4
Saat pertama kali mendengar tentang peretas itu—Red—aku sudah mengira Red pasti laki-laki. Salahin saja pola pikir misoginis sialan yang tertanam di kepala, tapi rasanya cocok. Tak mungkin ada perempuan yang nekat membobol organisasi seperti punyaku dan keluarga-keluarga kriminal lain. Tak ada perempuan yang punya nyali segede itu—begitu yang kupikir.
Aku keliru, dan itu bukan kalimat yang akan pernah kuakui.
Red perempuan—perempuan yang aneh. Dia ketakutan dan bergerak karena rasa takut itu. Aku keliru.
“Dan kamu yakin dia ada di tangan kita?” tanya Giovanni, akhirnya angkat suara.
“A-aku kira begitu. Makanya aku cek. A-aku cek semua organisasi, tapi nggak ada yang nahan dia,” jawabnya, sementara aku menyelipkan pistol ke pinggang celana. Kepanikan di matanya cepat menguap ketika dia mengawasi tiap gerakanku, seperti pemburu yang mengintai—padahal jelas-jelas dia yang jadi buruan.
“Organisasi mana saja?” desak Giovanni.
Dia menarik pandangannya dari tatapanku yang tajam, lalu dengan malu-malu melirik pria di sudut ruangan.
“K-Keluarga Morelli, Rubino, Santoro, dan, uh…” Reyna menoleh ke arahku. “Venturi.”
“Kamu punya berkas untuk tiga keluarga Italia yang lain?” Giovanni bertanya, wajahnya seketika terang. Buat telinganya, itu seperti pornografi versi nerd.
“A-aku minta maaf. Aku balikin semuanya. T-tolong jangan bunuh aku,” gagapnya. Mata cokelatnya menatap mataku tanpa kabur. Kejujuran tumpah dari dirinya seperti air. Di duniaku, sikap kooperatif dan terbuka itu berbahaya.
Dia begitu polos—begitu bersih.
Aku benci kepolosan karena kepolosan adalah bahaya lain. Bahkan, yang paling buruk. Kepolosan itu sesuatu yang bisa dimanfaatkan siapa saja. Kepolosan begitu terbuka dan siap dicabik-cabik oleh penjahat yang menyamar sebagai korban. Aku ingin jadi penjahat itu—yang mengotori dia, menodai dia, dan yang paling penting, menghancurkan dia.
“Pasang lagi penutup mulutnya,” perintahku.
Tanpa kata-kata lain, aku keluar dari ruangan.
Tak butuh waktu lama sampai Giovanni menyusulku ke luar. Alisnya berkerut rapat. “Dia bisa kasih kita apa yang kita butuhin, Saint. Aku udah bertahun-tahun nyoba dapetin satu berkas aja, tapi dia dapat tiga sekaligus! Dalam waktu kurang dari sebulan, dia bakal bisa ngasih tahu kita Viktor ada di mana. Kamu nggak peduli sama apa yang dia lakuin ke keluargaku? Kamu nggak peduli sama apa yang dia lakuin ke keluargamu? Kita nggak bisa biarin dia lepas beg—”
Rasa jengkel menempel berat di wajahku saat aku mendorongnya ke tembok, mencengkeram kerah kemejanya. Kepalanku panas. Tinju-ku menghantam tembok tepat di samping wajahnya. Yang kulihat cuma merah, dan yang kurasakan cuma benci.
“Jangan pernah tanya aku peduli atau nggak!” desisku. “Kamu ngomong sama aku pakai hormat, atau aku nggak keberatan nunjukin kamu di mana letak batasnya.”
“Kamu benar. Maaf,” kata Giovanni.
Aku melepas kerahnya dan mundur selangkah. “Bawa dia ke rumahku dan taruh di kamar tamu. Kunci semua pintu dan jendela. Sebelum itu, bilang ke Adriano aku perlu bicara sama dia.”
“Jadi… itu artinya kamu bakal bikin dia bantu kita?” tanya Giovanni, nada suaranya terangkat penuh harap.
Aku memikirkan gadis itu. Dia bukan siapa-siapa. Biasa saja. Tapi aku juga tak ingat kapan terakhir kali kulihat Giovanni dekat dengan seseorang. Dia selalu menyendiri, bersembunyi di balik layar komputer.
“Harusnya aku tahu. Kamu punya selera nerd yang aneh.”
“Selera? Bukan, Pak. Aku bakal suka perempuan mana pun yang bikin aku makin dekat buat nemuin Viktor,” katanya.
Aku menatapnya penuh curiga. Niatnya terdengar bersih—tapi di dunia yang dipenuhi janji palsu, tak ada yang benar-benar bisa yakin.
“Selamat bersenang-senang.”
R E Y N A
“Siapa namamu?” tanyaku pada pria yang membuatku tidak setakut yang lain. Ada kilat di matanya, seperti koin receh yang baru tergesek cahaya. Di sekeliling warna cokelatnya tampak semacam karat tipis, tapi entah kenapa aku yakin, kalau dirawat dengan benar, karat itu akan tergantikan oleh kilau.
“Giovanni,” jawabnya.
Pikiranku melayang pada pria yang tadi ada di ruangan ini. Wibawa dan kuasa memancar darinya tanpa malu-malu. Dalam kasusku, pembangkangan bahkan tidak pernah ditawarkan sebagai pilihan. Dan tetap saja, anehnya sulit untuk tidak menuruti setiap perintahnya. Ancaman menempel pada kata-katanya tanpa perlu dibantu apa pun. Hampir seperti aku bisa merasakan kebenciannya menguliti perutku berulang-ulang.
Tapi ada sesuatu yang memikat dari dirinya. Bukan cuma tatapan itu, atau rupa bak dewa yang keterlaluan. Bukan juga tubuh berototnya yang tampak sanggup memuaskan seorang perempuan dan masih punya tenaga untuk mengulanginya. Yang membuatku terseret adalah sentuhannya—kasar karena tak sopan, tapi lembut. Kebrutalannya yang justru membuat sakitnya terasa… nikmat. Seperti api, dia sendiri adalah bahaya itu. Bahayaku.
“Dan pria yang barusan di sini… dia Santino Venturi, kan?” tanyaku. Meski aku sudah tahu jawabannya, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap Giovanni tidak mengiyakan. Kalau dia bilang iya, tidak ada yang akan berakhir baik untukku. Aku melihat wajah mereka, aku tahu nama mereka—mereka berniat membunuhku.
Giovanni melepaskanku dari ikatan, tapi aku tak bisa memalingkan tatap dari dirinya. Dari informasi yang sempat kusimpan tentang Saint, aku tahu persis apa yang mampu dilakukan Santino Venturi. Dia bisa menyelam sampai dasar penyiksaan cuma untuk memeras informasi dari seseorang. Dan dia akan melangkah lebih jauh lagi pada siapa pun yang menyeberanginya. Berkas-berkas yang tak terhitung membuktikan dia tak punya belas kasihan. Dari merobek anggota tubuh sampai membiarkan seseorang hidup hanya untuk memohon mati—dia memang manusia yang pantas ditakuti.
Tak ada orang luar yang pernah melihat wajahnya lalu hidup untuk menceritakannya. Jadi, saat aku duduk di sana dengan ketakutan yang menutup napas, aku tahu apa takdirku. Tinggal menunggu waktu sampai nasib mencabutku dari dunia lewat tangan Saint.
“Saint. Dia nggak suka dipanggil yang lain,” gerutu Giovanni.
Aku benar-benar bikin semuanya kacau lewat usahaku yang berantakan untuk mengendap-endap mencari tahu. Dunia mafia itu urusan berbahaya yang bodohnya kumasuki sendiri. Aku cuma perempuan dua puluh tahun tanpa keluarga dan tanpa perlindungan dari siapa pun selain diriku sendiri. Tekadku menggandeng cerobohku saat aku nekat membuka pintu dan melangkah masuk ke sarang binatang—sarang Saint.
Bahkan ketika aku duduk membaca tentang lelaki paling berbahaya yang pernah kutemui lewat kertas-kertas itu, aku tak pernah menyangka aku akan berakhir di tempat yang sama dengan lokasi dia membunuh begitu banyak orang. Kupikir aku aman, terlindungi—ternyata tidak. Terlalu terpaku untuk menemukan ibuku, aku tidak sadar kesalahan-kesalahan yang kubuat. Aku merasa sudah sedekat itu, tapi sekarang aku malah lebih jauh daripada yang bisa kubayangkan.
Tak ada kata yang keluar dari bibirku. Mungkin lelah setelah melawan para pria itu sudah mencekik habis semua suaraku. Mungkin logikaku akhirnya menyerah. Bahkan pikiranku pun terasa kosong.
Aku merasakan penglihatanku menempel pada butiran debu kecil yang melayang di udara, dan entah kenapa, rasanya seperti sakit kalau aku memutus tatapanku.
