Detektif
Ryan
Aku keluar dari garasi dan melajukan mobil ke arah kawasan selatan bawah. Aku butuh “pemanasan”. Pikiranku melayang ke semalam bersama istriku. Nanti malam aku bakal lebih baik—dan dia toh berutang padaku karena aku sudah mengizinkan dia nonton film itu tanpa aku. Dia sudah terlalu gampang lolos, kalau dipikir-pikir, tapi dia selalu nangis. Kadang sampai teriak-teriak, bilang aku nyakitin dia. Ngemis aku berhenti. Itu cuma bikin aku pengin menghantam lebih keras. Dia milikku. Tubuhnya milikku, dan aku bakal ngelakuin apa pun sesukaku.
Kebanyakan orang di kota ini menghormati wibawaku. Kecuali istriku. Karena itu dia dihukum.
Ada juga geng Brotherhood itu. Sekumpulan kriminal nggak guna. Kalau perlu bakal kutembaki satu-satu. Aku bisa membenarkannya dengan mudah. Kapten bahkan nggak benar-benar banyak tanya waktu terakhir kali. Orang tua tolol itu mengira aku suci. Seolah-olah aku pahlawan, cuma datang buat nyelametin kota.
Aku ambil jabatan detektif buat nambah duit. Nggak pernah nyangka kebebasan yang datang bareng itu. Sekarang aku raja.
Aku harus ketemu informanku, Darrell, di selatan. Dia pengedar yang pernah kutangkap begitu aku naik pangkat. Aku sudah nggak nyentuh narkoba sejak sebelum kuliah. Dulu aku sempat kena masalah gara-gara obat-obatan. Aku juga punya beberapa catatan penganiayaan. Mereka masukin aku ke rehabilitasi. Lalu bayarin aku kuliah. Di situlah aku ketemu Sandy-ku. Dia memang ditakdirkan jadi milikku. Aku tahu dia cari pangeran. Semacam pahlawan. Tipe pria seperti ayahnya.
Aku sempat berusaha jadi pria seperti itu. Sebentar. Nggak bisa. Aku capek berantem sama diriku sendiri. Aku ngerjain dia di awal—seperti aku ngerjain semua orang. Aku nggak yakin aku pernah mencintai dia. Aku rasa aku nggak bisa mencintai siapa pun.
Waktu di rehab aku juga ketemu psikiater. Dia bilang aku “sadis seksual narsistik dengan kecenderungan psikopatik”. Banyak banget kata buat satu kesimpulan: otakku rusak.
Lama sekali aku berusaha tetap bersih, tapi itu membosankan. Aku coba sembunyi dari gelapku, tapi justru itu yang ngedorongku. Sempat kepikiran buat ninggalin kehidupan pernikahan, tapi aku masih menginginkan dia. Aku menikmati tubuhnya. Aku menikmati saat dia tunduk padaku.
Darrell dan aku bikin kesepakatan bagus waktu aku nangkep dia. Aku nggak akan nyeret dia ke kantor, dan sebagai gantinya aku dapat apa pun yang kumau. Dia bukan temanku. Aku nggak butuh teman. Nggak pernah paham konsep itu. Dia punya sesuatu yang kuinginkan.
Kokain itu pilihan utamaku, tapi aku juga pernah coba yang lain. Bubuk itu bikin aku merasa kebal.
Begitu dia lihat aku datang, dia langsung motong pembicaraan sama seorang pecandu yang lagi ngoceh di depannya, lalu jalan cepat ke mobilku. Seperti yang kubilang—wibawa.
“Hei, Detektif,” katanya, nyender sedikit ke jendela. “Sekarang gue punya cukup barang buat seisi kota. Ada ganja. Ada beberapa pil. Yang mana yang bikin hari lo lebih enak, Bro?”
Aku nyengir, bilang dia sudah tahu aku maunya apa.
Dia jalan ke bagasi mobilnya dan balik beberapa menit kemudian. Tangan dia menyodorkan kantong kertas cokelat lewat jendela.
“Gue denger Dime punya beberapa cewek baru kalau lo tertarik.”
Dia tahu apa yang kubutuhin. Aku senyum, bilang nanti aku mampir ke hotel begitu kepalaku beres.
Aku mulai mundur, tapi dia nahan.
“Gue lihat foto lo di koran, Bro. Keren juga, ya, lencananya.”
Aku ketawa mendengar sarkasmenya, lalu tancap gas.
Di jalan aku ngelewatin SUV hitam yang kukenal milik Brotherhood. Mereka memang suka keluyuran pakai mobil begitu. Aku bisa saja berhenti dan ngawasin, tapi aku butuh satu-dua garis dulu sebelum harus ke kantor dan pura-pura peduli sama apa pun yang tertulis di papan putih sialan itu hari ini.
Aku menepi di gang. Sedotan pertama di pagi hari selalu bikin dadaku berdebar, tapi aku ambil sekali lagi buat jaga-jaga. Lalu aku lanjut ke kantor.
Di kepala, aku mulai muter ulang acara jamuan itu. Aku lihat semua orang tepuk tangan, tapi aku bisa melihat perempuan yang seharusnya jadi istriku ragu-ragu merayakan aku. Aku pengin nyergap dia. Pengin nyeret dia keluar gedung dan ngacak-ngacak dia sampai hancur. Pengin nundukin dia di atas meja itu dan ngelindur dia pakai ikat pinggang sampai dia teriak minta berhenti—nambahin bekas tipis yang aku tahu masih ada sejak terakhir kali aku nundukin dia di atas ranjang.
Tapi aku nggak bisa. Aku harus hati-hati supaya sisi itu nggak kelihatan di depan Kapten. Aku tahu dia yang lembek itu pasti nggak bakal setuju.
Dan dia tadi menatap siapa, sih? Aku nggak sempat lihat jelas. Kalau dia sampai ninggalin aku buat pria lain, bakal kubelah tenggorokan lelaki itu tepat di depan mata dia.
Saat mobilku masuk ke halaman kantor, aku sempat melempar basa-basi seperlunya ke para petugas yang berjaga di depan, lalu langsung menuju ruanganku. Aku cuma akan duduk di sana cukup lama supaya gaji tetap jalan, setelah itu cabut ke hotel.
Dime itu mucikari yang pegang hotel di Lower South. Mereka nyebutnya Lower South karena di situlah sarang kriminal paling pekat di wilayah kami. Persaudaraan itu sudah lama berusaha ngambil alih, dan aku nggak akan ngelepasin. Buatku, tempat itu pulau kesenangan pribadi. Narkoba kapan pun aku mau. Cewek bisa kapan saja, dan bisa kutahan selama yang kuinginkan. Nggak ada yang macam-macam sama aku karena mereka juga nggak mau ketangkep. Kesempatan sama rata. Aku bikin mereka senang, mereka bikin aku senang.
Aku mampir ke ruangan kapten dan bilang aku sudah membuntuti pemimpin Persaudaraan. Kapten nggak pernah banyak tanya kalau urusannya aku yang “berusaha” menjatuhkan mereka. Pemimpin itu sudah bertahun-tahun nyusupin orang-orangnya ke dia dan ke kantor polisi. Aku justru lebih banyak tahu tentang Smoke yang misterius itu dari nyabu dan main perempuan daripada yang pernah dia temukan. Kapten mengira itu hasil kerja keras polisi.
Dia sedang di telepon. Dia mendongak, tersenyum padaku.
“Semoga beruntung,” cuma itu yang keluar dari mulutnya.
Aku sempat kepikiran buat naik ke utara, tapi aku lagi nggak ada mood kerja sekeras itu.
Aku melaju ke hotel. Masuk ke area parkir, lalu muter ke belakang, ke dekat tempat sampah. Biasanya aku sembunyikan mobil di sana, masuk lewat pintu belakang. Nggak ada yang berani lewat pagar itu. Saat aku berjalan mendekat, dua perempuan yang lagi merokok di luar langsung menunduk. Mereka tahu diri. Nggak boleh menatap mataku. Kadang lucu juga ngajarin “pelajaran” yang sama ke anak baru.
Aku lewat begitu saja dan masuk lewat pintu belakang.
“Detektif, ada yang bisa saya bantu?”
Dime sama sekali nggak kelihatan seperti gambaran mucikari di kepala orang. Dia lelaki tua, rambutnya putih, pakai kemeja berkancing rapi dan celana khaki. Aku tanya soal cewek-cewek baru yang Darrell omongin pagi tadi. Dime gelisah, matanya nggak tenang.
“Gak ada yang baru, Bung. Hari ini enggak. Yang ada ya yang itu-itu aja, sudah lama.”
Cara bicaranya bikin kupingku panas.
“Darrell bilang ada.”
Aku maju selangkah, cukup dekat untuk bikin dia paham aku nggak terima jawaban “nggak”.
“Aku nggak bisa, Detektif.” Dime mundur. “Smoke ngirim orangnya, Pan, pemimpin wilayah baru di selatan. Mereka bakal habisin aku.”
Aku cengkeram kerah bajunya dan kubanting dia ke lantai.
“Kalau aku jadi kamu, orang tua, aku lebih takut sama aku.”
Dia berusaha duduk. Aku tendang keras rusuknya. Dia menjerit, suaranya pecah. Di ujung lorong, aku lihat para pelacur panik, berebut masuk ke kamar-kamar.
“Jangan ganggu dia, bajingan!”
Suara melengking itu bikin kulitku meremang karena jijik.
Aku menoleh. Candy melangkah ke arahku sambil menggenggam tongkat bisbol.
“Dasar lonte kotor,” desisku. “Coba kamu ayunin itu ke aku, aku tekuk kamu, terus aku entot kamu pakai itu.”
Dia sama sekali nggak mundur. Tatapannya tajam, langkahnya tetap maju.
“Persaudaraan nggak bakal bisa lindungi kamu dari aku, Candy. Aku tahu mereka bikin kamu merasa aman palsu, tapi aku sudah ngerobohin salah satu pengawalmu, kan?”
Aku mulai melangkah mendekatinya.
Dari kamar di belakang Candy, seorang laki-laki keluar dengan pistol. Dia arahkan moncongnya ke aku. Aku berhenti.
“Tembak aja, bangsat.”
Dia menarik kokang.
“Jangan ngetes aku, bajingan,” katanya dingin. “Belum waktumu. Dan itu bukan kesenanganku. Tapi aku bisa telepon bosku, minta izin. Atau… ya, aku lebih suka minta maaf daripada minta izin.”
Anak buah Smoke, pikirku.
“Pan dikirim buat lindungi kami dari kamu,” Candy menyambar, suaranya keras. “Dia nggak bakal ke mana-mana. Mending kamu pergi sekarang sebelum kepalamu meledak beneran.”
Candy memang liar. Dulu aku pernah “pakai” dia sekali dan harus memutar otak jelasin bekas cakarnya ke semua orang—termasuk Sandy. Sandy kebanyakan nanya sampai akhirnya aku dorong dia jatuh dari tangga. Tapi Candy? Dia bahkan nggak nangis. Setelah aku selesai, dia sampai nggak bisa jalan. Dia dapat apa yang dia mau, aku juga.
Pan masih menodongku. Aku angkat satu tangan.
“Oke. Dime, aku pergi. Tapi kamu dan semua jalang di sini bakal masuk sel sebelum akhir minggu. Nanti ketemu di sana.”
Perjanjian kami sudah putus.
Pan mendekat, pistol masih di tangan. Dia tertawa kecil.
“Aku punya video, Detektif.”
Dia menunjuk sekeliling, ke kamera-kamera yang terpasang di sudut-sudut ruangan.
“Lebih baik kamu jauhin Lower South. Atau aku kirim semuanya ke kaptenmu, sama ke istrimu.”
Moncong pistolnya hampir menyentuh dadaku.
“Kirim aja, jagoan,” aku mendengus, lalu menyenggol lewat mereka dan keluar dari gedung.
Begitu kembali ke kantor, aku menunduk melihat ponsel. Sandra punya waktu sekitar sepuluh menit buat ngirim fotoku—kalau nggak, aku bakal datang ke bioskop dan nyeret dia keluar dari sana. Habis itu, pesta borgol ulang kami bisa dimulai lebih cepat.
