambil sebuah tusuk konde untuk menyanggul rambut panjangku. Dengan sebuah kipas bulat berwarna senada, aku pun turun ke bawah.

Hakim, dengan setelan jasnya yang rapi, duduk di sofa dengan ekspresi dingin. Mendengar langkahku, dia berdiri dan menatapku.

Saat mata kami bertemu, tubuhku seakan tersengat listrik. Meski sudah empat tahun menikah, wajahnya yang tampan dan posturnya yang tegap masih saja membuat hatiku luluh.

Namun, Hakim sepertinya tidak memperhatikan lekuk tubuhku yang dibalut cheongsam. Tangannya dengan santai memainkan seuntai tasbih. "Perhiasan satu pun nggak dipakai. Orang yang nggak tahu bisa mikir aku bangkrut!"

"Aku kasih kamu lima menit. Pakai perhiasannya, lalu temui aku."

Setelah berkata begitu, dia meninggalkanku dan pergi ke halaman untuk mengambil mobil.

Kak Gunawan, asisten kami, dengan canggung menyodorkan sebuah kotak perhiasan yang indah.

"Nyonya, ini perhiasan yang Pak Herman pilihkan khusus untuk Nyonya. Bagaimana kalau..."

"Kak Gunawan, Kakak juga merasa Maya Nurhayati lebih cocok dengan Hakim, kan?" tanyaku sambil menghela napas, menatap punggung Hakim yang menjauh.

"Nyonya, jangan bicara seperti itu," potong Kak Gunawan. "Nona Maya itu adiknya Pak Herman. Tentu saja Nyonya dan Pak Herman yang paling serasi. Tuan Besar dan Nyonya Besar juga sangat menyayangi Nyonya!"

Membayangkan Hakim akan kesal karena hal seperti ini, entah kenapa aku malah merasa sedikit geli. Sebenarnya, aku hanya tidak ingin masuk ke ruang ganti itu lagi.

Aku berjalan dalam diam menuju mobil. Saat hendak membuka pintu depan, dia menghentikanku. "Kamu duduk di belakang. Depan untuk Maya."

"Kenapa?"

Aku terpaku, tanganku masih mengambang di udara.

"Kita ke rumah sakit dulu. Maya nggak enak badan, biar dia duduk di depan."

Melihatku membeku, Hakim membunyikan klakson dengan tidak sabar. Suara melengking itu menarikku kembali ke dunia nyata.

"Kamu jadi naik nggak?" Suara dingin Hakim menusuk telingaku.

Dalam beberapa detik yang singkat itu, duniaku seakan diguncang gempa dahsyat. Aku hancur berkeping-keping, lalu menumpuk sisa-sisa diriku di kursi belakang.

Jemariku mencengkeram pintu mobil begitu erat hingga buku-buku jariku memutih. Senyum yang tadi kupasang di wajahku lenyap seketika.

"Kakak!" Dari kejauhan, Maya Nurhayati melambaikan tangannya, menunggu kami menjemputnya untuk pulang ke rumah keluarga.

Kondisinya terlihat sudah membaik, hanya cara berjalannya yang sedikit aneh.

Hakim bergegas turun dari mobil dan memapah Maya duduk di kursi penumpang depan.

Siapa pun yang tidak tahu apa-apa tidak akan berpikir macam-macam. Justru aku, Nyonya Herman yang sah, sekarang terlihat seperti obat nyamuk.

Mobil melaju dengan mulus menuju rumah besar keluarga Herman. Udara yang tadinya pengap seketika menjadi lebih ramai setelah Maya masuk.

"Kak, aku senang sekali Kakak dan Kak Clara jemput aku. Aku harap nanti kalau kalian pergi main atau makan enak di mana pun, ajak aku juga ya. Kita sekeluarga harus bahagia setiap hari seperti hari ini."

Aku tidak menjawab. Hakim juga diam. Maya bertanya lagi, "Kakak, boleh ya?"

"Iya."

Tidak puas dengan jawaban Hakim, Maya menoleh ke arahku, merajuk manja, "Clara... Clara... Clara... Boleh ya?"

"Iya."

Aku hanya bisa menjawab begitu.

"Kalau begitu aku tenang, deh. Kalian jangan berantem lagi, ya."

Melihat gadis yang tampak polos di kursi depan ini, dulu aku hanya menganggapnya sebagai si pelakor manja yang menyebalkan. Sekarang, aku baru sadar betapa lihai permainannya.

Menjadikan kakaknya sebagai pusat, aku sebagai radiusnya, rengekan sebagai senjatanya, dan tujuannya adalah membuatku melihat dengan jelas interaksi di antara mereka.

Dia berhasil.

Mobil berhenti mulus di halaman rumah besar keluarga Herman. Nyonya Siti Nurhayati langsung menyambutku dengan pelukan hangat. Setelah itu, ia melirik tajam ke arah Maya seolah tanpa sengaja, lalu menarikku ke dapur.

Melihat tanganku terluka, beliau meraihnya, meniup-niupnya dengan lembut, dan bertanya hati-hati, "Kenapa ini? Sakit, nggak?"

Aku menarik tanganku. Hanya dengan memikirkannya saja, hatiku sudah terasa sangat sakit.

Aku tidak ingin membahas kejadian di kamar itu, jadi aku mengalihkan pembicaraan. Beliau lalu dengan antusias menyodorkan semangkuk ramuan herbal.

"Ibu beberapa hari lalu ke Bandung. Di sana ada ahli pengobatan tradisional yang terkenal. Ibu sengaja minta resep ini untukmu, buat menyuburkan kandungan."

Beliau mendorong mangkuk itu ke arahku, menatap perutku dengan penuh harap. "Minum selagi hangat. Jaga baik-baik badanmu, biar cepat kasih kami cucu yang gemuk!"

Tatapan itu membuatku sedikit salah tingkah. Meski begitu, aku tetap menutup hidung dan menenggak habis ramuan itu. Sebutir manisan plum langsung disodorkan ke mulutku.

"Anak pintar," Nyonya Herman tersenyum memujiku. "Sekarang, antarkan mangkuk ini untuk Hakim. Anak bandel itu nggak pernah mau nurut sama Ibu."

Sambil menerima mangkuk dari Siti Nurhayati, aku membatin, Bagaimana caranya punya anak sendirian? Aku kan tidak bisa berkembang biak tanpa pembuahan.

Jika pernikahanku dengan Hakim benar-benar sampai pada titik tidak bisa diselamatkan, mungkin hanya ikatan kekeluargaan inilah yang akan membuatku berat untuk melepaskannya.

"Sayang, ini ramuan dari Ibu untukmu. Minum selagi hangat, ya."

Aku membawa nampan itu, berjongkok di samping Hakim, dan berbisik malu-malu, "Orang tua sudah ingin menimang cucu."

Semua orang di ruangan itu, kecuali aku, tampak terkejut. Maklum, biasanya aku selalu menjaga sikap malu-malu seorang wanita di depan pria yang kucintai, tidak pernah sefrontal ini.

Budi Herman, ayah mertuaku, menurunkan korannya dan berdeham. "Bukan begitu, kok. Soal anak itu terserah kalian berdua saja. Cuma si Agus itu, lho, di grup mancing pamer foto anaknya terus. Menyebalkan sekali, kan, Clara?"

Setelah berbicara panjang lebar, beliau mulai terbatuk-batuk hebat.

Dulu, demi memajukan Perusahaan Herman, kesehatan Budi Herman sudah lama terkuras. Sekarang, setelah Hakim bisa diandalkan, barulah beliau bisa pensiun dan menjalani hidup santai dengan membaca koran dan memancing.

Namun, seiring kondisi kesehatannya yang memburuk, energinya lebih banyak dihabiskan untuk bolak-balik ke rumah sakit. Mungkin karena sadar akan kondisinya, Kakek Herman menjadi semakin peduli pada kelangsungan garis keturunan keluarga Herman.

Aku menepuk-nepuk punggungnya sambil menenangkannya dengan beberapa kata. Hakim mengatupkan bibirnya, tampak puas karena aku tidak menyinggung soal perceraian. Ada sedikit senyum di matanya saat ia menenggak habis ramuan itu.

Melihat Hakim meletakkan mangkuk kosongnya, aku berjinjit dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya. "Begini, kan, jadi nggak pahit lagi."

Dari sudut mataku, kulihat senyum di wajah Maya membeku.

Ekspresi seperti itu, bukankah sudah menjelaskan segalanya? Hanya saja, aku belum punya bukti...

Di depan orang yang tidak tahu apa-apa, aku tidak akan berinisiatif merobek selubung ini. Tapi jika ada yang tidak tahan lebih dulu dan menunjukkan belangnya, itu bukan salahku.

Semakin dekat dengan kebenaran, aku semakin takut. Namun, aku tidak bisa menahan hasratku untuk terus menguji...

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya