Bab 1
Malam itu dipenuhi suara-suara lirih yang menggairahkan. Kaki jenjang Margareta Nabila melingkar erat di pinggang Raymond Santoso, pinggulnya bergerak seirama dengan gerakan pria itu.
Tiba-tiba, Raymond mempercepat temponya, mengirimkan gelombang kenikmatan yang menyengat ke seluruh tubuh wanita itu. Jemari Margareta mencengkeram punggung Raymond, meninggalkan bekas-bekas kemerahan di sana.
"Pak Raymond, pelan sedikit... tolong pelan..." Margareta memohon dengan suara lemah.
Namun bagi Raymond, permohonan itu terdengar seperti undangan untuk menekan lebih dalam lagi.
Napasnya memburu berat. Ia mengubah posisi, mencengkeram pinggang ramping itu dan menarik tubuh Margareta semakin rapat, menekan perutnya setiap kali ia menghunjam dalam. Tangan besarnya menjelajahi kulit halus wanita itu. Ia menarik diri perlahan, lalu kembali menusuk dengan kekuatan penuh, membuat perut rata Margareta sedikit menonjol karena desakan itu.
Ia menggigit lembut daun telinga wanita itu dan berbisik, "Setiap kali aku mau keluar..."
Dengan suara berat dan serak, ia menarik miliknya perlahan, menyisakan hanya ujungnya di ambang kewanitaan Margareta.
Margareta tenggelam dalam ekstase, tubuhnya berkedut refleks, seolah berusaha menahan pria itu agar tidak pergi.
Raymond mengerang merasakan sensasi jepitan yang intens itu dan melanjutkan, "Kamu selalu menahanku erat-erat, sepertinya kamu nggak rela aku pergi."
Ia kembali menghunjam dalam, menekan tonjolan di perut wanita itu sambil terkekeh rendah, "Lihat, ini punyaku. Milikmu sudah terbentuk pas dengan milikku."
Margareta sudah tidak bisa mencerna kata-kata itu; ia hanya tahu ia menginginkan lebih. "Lagi..." erangnya tanpa sadar.
Kata-kata itu membuat Raymond semakin liar. Ia mengangkat tubuh wanita itu tinggi-tinggi tanpa melepaskan tautan mereka.
Margareta memekik kaget, berpegangan erat pada leher pria itu. "Aku bisa jatuh!"
"Nggak akan," jawab Raymond tegas, mencengkeramnya kuat-kuat sambil terus bergerak.
Bagi Margareta, malam itu terasa tanpa ujung.
Ia pingsan beberapa kali, terbangun di tengah guncangan hebat, hanya untuk kembali kehilangan kesadaran karena kelelahan yang luar biasa.
Bagaimana ia bisa berakhir seperti ini...?
Dalam ingatannya yang samar, ia hanya berniat mengantarkan anggur untuk Raymond, lalu segalanya berubah menjadi kabur. Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, ia kembali terlelap dalam tidur yang pekat.
Keesokan paginya, gerimis turun membasahi bumi, dan Raymond terbangun dengan sentakan tiba-tiba.
Ia melirik Margareta yang masih terlelap dengan kepala bersandar di lengannya. Ekspresi wajahnya seketika berubah gelap, penuh rasa jijik. Ia menarik lengannya kasar dan berteriak, "Lukas!"
Sepuluh menit kemudian, Margareta, yang hanya berbalut seprai kusut, dilempar keluar dari gerbang Vila Santoso.
Tubuhnya penuh bercak merah bekas percintaan semalam, dan lengannya lecet karena terhempas ke tanah basah. Ia mencengkeram seprai yang kini basah oleh air hujan, memohon dengan putus asa, "Pak Raymond, saya benar-benar nggak membius Bapak; saya cuma mengantar anggur!"
"Enyah!" Raymond menendangnya menjauh, matanya dingin dan kejam. "Kamu menjijikkan."
Margareta menatap kosong pada punggung tegap yang menjauh itu, merasa hatinya jauh lebih dingin daripada hujan yang mengguyur tubuhnya.
Raymond begitu tanpa ampun, menolak memberinya kesempatan sekecil apa pun untuk menjelaskan. Pria itu bahkan tak sudi menatapnya. Seharusnya ia sadar sejak awal bahwa Raymond memang selalu membencinya!
Adalah Lukas Prawira yang akhirnya tak tega. Ia membawakan sebuah koper, menatap wanita itu cukup lama, lalu menghela napas berat, "Jaga dirimu baik-baik."
Di dalam vila, Raymond duduk di sofa, membolak-balik dokumen dengan gelisah.
Ia merasakan kehadiran Lukas yang masuk kembali dan mendongak.
"Sudah beres," lapor Lukas. "Semuanya sudah diurus."
Raymond menundukkan pandangannya kembali.
Lukas ragu sejenak sebelum menambahkan dengan hati-hati, "Pak Raymond... mungkin ini semua cuma salah paham."
Wajah Raymond tetap tegang, tak memberi respons. Justru suara wanita lain yang terdengar menyahut lembut. "Aku sudah terlalu sering melihat pelayan yang mencoba naik ke ranjang majikannya."
Stella Buana, bersikap anggun layaknya nyonya rumah, duduk di sebelah Raymond. "Raymond sudah cukup baik cuma mengusirnya begitu saja."
Dalam hati, Stella membatin, 'Cuma mengusir Margareta? Mengingat tabiat Raymond, aku pikir dia bakal menyuruh orang untuk menghabisi perempuan itu sekalian!'
Stella menyembunyikan kilatan gila di matanya dan menenangkan diri dengan memikirkan rencana cadangannya yang sudah tersusun rapi.
Di luar, hujan turun begitu deras seolah langit sedang menumpahkan amarahnya. Maya menyeret kopernya menembus badai, kakinya telanjang dan kedinginan saat menginjak genangan air keruh, melangkah menjauh dari rumah yang bukan lagi miliknya.
Kerikil tajam mengiris telapak kakinya hingga berdarah, namun ia terus berjalan, seakan rasa sakit fisik itu tak lagi mampu menembus kebas di hatinya.
Ia menemukan sudut emperan toko yang sedikit terlindung dari hujan untuk berganti pakaian, lalu memeriksa isi kopernya. Uang yang ada di sana tak seberapa—mungkin sisa belas kasihan Lukman, sekadar agar ia tak langsung mati kelaparan setelah diusir.
Tapi ia sudah berada di titik nadir; apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini?
Baru saja ia selesai merapikan pakaiannya, seorang pria tiba-tiba menerjang dari balik tirai hujan, menghunuskan pisau dan menikam perutnya tiga kali berturut-turut sebelum lenyap ditelan kegelapan malam. Maya mendekap perutnya, tubuhnya merosot perlahan ke aspal basah. Darah segar bercampur air hujan mengalir deras menuju selokan...
Empat tahun kemudian, di sebuah negara tetangga.
Di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, para elit keuangan berkumpul dalam keheningan yang mencekam.
Mereka duduk kaku di ruang konferensi mewah, menunggu vonis dari sosok yang duduk di kursi utama.
Wanita itu berpotongan rambut bob rapi, tangannya memegang laporan pasar yang telah dikerjakan setengah mati oleh tim elit ini selama sebulan penuh. Namun, wajahnya dingin dan keras, jelas tak puas dengan apa yang ia baca.
"Ulangi semuanya dari awal," ucapnya datar, namun nadanya tak terbantahkan.
Seisi ruangan hanya bisa menelan ludah dan menyesal dalam diam, kecuali pria di sebelah kirinya yang justru mencondongkan tubuh dengan santai. "May, siapa lagi yang bikin lo darah tinggi? Jangan lampiasin ke kita dong!"
Maya melempar laporan itu ke meja, lalu melirik tajam ke arah pria itu, Mahesa. "Mahesa, lo terlalu kepo."
Mahesa mencibir, tapi mulutnya tak mau diam. "Anak lo kabur lagi, ya?"
Gerakan tangan Maya yang hendak minum terhenti di udara. Matanya menyipit memberi peringatan.
Ia memang sedang pusing tujuh keliling. Sejak ia menyewa guru pencak silat privat untuk putrinya, Lili, bocah itu jadi merasa jagoan dan hobi kabur dari rumah setiap beberapa hari sekali.
Tepat saat Maya memikirkan hal itu, ponselnya bergetar. Asisten pribadinya mengirim pesan singkat dengan lampiran lokasi: [Sudah ketemu.]
Melihat titik lokasi di layar, punggung Maya langsung tegak. Keningnya berkerut dalam.
Lili memang pernah kabur ke luar negeri sebelumnya, tapi tak pernah sejauh ini. Yang lebih meresahkan, putrinya itu pergi ke Jakarta—kota penuh kenangan buruk tempat Maya dulu diserang hingga nyaris tewas.
Firasat buruk menjalar di dadanya. Ia segera bangkit dari kursi dan berjalan keluar, memberi perintah singkat pada Mahesa, "Cover gue sebentar."
Sementara itu, di Jakarta.
Lili menyeret koper kecilnya keluar dari pintu kedatangan bandara. Wajah imut dan pipi gembilnya dengan cepat menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Seorang petugas bandara menghampiri dengan ramah. "Halo, Adik sendirian? Orang tuanya mana?"
"Papa lagi nunggu aku di rumah. Tante bisa tolong anterin aku ke tempat ini?" Lili menyodorkan secarik kertas kecil bertuliskan sebuah alamat.
Petugas itu menerimanya sambil tersenyum, namun begitu membaca alamat yang tertera, ekspresinya berubah aneh. Ia menatap Lili dengan ragu. "Kamu yakin mau ke sini, Sayang?"
Lili mengangguk mantap.
Satu jam kemudian, taksi bandara berhenti tepat di depan gerbang Kediaman Keluarga Soemitro.
Lili melompat turun dari kursi belakang, melambaikan tangan pada supir taksi, lalu berbalik menatap gerbang besi hitam yang menjulang tinggi dan deretan mobil mewah yang terparkir di halamannya.
Ia mengeluarkan sebuah tablet kecil dari dalam koper. Jari-jari mungilnya menari lincah di atas layar. Hanya butuh beberapa detik, sistem keamanan elit vila itu—yang digadang-gadang sebagai teknologi keamanan tercanggih—berhasil dilumpuhkan. Terdengar bunyi klik pelan, dan kunci gerbang pun terbuka.
Lili mengangguk puas dan berlari masuk.
Kediaman Soemitro sedang mengadakan pesta besar hari itu. Tamu-tamu berpakaian necis lalu-lalang, tak ada satu pun yang menyadari kehadiran bocah kecil yang menyusup masuk.
Lili celingukan mengedarkan pandangan, hingga matanya menangkap sosok pria berwajah serius di tengah kerumunan. Tanpa ragu, ia berlari kencang menghampiri pria itu sambil berteriak riang.
"Papa!"
