Bab 3 Dua Insiden Berdarah
Edward sedang onani! Dia meninggalkanku hanya untuk memuaskan nafsunya dengan foto Anne!
Aku tidak tahu apakah aku lebih malu pada diriku sendiri atau berusaha menyelamatkan harga diri Edward, tapi ada sesuatu yang membuatku bersembunyi di balik pintu. Tak lama kemudian, suara-suara menjijikkan terdengar dari dalam lemari pakaian. Tanpa alas kaki, rasa dingin merambat ke sekujur tubuhku, membuatku mematung di tempat.
Aku mendengar Edward mengambil beberapa lembar tisu dan mengira dia sudah selesai, tapi ternyata belum—dia memulainya lagi. Hatiku mencelos; kali ini rasanya benar-benar sakit. Setiap erangan yang keluar dari mulut Edward terasa seperti belati yang menghujam dadaku.
Aku kembali ke kamarku dan menutup pintu rapat-rapat, mencoba mengunci dunia luar. Keheningan terasa begitu berat, dan satu-satunya yang bisa kudengar hanyalah detak jantungku yang bergemuruh di telinga. Air mata mengalir deras di pipiku, mengaburkan pandangan. Aku duduk di tepi tempat tidur, merasa benar-benar kalah, membiarkan air mata tumpah ruah, penuh dengan kekecewaan dan kemarahan pada Edward.
Aku memutar ulang semua tingkah lakunya yang aneh di kepalaku, hatiku terasa seperti diiris-iris. Rasa sakit itu menyapu diriku seperti ombak besar. Aku menghapus air mata dan menolak untuk hanya duduk diam—aku harus mencari bukti pengkhianatannya.
Hanya dengan begitu aku bisa mengamankan lebih banyak aset dalam perceraian nanti. Sejujurnya, ini bukan soal uang—aku hanya tidak ingin Anne mendapatkan sepeser pun. Aku segera membasuh wajah dan memoles sedikit riasan; aku harus sampai di rumah sakit untuk menemui Anne sebelum Edward datang.
Aku melangkah masuk ke kamar rawat inap, dan di sanalah Anne, terpaku pada ponselnya, tampak seolah tak peduli pada dunia. Dia terlihat sangat sehat, seakan tak terjadi apa-apa. Namun begitu dia melihatku, ekspresinya berubah.
"Diana, ngapain kamu di sini?" Anne selalu memanggilku dengan namaku. Dulu aku mengira itu tanda kedekatan kami, tapi sekarang aku sadar itu karena dia tidak sudi memanggilku "Nyonya Howard" atau "Kakak Ipar".
"Anne, kamu baik-baik saja?" tanyaku, berusaha terdengar santai.
Anne mendongak, wajahnya memerah, lalu menggosokkan pipinya ke telapak tanganku sebelum memberikan senyum malu-malu. "Edward itu memang cerewet banget," katanya dengan suara manja. "Aku sudah bilang jangan kasih tahu kamu. Aku nggak mau kamu khawatir." Suaranya lembut, seperti dengkuran anak kucing.
Aku bertanya, "Kamu mau makan sesuatu?"
"Aku mau apel." Matanya berbinar seperti anak kecil di pagi Lebaran. Dia bertingkah imut, menutupi dadanya dengan tangan dan memanyunkan bibir padaku.
"Baiklah, aku kupaskan buat kamu." Aku mengangguk, mengambil pisau buah, dan mulai mengupas apel itu. Suara pisau yang mengiris kulit apel terdengar renyah di ruangan yang sunyi.
Sebelum datang ke rumah sakit, aku sudah bertekad mencari bukti perselingkuhan Edward dan sama sekali tak berniat bersikap manis pada Anne. Tapi mendengar suara lembutnya mengubah sesuatu di dalam diriku. Mendengarnya bicara padaku seperti itu, dan mengingat masa lalu kami, aku tak bisa menahan diri untuk luluh. Bagaimanapun juga, aku peduli pada Anne. Kami sudah tinggal bersama selama empat tahun, dan aku memperlakukannya dengan sangat baik; apa pun yang kumiliki, dia juga memilikinya. Dia bisa mengambil apa saja yang dia mau dari kamarku.
Jika Anne benar-benar berselingkuh, itu akan terasa seperti ditusuk dari belakang, tepat di depan hidungku sendiri.
"Kamu baik banget sama aku." Anne menatapku sambil tersenyum, matanya berbinar-binar.
"Tentu saja, aku kan kakak iparmu." Aku memotong apel itu menjadi potongan-potongan kecil dan menyodorkannya padanya. "Nih, cobain."
Anne menggigitnya, wajahnya cerah dengan senyum puas. "Manis banget! Cuma Diana yang bisa kupas apel sebagus ini."
Dia memakan apel itu sambil memamerkan foto-foto di ponselnya padaku. "Lihat deh foto-foto yang barusan aku ambil. Cantik, kan?"
Di foto-foto itu, Anne terlihat merona dan sehat di bawah filter kamera jahat, lebih mirip seseorang yang pura-pura sakit daripada pasien sungguhan.
Ana terus menggeser layar ponselnya, memamerkan setiap foto kepadaku. "Mas Edo nakal banget, deh," ujarnya sambil memajukan bibir, merajuk manja. "Aku kirim foto-foto ini, dia cuma bilang 'cantik' doang."
Tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamku—Edo pasti memandangi foto-foto ini sambil memuaskan dirinya sendiri. Aku melirik riwayat obrolan mereka, dan hatiku mencelos melihat betapa lembut balasannya.
Ana: Aku cantik nggak?
Edo: Iya, cantik banget.
Ana: Mas, kok belum sampai sih?
Edo: Lagi di jalan.
Ana: Menurutmu bagusan yang mana?
Edo: [Yang kedua.]
Pesan-pesan Edo kepada Ana jauh lebih intens dan penuh kelembutan dibanding apa pun yang pernah ia kirimkan padaku. Bagaimana bisa aku melewatkan semua ini?
"Dia sibuk," gumamku pelan, tenggelam dalam lamunan. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka lebar.
"Dina, ngapain kamu di sini?" bentak Edo.
"Mas Edo! Kamu datang!" seru Ana, suaranya sarat kegembiraan.
Suara mereka bertabrakan di udara, dan sebelum aku sempat bereaksi, Edo sudah menyeretku keluar kamar. Bahuku menghantam kusen pintu dengan keras. Aku menggigit bibir, menahan rasa sakit sekaligus air mata yang mendesak keluar. Di lorong, Edo menggulung lengan kemejanya dan berbicara perlahan namun penuh penekanan, "Sebenarnya ada apa sih sama kamu hari ini?"
"Aku datang jenguk Ana. Aku khawatir. Karena kamu sudah di sini, aku pulang," jawabku lirih.
"Apa yang kamu harapkan? Kan sudah kubilang, itu cuma penyakit lamanya yang kambuh," sergah Edo.
"Kenapa kamu segitu paniknya kalau aku ada di sini? Apa kamu—" Kalimatku terpotong oleh jeritan keras Ana dari dalam kamar.
"Mas Edo!"
Suara Ana membuat Edo tersentak seperti tersengat listrik. Dia bergegas hendak kembali ke dalam kamar, namun secara refleks aku menahan lengan bajunya. "Mas, kalau gitu aku—"
Edo memotong ucapanku dengan tajam. "Udah, kita bahas di rumah. Aku harus jagain Ana sekarang."
Wajahnya yang penuh kecemasan membuatku terpaku sesaat, hingga aku lupa melepaskan peganganku. Edo menyentakkan lengannya dengan kasar, dan kancing manset kemejanya menggores ibu jariku. Rasa perih menyengat membuatku melepaskannya seketika. Aku menunduk dan melihat bantalan kuku ibu jariku robek dan mulai berdarah. Namun, mata Edo hanya tertuju pada pintu kamar Ana.
Aku memandangi punggung suamiku yang sibuk mengurus wanita lain, merasakan dua puluh tahun rasa kagumku runtuh perlahan, keping demi keping. Rasa nyeri di jempolku berdenyut makin kencang. Melihat kuku yang patah dan darah yang menetes, gelombang kecemasan melandaku.
Aku memutuskan untuk pergi ke IGD sendirian. Aroma obat dan karbol yang menyengat langsung menyambutku. Orang-orang berlalu-lalang dengan tergesa, sibuk dengan masalah mereka masing-masing. Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Setelah menunggu cukup lama, namaku akhirnya dipanggil.
Dokter memeriksa tanganku dengan teliti, keningnya sedikit berkerut. "Ini butuh tindakan bedah minor. Sebaiknya ada keluarga yang menemani Ibu."
"Saya bisa sendiri, Dok," jawabku, berusaha terdengar tegar meski hatiku gentar.
"Ibu sangat berani, tapi nanti butuh perawatan pasca-tindakan," ujar dokter itu lembut, seolah memberi semangat. Aku mengangguk, tapi pikiranku melayang pada Edo. Akankah dia datang?
Aku mengeluarkan ponsel dan menekan nomornya, hanya untuk mendengar nada sibuk yang dingin. Rasa kecewa yang mendalam menyapu dadaku, tapi aku tahu aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Saya akan masuk ke ruang tindakan sendiri," kataku tegas pada dokter.
"Baiklah, mari kita lakukan." Dokter itu tersenyum tipis, tampak menghargai keberanianku.
Di depan ruang operasi kecil itu, aku menarik napas dalam-dalam, jantungku berdegup kencang. Perawat membukakan pintu, memberi isyarat agar aku masuk. Ruangan itu terang benderang, instrumen medis tertata rapi di atas nampan logam, dan udara dipenuhi bau antiseptik yang tajam.
"Rileks saja, Bu. Prosesnya sebentar kok," kata dokter di sampingku, nadanya menenangkan.
Aku mengangguk, mencoba melemaskan otot-ototku yang kaku. Saat prosedur dimulai, ketegangan sempat memuncak, namun dokter terus menghiburku, "Ibu hebat, tahan sebentar lagi ya."
Seiring berjalannya operasi, aku memejamkan mata, merapal mantra dalam hati berulang-ulang, "Semuanya akan baik-baik saja."
