Seratus tujuh belas

Aku tidak pulang malam itu.

Setelah membaca laporan otopsi adik Henry berulang kali hingga kata-katanya terukir di otakku, aku mengemudi ke sebuah warung kopi 24 jam di pinggiran kota. Aku butuh tempat yang tenang, tempat umum. Tempat di mana aku bisa bernapas. Aku parkir di belakang, masuk melalui...

Masuk dan lanjutkan membaca