108

Menit demi menit berlalu, menyeretku makin dekat pada keputusan yang kutahu tak mungkin kutarik kembali. Jantungku berdegup kencang ketika aku duduk di sana, jemariku mencengkeram tepi sandaran kursi di ruang tamu Benedicta. Seratus kali lebih aku memutar semuanya di kepala—menimbang tiap kata yang ...

Masuk dan lanjutkan membaca