Bab 2
POV Lia
Aku benci kerja di restoran. Tempat seperti itu biasanya penuh serigala jantan yang kelaparan—bukan kelaparan makanan, tapi kelaparan buat mengotori siapa pun yang kelihatan lemah. Keadaanku lebih parah. Aku nggak punya serigala. Artinya, aku bahkan nggak bisa melawan ketika mereka mulai coba-coba memanfaatkan aku.
Untung ada Lexie dan Adrian. Mereka selalu ada buat melindungiku.
Begitu aku dan Lexie sampai, restoran sudah penuh pelanggan. Kami masuk lewat pintu belakang supaya nggak dicecar bos.
“Kalian telat,” bisik Adrian, berdiri di antara kami saat kami sibuk mengantar pesanan.
“Kita tahu. Tapi kita udah datang sekarang, jadi bisa nggak kamu balik kerja aja, dan biarin kita urus kerjaan kita?” Lexie menyahut ketus. Dia memang benci Adrian.
Buat Lexie, Adrian cuma serigala lain yang nunggu waktu tepat buat memperlakukanku seenaknya, dan karena aku terlalu lembek, dia merasa harus menjagaku. Yang Lexie nggak tahu, Adrian sebenarnya naksir dia—cuma dipendam sendiri karena takut ditolak.
“Itu kejam,” bisikku ke Lexie begitu Adrian pergi. Lexie mengembuskan napas panjang.
“Aku nggak kejam. Dia emang begitu. Kamu nggak lihat? Dia nggak beda sama yang lain. Dia mau manfaatin kamu,” katanya, nadanya penuh cemas.
Aku mengangkat piring berisi pesanan pelanggan.
“Pernah kepikiran nggak kalau mungkin dia maunya kamu, bukan aku?” kataku, lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawabannya.
Aku melirik nomor pesanan dan mencari meja yang sesuai.
Peganganku pada baki menegang saat aku mendekati Dimitri dan temannya. Dimitri mendongak dan menatapku datang.
“Nah, tuh dia,” katanya pada teman-temannya. Mereka mengikuti arah pandangannya.
Aku makin mengencangkan genggaman sampai buku-buku jariku memutih karena gugup.
“Pernah kepikiran nggak rasanya kalau bawa cewek tanpa serigala ke ranjang?” Dimitri bertanya pada temannya ketika aku menaruh piring itu hati-hati.
“Maksudku, bayangin aja nikmatnya ngewe sama cewek yang nggak punya serigala,” tambahnya dengan seringai kotor. Mereka tertawa ramai.
Aku mengangkat kepala dan melihat Lexie menatap mereka dengan mata menyala marah. Aku menggeleng pelan—aku bisa jaga diriku sendiri.
Damien memperhatikanku dari seberang. Dia menyesap anggurnya dengan santai.
“Nggak, kalian salah. Itu bukan cewek tanpa serigala. Itu manusia,” ujar Damien dengan nada sinis. “Kadang aku heran kenapa Dewi Bulan sampai bikin seseorang tanpa serigala. Buang-buang waktu dan tempat.”
“Mereka diciptakan buat memuaskan kita,” Damien menambahkan.
Lalu matanya menoleh padaku. “Menurut kamu, Lia?”
Aku terpaku, berusaha menahan amarah yang mendidih di dada.
“Memuaskan kita di ranjang. Biar jadi tanda kalau kamu nggak sepenuhnya nggak berguna seperti yang kelihatannya,” katanya. Mereka kembali tertawa.
Aku menelan ludah keras. Tanganku menuang sisa anggur ke dalam gelas—tapi tanpa pikir panjang, aku malah menyiramkan anggur itu ke wajah Damien. Lalu aku meraih botol yang masih tersisa dan menumpahkan seluruh isinya ke tubuhnya.
“Bajingan sakit,” gumamku, lalu berbalik pergi.
Mereka menatapku kaget, seolah baru kali ini aku berani membela diri.
“Bagus banget, Lia. Aku bangga,” kata Lexie, buru-buru menghampiriku setelah menaruh baki kosong.
“Lex, menurut kamu bos bakal pecat aku nggak? Aku mempermalukan pelanggan di depan orang-orang,” kataku panik. “Bos aja udah benci aku gara-gara aku nolak tidur sama dia. Bayangin kalau dia tahu aku bikin keributan memalukan kayak gini,” tambahku di sela isak kecil yang lolos.
“Hey, lihat aku,” perintah Lexie pelan.
“Kamu memang nggak punya serigala, tapi itu bukan berarti kamu lemah atau pantas diperlakukan kayak gitu. Kamu harus bangga sama diri kamu. Kamu berani membela diri,” katanya sambil mengusap pundakku. Lama-lama suara dengusan itu pun berhenti.
“Ngomong-ngomong, kamu udah dengar belum?” tanyanya antusias, wajahnya berbinar-binar.
“Dengar apa?”
“Raja lagi nyari pasangan buat putranya. Alpha Dean. Dia minta semua serigala yang belum punya pasangan datang ke tempatnya hari Sabtu ini,” katanya, matanya mengamati reaksiku.
“Terus?” tanyaku, karena aku tahu dia belum selesai.
“Terus aku mau kamu ikut aku.” Aku menggeleng. Alisku terangkat dengan seringai sinis.
“Aku nggak punya serigala, Lia. Aku ini tanpa serigala. Apa yang bikin kamu mikir Dewi Bulan bakal ngasih Alpha kutukan kayak aku?” tanyaku.
“Oh, ayolah. Dewi Bulan bisa aja ngasih kamu Alpha karena dia udah ngambil serigala kamu. Lagian kamu ikut aja karena aku—bakal seru,” katanya pelan, memasang tatapan memelas.
“Ada permainan sama anggur, tahu. Kita bisa mabuk. Lagian aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian sama mereka,” katanya, merujuk ke Dimitri, temannya, dan para lelaki lain yang pengin memanfaatkanku. Aku tersentuh oleh kekhawatirannya.
Aku sebenarnya ingin ikut, tapi itu akhir pekan, dan aku seharusnya menghabiskannya bersama Merlin, anakku. Dan aku tidak bisa bilang padanya kalau aku punya anak. Itu harus tetap jadi rahasia antara aku dan para penyihir.
“Aku nggak bisa,” bisikku pelan.
“Tolong, demi aku,” tambahnya. Aku memutar bola mata, mengembuskan napas berat.
“Ya udah. Oke. Aku ikut.”
“Makasih!” serunya sambil memelukku. Aku memeluknya balik, lalu pergi. Aku berjalan ke toilet dan menutup pintunya di belakangku.
Semua yang terjadi minggu ini rasanya ruwet. Aku sudah janji ke anakku bakal lebih banyak waktu buat dia, aku sudah janji ke Lexie bakal ikut satu acara pencarian pasangan Alpha, dan aku cukup yakin aku bakal langsung kehilangan pekerjaan begitu bos tahu apa yang kulakukan.
Aku memakai toilet, lalu berdiri di depan wastafel, menyiramkan air ke wajah. Saat aku mengangkat kepala, pantulan cermin menunjukkan Dimitri berdiri di belakangku dengan wajah masam.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku sambil berbalik menghadapnya. Jemariku refleks mencengkeram kain celanaku.
Dalam sekejap, tubuhku dibanting menempel rata ke dinding. Tangan Dimitri mengunci leherku.
“Dim…itri, lepasin aku,” ucapku tersengal. Tapi alih-alih menuruti, cengkeramannya justru makin kuat.
“Sekarang dengar baik-baik. Kamu masih hidup cuma karena serigala dilarang membunuh sesama serigala. Dan kamu harus tahu ini—kamu lemah. Nggak berguna.” Geramnya rendah, matanya mulai berubah keemasan.
Jangan bilang aku bakal mati dibunuh Dimitri di toilet.
“Kalau lain kali kamu coba ngelakuin apa yang kamu lakuin tadi, aku bakal bikin kamu dan siapa pun yang kamu sayang bayar mahal,” katanya, lalu merapat, berbisik di telingaku.
“Dan bertentangan sama yang orang-orang pikir… aku yakin kamu punya rahasia gelap yang dalam.”
Jantungku jatuh. Wajah Merlin yang polos melintas di kepalaku.
Dimitri mundur dan melepaskan cekikannya. Aku menarik napas keras-keras.
“Semua orang punya rahasia,” katanya dengan seringai, lalu pergi.
Butuh waktu bagiku menstabilkan napas. Aku merapikan pakaianku dan kembali ke restoran.
Begitu aku masuk, pandanganku langsung tertumbuk pada Dave, bosku.
“Lia, kamu dipecat sekarang juga. Pulang!” perintahnya ketus, seolah menepisku seperti sampah.
Mataku bertemu dengan Damien dan aku menatapnya tajam. Dia membalas dengan senyum menyeringai.
Orang-orang ini bakal bayar mahal untuk semua ini.
