156

Aku menyandarkan punggung ke kaca jendela kamar yang dingin, sementara kata-kata Alina terus berputar di kepala. “Kebenaran itu nanti juga kebongkar.” Ucapannya terdengar santai, tapi tatapan matanya—tajam, menembus—membuatku yakin dia mencium sesuatu. Alina bukan perempuan bodoh. Kalau ada, dialah ...

Masuk dan lanjutkan membaca