Bab 2

Aula itu begitu sunyi hingga suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar.

Bahkan pianis utama, yang sudah kenyang pengalaman di panggung besar dan melihat segala macam drama, menghentikan permainannya. Ia berusaha menahan godaan untuk menoleh karena penasaran, tetapi matanya tetap saja tertuju pada gadis kecil yang sedang memeluk erat pinggang Radit.

Lukman bergegas mendekat untuk menarik gadis kecil itu, Laras. "Kamu anak siapa..."

Kalimatnya menggantung di udara.

Alis dan mata Laras hampir identik dengan Marsha, sementara hidungnya adalah cetakan sempurna dari hidung Radit. Siapa pun yang melihatnya pasti akan mengira dia adalah putri kandung Radit.

Laras memeluk pinggang Radit erat-erat, menolak untuk melepaskannya. "Ayah, aku benar-benar anakmu!" desaknya.

Mengabaikan hawa dingin yang memancar dari tubuh Radit, Laras mengeluarkan sebuah kamera saku merah muda dari tas kecilnya. Di dalamnya tersimpan rekaman video kelahirannya.

Radit berusaha memalingkan wajah dari bagian tengah layar karena pemandangan itu terlalu memilukan, tetapi matanya menangkap tanggal yang tertera di sudut layar. Itu terjadi tiga tahun yang lalu.

Radit menghitung cepat dalam kepalanya; waktunya tepat bertepatan dengan saat Marsha diusir empat tahun lalu.

Ditambah lagi, anehnya, ia sama sekali tidak merasa jijik atau risi dipeluk oleh anak ini.

Melihat Radit memalingkan wajah, Laras menghela napas panjang. "Ayah bahkan nggak tahu kalau Bunda hampir meninggal waktu melahirkanku. Ngomong-ngomong, aku ambil video ini diam-diam, jangan bilang Bunda, ya."

Wajah cemberut Laras mengingatkannya begitu kuat pada Marsha.

Hati Radit sedikit melunak, dan tanpa sadar ia bertanya, "Siapa namamu?"

"Namaku Laras Nabila!" jawabnya lantang.

Seluruh tubuh Radit gemetar, telapak tangannya berkeringat dingin, dan ia menelan ludah dengan susah payah. "Siapa nama ibumu?"

"Marsha Nabila!" Suara Laras makin keras, menunjukkan betapa bangganya ia pada ibunya.

Radit terpaku, tenggorokannya terasa kering kerontang.

Lukman dengan cepat menangkap isyarat situasi itu dan segera menggiring para tamu keluar.

Sepuluh menit kemudian, aula itu sudah kosong melompong.

Laras duduk di sofa, mengayun-ayunkan kakinya yang pendek, memegang cangkir teh mungil yang lucu, menyeruput minuman manis yang dibuatkan Lukman untuknya.

Radit duduk di seberangnya, menatapnya lekat-lekat dengan tatapan menyelidik.

Meskipun Radit membiarkan Laras tetap di sana, ia masih curiga dengan identitas anak itu. "Umurmu bahkan belum lima tahun. Bagaimana caranya kamu bisa naik pesawat sendirian?"

Laras menjelaskan dengan jujur, "Aku pakai trik sedikit buat dapat tiket, terus di jalan aku pasang tampang imut, jadi semua orang jagain aku deh."

Sistem keamanan maskapai penerbangan hanyalah mainan kecil bagi Laras.

Ekspresi Radit sulit ditebak. Ia menoleh ke asistennya, Rian. "Masih belum bisa dihubungi?"

Rian tampak gelisah dan mengangguk pelan. "Iya, Pak."

Laras menyahut santai, "Jelas aja nggak bisa dihubungi. Bunda pasti lagi di jalan mau nangkep aku sekarang."

"Ibumu mau ke sini?" Jantung Radit tiba-tiba berdegup kencang. Ia tak bisa mengurai campuran emosi yang sedang dirasakannya.

Empat tahun lalu, Marsha berjalan tertatih-tatih keluar dari Vila Cempaka hanya berbalut seprai usang yang robek, dan pemandangan itu masih terekam jelas dalam ingatannya.

Namun setelah itu, Marsha menghilang tanpa jejak.

Radit sudah mencari ke seluruh penjuru Jakarta, bahkan sampai ke luar kota, tetapi Marsha seolah lenyap ditelan bumi. Dan sekarang, tiba-tiba dia akan kembali—bersama putrinya!

Laras tampak tak peduli dengan ketegangan itu, ia menghabiskan tegukan terakhirnya. "Enak banget!"

Radit menatap cangkir kosong itu. Minuman itu adalah teh buah kesukaan Marsha.

Ia melirik Lukman, yang langsung mengerti dan segera menyajikan semua makanan kesukaan Marsha.

Mata Laras berbinar saat ia mulai menyantap hidangan itu dengan lahap.

Sementara itu, di dalam penerbangan menuju Jakarta, Marsha tanpa sadar mengetuk-ngetuk lututnya. Luka bekas operasi di perutnya berdenyut nyeri.

Meski empat tahun telah berlalu, bekas luka itu sesekali masih terasa, mengingatkannya pada penderitaan dan kejamnya masa lalu.

Setelah sekian lama, akhirnya Maya kembali ke tempat yang pernah ia sumpah takkan ia injak lagi. Kota itu perlahan mulai terlihat dari balik jendela pesawat yang membawa dirinya mendarat.

Gemerlap lampu neon dan hiruk-pikuk energinya masih sama seperti dulu, namun Maya yang sekarang bukanlah Maya yang dulu.

Begitu Maya menonaktifkan mode pesawat di ponselnya, layar itu langsung dipenuhi deretan notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor-nomor yang tak dikenal.

Firasat buruk perlahan menyelinap ke dalam hatinya.

Melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara, Maya mendongak dan melihat seorang pria jangkung dengan penampilan yang sangat rapi dan berkelas.

Ia menebak pria itu adalah direktur cabang perusahaan di dalam negeri.

Pria itu pun melihatnya dan segera menghampiri. "Bu Maya, saya Wisnu."

Maya mengangguk singkat. "Halo."

Wisnu bertanya dengan sopan, "Bu Maya, Ibu mau menuju ke mana? Biar saya antar."

Maya berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ke Kediaman Keluarga Salim."

Sorot mata Wisnu sempat berkedip kaget, namun ia merespons dengan profesional.

Saat mereka tiba di gerbang Kediaman Keluarga Salim, hari sudah menjelang pagi buta. Namun, rumah megah itu masih terang benderang. Bagi Keluarga Salim, malam ini sepertinya akan menjadi malam yang panjang.

"Bu Maya, perlu saya tunggu?" tanya Wisnu, menyadari gelagat Maya yang tampak gelisah sepanjang perjalanan.

Maya menggeleng, menyunggingkan senyum sopan. "Tidak perlu."

Setelah turun dari mobil dan berbalik badan, Maya menanggalkan topengnya. Senyum sopan itu lenyap seketika.

Pemandangan gerbang besi hitam yang menjulang itu serta-merta melempar ingatannya kembali ke pagi yang diguyur hujan deras empat tahun lalu.

Permohonan, penjelasan, dan tangisannya kala itu menjadi samar tertelan suara hujan, sementara kekejaman, ketegaan, dan ketidakpedulian Rama justru terasa semakin jelas di tengah badai.

Maya tahu Rama membencinya karena pria itu mengira ayah Maya lah yang menghancurkan keluarganya. Karena itulah Maya mengabaikan panggilan telepon tadi; ia merasa percuma mencoba berkomunikasi dengan pria itu.

Ia menarik napas panjang, menekan rasa gatal dan nyeri dari bekas luka di perutnya, lalu melangkah maju. Baru saja ia hendak mengulurkan tangan ke gerbang, terdengar suara mobil berhenti di belakangnya.

Saat menoleh, ia melihat sosok bergaun merah menyala turun dari kursi belakang.

Wanita itu sedang membetulkan letak gaunnya sambil menggerutu, "Semuanya sudah disiapkan dengan baik, tapi tiba-tiba mereka mengosongkan tempat itu, katanya ada anak kecil datang. Aku harus lihat apa yang sebenarnya terjadi."

Ketika wanita itu mendongak setelah merapikan gaunnya, tatapannya terkunci dengan mata Maya.

Baik dia maupun Maya sama-sama terpaku. Wanita itu adalah Siska.

"Maya?" Siska hampir mengira ia melihat hantu. Ia menoleh panik ke sekeliling malam yang gelap, menjerit kaget, lalu secara impulsif mengayunkan tas tangannya ke arah wajah Maya.

Maya secara refleks mengangkat tangannya untuk menangkis.

Namun dalam sekejap, sesosok bayangan bergerak lebih cepat menghalau tas tangan yang penuh hiasan paku tajam itu.

"Nona Siska, bukankah ini agak kasar?" tegur Wisnu dengan suara berat. Ia berdiri kokoh melindungi Maya di belakang punggungnya, sementara tangannya yang menahan tas berduri itu mulai memerah akibat benturan.

Ucapan Wisnu menyadarkan Siska, memastikannya bahwa sosok di depannya benar-benar Maya yang asli.

Kilatan jahat melintas di mata Siska. Dalam hati ia membatin, 'Aku pernah mengusir Maya sekali, aku pasti bisa melakukannya lagi!'

Maya menundukkan pandangannya, menyapa dengan nada datar, "Nona Siska, sudah lama tidak bertemu."

Sikapnya yang dingin dan berjarak membuat Maya terlihat seolah-olah tidak menganggap Siska sebagai ancaman berarti.

Merasa harga dirinya ditantang, Siska mendengus sinis, melirik Wisnu sekilas, lalu sengaja memprovokasi, "Aku benar-benar kagum padamu, Maya. Dulu kau merayu Rama, lalu diusir keluar setengah telanjang, dan sekarang kau masih punya muka untuk kembali? Aku yang malu melihatmu."

Di masa lalu, wajah Maya mungkin akan langsung memerah dan ia akan buru-buru membela diri.

Tapi sekarang, ia sama sekali tidak peduli. Ia justru menarik sudut bibirnya membentuk senyum mengejek dan membalas dengan tenang, "Apa kau begitu cemburu karena sampai detik ini kau belum berhasil merayunya?"

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya