Bab 6

Wajah Radit seketika berubah gelap.

Rian berdiri mematung di sampingnya, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

"Orang ini lumayan royal juga," cibir Radit.

Siapa pun yang bisa membeli rumah di kota ini tanpa berpikir dua kali pastilah orang yang bergelimang harta.

Jari-jari Radit meremas foto di tangannya semakin erat. Sosok Marga di dalam foto itu sama sekali tidak menunjukkan jejak sikap dingin yang selama ini ia tunjukkan padanya.

Dengan hati-hati, Rian melangkah maju dan meletakkan berkas informasi yang berhasil ia kumpulkan di hadapan Radit.

"Pak Radit, ini info lengkap tentang orang itu. Namanya Wisnu Jatmiko, Presiden Direktur Apex Global. Dia pebisnis yang cerdas dan luwes dengan reputasi yang solid, memegang enam puluh persen saham perusahaan. Di bawah kepemimpinannya, keuntungan Apex Global terus menanjak."

Rian begitu fokus pada laporannya hingga ia hampir menggigit lidahnya sendiri saat melihat kepalan tangan Radit yang mengeras.

Radit mendengus sinis, "Pantas saja Marga berubah pikiran di detik-detik terakhir. Rupanya dia punya bekingan orang besar sekarang."

Keputusan mendadak wanita itu untuk tetap tinggal, padahal sebelumnya begitu putus asa ingin kembali ke kampung halamannya, membuktikan betapa pentingnya arti Wisnu bagi dirinya.

Rian menelan ludah dengan susah payah, ragu apakah ia harus melanjutkan laporannya atau tidak.

"Lanjutkan," Radit menyesap kopinya dengan tenang, namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan amarah yang tertahan.

Rian melanjutkan, "Pak Radit, Nona Marga tinggal di sini untuk mewakili Apex Global mengawasi komplikasi yang terjadi di perusahaan Pak Wisnu. Pada dasarnya, dia adalah atasan Wisnu, dan dia tinggal untuk membantu membereskan beberapa masalah internal perusahaan."

Kilatan rasa terkejut melintas di mata Radit.

Batinnya bergejolak, 'Bagaimana mungkin? Bukankah Marga tinggal hanya untuk memeras lebih banyak keuntungan dari Wisnu?'

Radit mendengus kasar, "Marga membantu Presiden Direktur Apex Global menjalankan perusahaan? Lelucon macam apa ini. Aku tahu betul kemampuan Marga seperti apa."

Marga baru berpisah darinya selama empat tahun, tapi sebelumnya ia selalu mengawasi gerak-gerik wanita itu. Ia tahu persis batas kemampuannya. Bagaimana mungkin wanita itu bisa mengelola perusahaan sebesar itu?

Radit menambahkan dengan nada tajam, "Apa Wisnu sudah begitu tergila-gila pada Marga sampai rela membiarkan perusahaannya hancur di tangan wanita itu?"

Meski Radit sedang murka, Rian harus menyelesaikan laporannya. "Pak Radit, Pak Wisnu adalah orang yang sangat berhati-hati. Saya juga menemukan bahwa perusahaannya sedang mengalami beberapa kendala belakangan ini. Jika Nona Marga tidak bisa membereskannya, Pak Wisnu tidak akan membuang-buang waktu dengannya sekarang."

Poin yang disampaikan Rian sangat jelas. Marga pastilah sangat kompeten; jika tidak, Wisnu tak akan mempertaruhkan nasib perusahaannya demi wanita itu.

Rian ingin bicara lebih banyak, tapi tiba-tiba ia merasakan hawa dingin menusuk dan melihat tatapan mematikan dari Radit. Ia pun langsung mengunci mulutnya rapat-rapat.

Sementara itu, di kediaman Marga.

Angin pagi berhembus lembut menggerakkan tirai putih, membuat helai-helai rambut di wajah Marga yang tampak muda dan halus ikut menari-nari.

Dengan malas, ia merentangkan tangannya untuk menarik selimut, berniat kembali tidur.

Namun detik berikutnya, ia merasakan beban kecil menindih di sebelahnya.

"Bunda, jangan tidur lagi. Sarapan buatan Mas Budi keburu dingin," Lilis bergoyang-goyang di atas tubuh Marga, pipinya yang gembul membuat siapa pun gemas ingin menciumnya.

"Enaknya jadi anak kecil sepertimu, tidak perlu pusing soal jet lag," gumam Marissa sambil menggeliat pelan, lalu duduk di tepi ranjang.

"Mama lagi memujiku, ya?" Lili mendekat sambil asyik menggeser-geser layar tablet di tangannya.

Marissa tersenyum lembut. "Iya dong, Mama memujimu, Sayang. Oh ya, Li, Mama sudah mendaftarkanmu sekolah di sini. Besok kamu sudah bisa mulai masuk."

Rencananya, Marissa akan menetap di kota ini bersama Lili selama enam bulan. Selama masa itu, pendidikan Lili tidak boleh terbengkalai.

Meski Lili tergolong anak jenius yang kecerdasannya jauh melampaui teman-teman sebayanya, ia tetap butuh bersosialisasi di sekolah.

"Ma, maksud Mama sekolah yang di dekat vila kita itu?" tanya Lili sambil memiringkan kepalanya.

Marissa mengangguk sambil turun dari ranjang dan mulai merapikan rambutnya yang berantakan.

Lili menyahut dengan enteng, "Tapi, Ma, barusan aku batalkan pendaftarannya lewat sistem. Aku nggak mau sekolah di situ; aku maunya masuk TK Mentari di Jalan Cemara."

Kening Marissa berkerut mendengarnya.

Ia segera mengambil alih tablet itu, mencari lokasi sekolah yang disebutkan Lili, dan seketika paham isi kepala putrinya.

Lokasi sekolah itu satu arah dengan kantor Raka.

Marissa melirik Lili tajam. Niat bocah itu untuk bertemu Raka sangat jelas.

"Nggak boleh. Nanti Mama daftarkan ulang. Besok kamu tetap harus masuk sekolah di tempat pilihan Mama," tolaknya tanpa ragu.

"Mama, Mamaku Sayang, Mamaku yang cantik dan dermawan, Mamaku yang baik hati dan nggak pernah marah, tolong dong setuju. Asal Mama bolehin aku ke TK Mentari, aku janji nggak bakal keluyuran lagi," Lili mengangkat tangan mungilnya seolah sedang bersumpah, matanya yang bulat berkedip-kedip penuh harap.

Marissa sengaja memasang wajah tegas. "Kamu sudah sampai di negara baru sesuai keinginanmu. Memangnya mau keluyuran ke mana lagi?"

Baru saja Marissa selesai bicara, terdengar ketukan di pintu depan. Pak Budi membukanya, dan suara berat seorang pria yang sangat familier terdengar masuk, membuat jantung Marissa seakan berhenti berdetak.

Ia baru saja pindah ke vila ini. Bagaimana bisa Raka tahu alamatnya?

"Lili, tetap di kamar dan jangan keluar. Mama ada urusan sebentar," ucap Marissa, berusaha menekan kegugupannya, lalu melangkah keluar kamar dengan tenang.

Dengan suara dingin, ia bertanya pada sosok di depan pintu, "Sedang apa kamu di sini?"

Raka berdiri di ambang pintu, matanya tanpa sadar memindai penampilan Marissa yang masih berbalut piyama sutra.

Setelah empat tahun berlalu, tubuh Marissa—bahkan setelah melahirkan seorang anak—masih terlihat ramping dan mungil.

Marissa melanjutkan, "Raka, seingatku kamu bukan tipe orang yang suka memaksa. Ini peringatan pertama dan terakhirku: jangan ganggu hidupku."

Sudut bibir Raka terangkat membentuk senyum tipis. "Kenapa aku nggak boleh datang? Aku ke sini bukan untuk menemuimu."

Marissa mengerutkan kening. "Ini rumahku. Kalau bukan mencariku, apa kamu salah ketuk pintu?"

Raka menatapnya dengan tatapan meremehkan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Marissa, jangan terlalu percaya diri. Aku ke sini mau bertemu Lili."

Ternyata Lili sedari tadi menguping di balik pintu kamar. Mendengar Raka datang khusus untuknya, ia kegirangan setengah mati.

Bocah itu langsung menghambur keluar.

Marissa hanya melihat sekelebat bayangan melintas di kakinya sebelum Lili melemparkan dirinya ke dalam pelukan Raka.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya