Aku baru saja membersihkan.

POV Ava

Aku menggosok lantai sampai bersih, ujung-ujung jariku perih dan mengelupas setelah berjam-jam kerja. Bau sabun yang tajam menusuk hidung, tapi aku sudah kebal. Jauh lebih bisa kutahan daripada bisik-bisik yang mengekor ke mana pun aku pergi.

Para Omega bahkan sudah tak berusaha menyembunyikan tawa mereka. Mereka melintas di koridor, suara mereka meneteskan hinaan.

“Wah, calon Luna takdir kita sekarang akhirnya kerja sesuai tempatnya,” salah satu menyeringai, sengaja mengeraskan suara supaya aku dengar. “Yang dulu sok tinggi, sekarang jatuh juga.”

Yang lain cekikikan. “Gila, aku nggak nyangka bakal lihat dia ngepel lantai kayak kita. Karma emang kejam, ya?”

Lebih tepatnya takdir yang kejam, batinku, tapi aku menahan diri.

Rahangku mengeras. Aku menunduk, menggosok lebih kuat. Percuma melawan. Tak ada yang menghormatiku. Tak ada yang benar-benar melihatku. Bahkan para Omega—yang harusnya sama-sama berada di lapisan terbawah sepertiku—tak menganggapku bagian dari mereka.

Salah satunya sengaja menginjak lantai yang masih basah, membuat air sabun memercik dan mengenai lenganku.

“Ups,” katanya dengan kepolosan palsu. “Nggak lihat kamu di situ, Ava.”

Namun aku tetap di sini—bersimpuh dengan kedua telapak tangan menempel lantai—membersihkan jejak mereka. Seperti biasa, aku tidak melakukan apa pun. Aku meneruskan tugasku, menghindari masalah. Aku tidak mau dipukuli lagi.

Itu sudah jadi rutinitas mereka, apalagi karena akulah satu-satunya di kawanan ini yang tidak bisa pulih secepat yang lain. Mereka pergi sambil tertawa keras, meninggalkanku bersama lantai licin dan dingin yang harus kubereskan sendirian.

Malamnya, setelah semua pekerjaan selesai, akhirnya aku keluar—dan mendapati rumah kawanan dipenuhi gairah. Pesta gerhana jadi bahan pembicaraan di mana-mana; ke mana pun aku melangkah, selalu ada bisik-bisik tentang itu. Acara itu tinggal seminggu lagi, dan seluruh kawanan bersiap seolah itu hari terpenting sepanjang tahun.

Memang begitu.

Setiap tahun, kawanan yang berbeda menjadi tuan rumah, mengundang kawanan-kawanan dari seluruh wilayah. Itu perayaan kekuatan, persatuan, dan yang paling penting—pasangan. Alpha dan Luna dari kawanan tetangga akan datang, memamerkan ikatan sempurna dan hidup yang tampak sempurna. Kesempatan bagi semua orang untuk menunjukkan dengan siapa mereka terikat.

Setiap kali ada yang menyebut kata “pasangan”, ada nyeri tajam menikam dadaku.

Landon seharusnya milikku. Aku seharusnya jadi Luna-nya.

Tapi itu bukan takdirku lagi. Aku berusaha tidak memikirkannya terlalu jauh, tapi sakitnya keterlaluan. Seharusnya aku sudah sedikit sembuh dari siksaan ini kalau saja dia mau melarutkan ikatan pasangan itu. Namun Landon… seolah tidak suka melihatku bahagia.

Hari-hari berlalu seperti kabur: membersihkan, memasak, menelan ejekan yang tak putus-putus. Di mana pun aku berada, selalu sama. Bisik-bisik yang sama. Olok-olok yang sama.

Suatu siang, saat aku mengelap meja-meja di ruang makan, aku mendengar sekelompok Omega mengobrol di pojok.

“Dengar nggak?” kata salah satu, suaranya kental oleh niat jahat. “Helena nangkep Ava lagi nyoba nyolong makanan dari gudang.”

“Serius?” sahut yang lain, seolah tak percaya tapi jelas menikmati. “Segitunya sampai harus nyolong sekarang?”

Mereka lanjut tertawa, gema tawa mereka memantul di ruang makan. Aku membeku, jantungku berdebar keras. Aku tidak mencuri apa pun. Tapi tuduhan itu tetap menyengat, dan cara mereka menikmati menyebarkan kebohongan itu membuat putus asku makin dalam.

Sore itu, saat aku sedang mengepel lorong depan, Helena menerobos masuk seperti badai, wajahnya dipoles amarah palsu yang dibuat-buat. Di tangannya ada gulungan kain kecil yang ia kibas-kibaskan ke arahku.

“Ava!” panggilnya tajam. “Aku nangkep kamu basah-basah!”

Aku mendongak, bingung. “Ngomong apa sih?”

“Ini!” Helena mendorong gulungan kain itu ke dadaku. “Kamu ketahuan nyuri dari dapur penyimpanan. Mau bilang apa buat bela diri?”

Orang-orang mulai berkumpul. Tatapan mereka menancap ke arahku—campuran rasa ingin tahu dan senang melihat orang lain jatuh. Panas merambat ke pipiku ketika aku berusaha menjelaskan.

“Aku nggak nyuri apa-apa,” bantahku. “Aku cuma beberes.”

Suara Helena berubah lembut penuh iba—iba yang palsu. “Oh, ya? Kalau gitu jelasin kenapa ini kamu sembunyiin di celemekmu.”

Aku membuka gulungan kain itu. Di dalamnya ada beberapa bahan makanan yang sebelumnya dilaporkan hilang. Dadaku seperti dihantam. Aku benar-benar tidak mengambilnya. Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, Landon muncul. Kehadirannya langsung membuat kerumunan menahan napas.

“Ada apa ini?” tanyanya dingin.

Helena cepat-cepat berbalik padanya, mata membesar seolah sedang tersakiti. “Landon, aku menangkap Ava mencuri makanan. Memalukan sekali!”

Pandangan Landon beralih padaku, lalu kembali ke Helena. “Cukup.”

Aku merasakan tatapannya meneliti. “Aku nggak nyuri apa-apa,” kataku, suaraku bergetar. “Dari tadi aku kerja bersihin. Aku nggak tahu itu bisa ada di situ.”

Mata Landon menyipit, tapi ia tidak bergerak sedikit pun untuk menanggapi pembelaanku. “Bubarkan orang-orang,” perintahnya. “Nggak perlu bikin keributan.”

Wajah Helena sempat merosot setitik, lalu ia cepat merapikannya kembali. “Tentu, Landon. Maaf bikin repot.”

Kerumunan bubar dengan berat hati, gumaman mereka masih menyisakan kepuasan yang menjijikkan. Landon sempat melirikku singkat—dingin, tak berminat—lalu berjalan pergi bersama Helena. Aku tertinggal sendirian, rasa malu dan hina itu menempel di kulitku seperti debu yang tak mau hilang.

Apa lagi yang Helena rencanakan sekarang?

Aku mengembuskan napas panjang dan kembali bekerja.

Aku terus bekerja sampai larut malam. Badanku pegal, pikiranku berlarian ke satu hal yang tak bisa kuhindari: pesta itu. Di setiap sudut packhouse, persiapan memenuhi udara—hiasan, makanan, musik, orang-orang yang mondar-mandir dengan wajah berbinar. Antusiasme mereka terasa nyata, sementara di dalam diriku hanya ada ketakutan yang mengendap.

Pesta itu bakal jadi pukulan terakhir. Penghinaan paling sempurna. Aku bisa merasakannya.

Bayangan Landon menggandeng Helena ke sana kemari, memperkenalkannya sebagai Luna-nya, melintas di kepalaku. Sementara aku berdiri di pinggir, menyuguhkan minuman, berpura-pura tak peduli. Satu pack akan melihatnya. Mereka akan melihat seberapa jauh aku jatuh. Seolah selama ini mereka belum melihat. Tapi tetap saja, aku ingin menyelamatkan diriku dari penghinaan yang berikutnya.

Waktu tadi aku membersihkan aula besar, aku sempat mendengar obrolan lain. Kali ini Helena sendiri, berceloteh bersama kelompok temannya.

“Aku nggak sabar lihat ekspresi Ava pas dia harus melayani kita,” kata Helena sambil tertawa. “Katanya dia sekarang hampir tinggal di dapur. Cocok banget.”

Teman-temannya ikut cekikikan, tawa mereka nyaring dan sumbang seperti alat musik rusak. “Dia bakal jadi dekorasi paling pas buat pesta,” rengek salah satu dari mereka. “Nggak ada yang lebih seru daripada ngeliat orang yang dulu punya segalanya jadi nggak kelihatan.”

Aku ingin menjerit: aku nggak pernah punya apa-apa. Tutup mulut kalian.

Aku menelan ludah keras, menahan panas di mata yang memaksa naik. Aku nggak akan nangis. Bukan sekarang. Bukan saat aku dikelilingi orang-orang yang akan menikmati sakitku. Tidak menangis dan tetap menahan diri—itu kemenangan kecilku. Meski aku sendiri nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya