Bab Enam
Aku mondar-mandir di kamar, menggigiti kuku sampai perih dan berdarah, tapi kepalaku tetap saja riuh. Dinding kamar terasa makin sempit, seolah pelan-pelan menekan napasku sampai habis.
Seratus pikiran berkejaran, tapi satu yang paling keras: aku harus pergi.
Aku nggak sanggup menghadapi dia—atau siapa pun yang membatasi gerakku dan memperlakukanku seperti anak kecil.
Aku harus pergi.
Aunt Carrie.
Aku meraih ponsel dari nakas dan menggulir lima kontak yang kupunya. Ibu jariku menggantung di atas namanya beberapa detik, sampai akhirnya kutepis semua ragu dan menekan tombol panggil.
Lututku memantul gelisah menunggu sambungan. Saat aku hampir yakin dia nggak akan mengangkat, barulah terdengar suaranya.
“Aunt Carrie!”
“Halo, sayang.” Suaranya yang lembut sempat jadi penawar singkat di tengah kekacauan di dadaku.
“Aunt Carrie, aku mau pergi dari sini,” kataku, menelan benjolan di tenggorokan. “Aku nggak tahan sama dia.”
“Kenapa? Ada apa? Terjadi sesuatu?” tanyanya bertubi-tubi.
Aku menggeleng, lalu baru ingat dia nggak bisa melihat. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menjelaskan. “Dia terlalu mengatur dan merendahkan. Aku ngerasa kayak tahanan.”
“Oh, sayang, pamanmu itu orang baik—”
“Aunt Carrie bahkan nggak kenal dia! Aunt Carrie nggak tahu dia kayak apa!” potongku, suaraku meninggi.
Dia mengembuskan napas panjang. Suara-suara di latar belakang terdengar makin ramai. “Soph, Aunt Carrie lagi sibuk banget sekarang. Nanti Aunt Carrie telepon balik secepatnya biar kita bisa ngomong baik-baik. Sekarang kamu tenang dulu dan jangan bertindak gegabah, ya?”
Sial.
“Tapi Aunt—” Bunyi beep panjang menelan sisa kalimatku. Air mata langsung mengalir di pipi.
Aunt Carrie nggak akan menolongku. Sejauh yang kulihat, nggak ada jalan keluar. Aku terjebak.
“Sophia, turun. Makan malam.” Ketukan terdengar di pintu kamarku.
Seharian aku sebenarnya ingin tetap mengurung diri di kamar, kalau saja perutku nggak keroncongan, mengingatkanku kalau aku melewatkan sarapan dan makan siang.
Aku membuka pintu dengan satu tujuan jelas: menghindari dia sebisa mungkin. Toh, dia juga kelihatan kesal setiap kali aku ada di dekatnya.
Rencana itu mati begitu aku melangkah ke ruang makan dan melihat dia sudah duduk di meja—dan dia tidak sendirian.
Aku menarik napas untuk menenangkan diri, lalu berjalan mendekat.
“Maaf telat,” gumamku, sengaja menghindari tatapannya.
Pamanku menoleh dengan wajah keras. “Aku tidak suka dibuat menunggu.”
Aku mengangkat bahu dan duduk di kursi berseberangan dengan tamunya. “Aku juga nggak minta kamu nungguin aku.”
Perempuan yang duduk di depanku cantik—cantik level model—tapi pakaiannya nyaris nggak menutupi apa-apa; gaunnya seperti baju anak tujuh tahun yang dipaksa dipakai orang dewasa. Cukup satu lirikan. Dia perempuan yang sama yang semalam itu dia tiduri.
Mungkin dia pacarnya.
Perempuan itu mengangkat alisnya yang melengkung sempurna, pandangannya bergantian antara aku dan pamanku. “Dan kamu ini siapa?” tanyanya, suaranya meneteskan rasa meremehkan.
Bagus. Lengkap sudah.
“Bukan urusanmu,” geram pamanku ke arahnya.
Aku berkedip, kaget. Wajah perempuan itu memerah menahan malu, lalu dia menatapku lebih tajam, seolah-olah akulah penyebabnya. Entah kenapa, melihat kesombongan pamanku ternyata bukan cuma ditujukan padaku membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Aku menggigit lidah dan memilih diam saat makanan mulai dihidangkan.
Semakin lama makan malam berlangsung, semakin pekat juga tegangnya suasana. Sepanjang waktu itu, aku bisa merasakan tatapan pamanku menempel di tubuhku—berat, dingin, dan sama sekali nggak memberi ruang buat bernapas. Aku berusaha pura-pura nggak sadar, tapi justru itu bikin detak jantungku makin liar.
Akhirnya perempuan itu bergerak. Jemari berkuku rapi miliknya mendarat manja di lengan Henry. “Baby, kamu kelihatan tegang. Mungkin nanti aku bisa bantu kamu rileks,” dengkurnya, dibuat-buat menggoda.
Aku mendengus dalam hati. Menyedihkan.
“Apa? Aku ngomong lucu, ya?” bentaknya. Kalau tatapan bisa membunuh, aku sudah jadi mayat.
Aku mengangkat bahu, santai mengunyah sepotong daging sebelum menjawab, “Nggak. Cuma… menyedihkan aja lihat kamu nempel-nempel ke orang yang jelas-jelas nggak peduli sama kamu.”
“Berani-beraninya kamu!” teriaknya, racun menetes dari tiap kata.
“Jangan teriak pas lagi makan. Nanti keselek.”
Wajahnya merah, seperti gunung berapi yang tinggal meledak. Dan entah cuma perasaanku atau bukan, sudut bibir Henry sempat bergerak naik—sepersekian detik.
“Baby!” jeritnya ke Henry, minta dibela.
“Diam dan keluar,” kata Henry. Suaranya dingin, putus, tanpa celah.
“Hah?” Mulut perempuan itu menganga.
“Keluar.” Nada tenang itu menyimpan sesuatu yang mematikan. Mustahil salah tangkap.
Air mata langsung mengalir di pipinya ketika rasa malu menghantam. Aku susah payah menahan tawa di balik gigi. Dia menatapku sekali lagi—tajam, penuh dendam—lalu membalik badan dan pergi menghentak.
Aku melakukan tarian kemenangan kecil di dalam kepala… sampai Henry berdiri. Tubuhnya yang besar menjulang di atasku, menutup cahaya.
“Kamu. Ke ruang kerjaku. Sekarang.”
“Apa? Aku belum selesai makan—”
Dia sudah keburu melangkah pergi.
“Bajingan,” gumamku pelan.
Aku ragu, jantungku menghantam tulang rusuk. Sekarang dia mau apa lagi dariku?
Tapi aku jelas nggak punya pilihan. Aku mengikutinya naik ke atas, nadi berdentum di telinga.
Aku mengetuk sekali, meniru cara Adaline tadi pagi. Henry menyuruhku masuk.
Dia bersandar di meja kerjanya, tangan menyilang di dada. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan bawah yang tebal dan bertato dengan jelas. Pemandangan itu membuat sesuatu di perut bawahku berpilin, aneh dan mengganggu.
“Apa yang tadi aku bilang soal cara bicara ke tamuku?” tanyanya tanpa basa-basi.
Aku terlalu terpaku pada gerakan jakunnya saat dia bicara sampai hampir lupa dia baru saja bertanya.
“E-eh… dia yang duluan kasar,” jawabku akhirnya.
“Dan kamu pikir itu berarti kamu berhak ngomong ke dia seperti itu?” Salah satu alis gelapnya terangkat.
“Kalau menurutku, aku malah nolongin dia. Perempuan beneran nggak akan ngejar-ngejar laki-laki yang jelas nggak peduli. Itu… menyedihkan.”
“Dan kamu tahu persis apa arti ‘perempuan beneran’?” Suaranya turun, nyaris cuma bisikan.
Bisikan yang membuat seluruh tubuhku merinding.
Matanya mengunci mataku—menantang, menahan, seolah aku dipaku di tempat.
Aku menelan ludah keras.
“Iya. Aku tahu.” Suaraku keluar lebih pelan dan lebih serak dari yang kuinginkan.
Senyum pelan, gelap, melengkung di bibirnya. Aku bergidik. Dia terlalu tampan—terlalu tampan, terlalu kelam, dan terlalu berbahaya.
“Lepas,” perintahnya. Suaranya sedingin es.
Mataku membelalak.
Rasanya seperti aku baru saja melangkah masuk ke mimpi buruk yang nggak punya pintu keluar.
