Akhir dan awal
Sudut Pandang Ava
Rasa sakitnya tak tertahankan, begitu menyakitkan. Setiap napas yang kuambil seperti api yang membakar dadaku, rasa sakit yang tajam dan brutal dari setiap pukulan membuatku semakin sulit bertahan. Kaki Helena menekan lebih keras di tanganku, tulang-tulangku retak di bawah berat tubuhnya. Teriakanku menggema di malam hari, tapi tak ada yang datang. Tak ada yang akan menyelamatkanku.
Aku sendirian. Mereka semua meninggalkanku untuk menderita.
Aku bisa merasakan tubuhku gemetar, penglihatanku mulai kabur saat darah menetes dari mulutku, rasa besi memenuhi indra penciumanku. Tulang igaku hancur, tubuhku remuk akibat pukulan tanpa henti. Helena dan Annabelle memastikan hal itu.
Tapi mereka belum selesai.
Helena berjongkok di sampingku, matanya dingin dan bersinar dengan kepuasan. Aku bisa melihat kebencian di tatapannya, senyum kejam di bibirnya saat dia menatapku. Dia menginginkan ini, dia menikmati penderitaanku.
"Kamu seharusnya tidak menghalangi jalanku," bisiknya, suaranya lembut, tapi racun dalam nadanya tak bisa disangkal. "Kamu tidak akan selamat dari ini, Ava. Kamu selalu yang paling lemah."
Aku terengah-engah mencoba memohon belas kasihan, kata-kataku terjebak di tenggorokan, tak mampu merespon saat rasa sakit menguasai diriku. Dadaku terbakar dengan setiap napas yang kuambil, tubuhku menjerit meminta kelegaan, tapi tak ada yang datang.
Helena berdiri, dan dalam cahaya bulan yang pucat, aku melihat cakar-cakarnya tumbuh, memanjang menjadi titik-titik tajam. Jantungku berdebar kencang, penglihatanku kabur saat aku menyadari apa yang akan terjadi.
"Selamat beristirahat, adik manis," kata Helena, suaranya dipenuhi dengan manis yang menjijikkan. "Aku akan menjaga pasanganmu untukmu."
Sebelum aku bisa memproses kata-katanya, Helena menancapkan cakarnya ke dadaku, rasa sakit yang membutakan, menguasai seluruh tubuhku saat aku merasakan dia merobekku, suara dagingku yang tercabik-cabik memenuhi udara. Mulutku terbuka dalam teriakan tanpa suara, tubuhku bergetar saat cakarnya merobek tulang dan otot, menggali ke dalam jantungku.
Aku tak bisa bernapas.
Aku tak bisa berpikir.
Yang kurasakan hanya rasa sakit. Sakit yang tak kunjung henti.
Helena mengepalkan cakar-cakarnya, dan aku merasakan hidupku mengalir keluar dari tubuhku, jantungku melambat saat dia merobeknya dari dadaku, bibirnya melengkung dalam senyum kejam saat dia melihatku mati.
Aku bisa mendengar Annabelle tertawa di kejauhan, suaranya dingin dan mengejek, tapi semakin lama semakin memudar. Semuanya mulai memudar.
Dunia di sekitarku mulai gelap, tubuhku semakin dingin saat aku terbaring di sana, remuk dan berdarah, jantungku tak lagi berdetak di dadaku.
Inilah akhirnya. Momen yang kutakutkan selama ini. Dan yang menakutkan bukanlah kegelapan, tapi kenyataan bahwa tak ada yang peduli. Tak ada yang akan meratapiku. Tak ada yang akan mengingat bahwa aku pernah ada.
Saat penglihatanku semakin kabur, pikiranku beralih ke keluargaku, orang-orang yang pernah menjadi duniaku, yang bersumpah untuk melindungiku, dan mencintaiku. Tapi yang mereka lakukan hanyalah mengkhianatiku. Ibuku, yang tak pernah menunjukkan kebaikan padaku. Ayahku yang mengusirku tanpa berpikir dua kali. Annabelle, yang membenciku sejak dia lahir. Dan Helena, kakakku, yang baru saja merobek jantungku dari dadaku.
Mereka semua telah mengkhianatiku.
Dan kemudian ada Landon, pria yang seharusnya menjadi pasanganku, yang seharusnya mencintaiku, menghargai diriku. Tapi yang dia inginkan hanyalah melihatku menderita. Untuk menghancurkanku dan menguasai diriku seperti boneka.
Jiwaku dipenuhi dengan kepahitan, kebencian yang begitu dalam hingga membakar rasa sakit yang kurasakan. Aku tidak bisa melupakan wajah mereka, tidak bisa melupakan ingatan bagaimana mereka semua membelakangiku.
Aku mengukir wajah mereka dalam pikiranku, wajah orang-orang yang telah menghancurkanku, yang telah meninggalkanku untuk mati.
Saat napas terakhirku meninggalkan tubuhku, hal terakhir yang kulihat adalah senyum Helena, cakar berlumuran darahnya berkilauan di bawah sinar bulan. Dunia di sekitarku menjadi gelap, dan aku menyambutnya.
Tapi bahkan dalam kematian, kepahitan itu tetap ada.
Aku membenci mereka semua, semoga mereka semua terbakar sampai mati.
Tidak ada apa-apa selain keheningan. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi dingin. Hanya kekosongan gelap.
Aku sudah siap untuk melepaskan. Menyerah pada kegelapan dan bebas dari semua penderitaan yang selalu mendefinisikan hidupku.
Tapi ada yang tidak beres.
Sebuah suara, lembut namun kuat, bergema di benakku. "Aku senang kamu akhirnya bangun."
Aku terkejut, mataku terbuka lebar saat aku merasakan udara mengisi paru-paruku lagi. Aku bernapas.
Tapi seharusnya aku tidak. Seharusnya aku mati.
Jantungku berdegup kencang saat aku duduk, tubuhku gemetar saat aku menyadari aku tidak lagi berada di hutan. Aku berada di kamar lamaku, kamar tempat aku tumbuh besar di rumah orang tuaku. Cahaya lembut fajar menyusup melalui jendela, menerangi ruang yang akrab dengan sinar hangat.
Sesaat, aku berpikir semua itu hanya mimpi. Pukulan, pengkhianatan, rasa sakit. Mungkin tidak ada yang terjadi.
Tapi kemudian aku mendengarnya, suara ibuku, panik, memanggil namaku.
"Ava! Ava, bangun!"
Aku menoleh ke arah pintu, jantungku berdebar saat aku mendengar kepanikan dalam suaranya. Itu nyata. Semuanya nyata. Tapi bagaimana aku bisa hidup?
Aku melirik ke dadaku, mengharapkan melihat luka, darah, daging yang tercabik di mana Helena telah merobek hatiku. Tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada bekas luka, tidak ada rasa sakit. Aku utuh kembali.
Pintu kamarku terbuka lebar, dan ibuku bergegas masuk, matanya liar dengan ketakutan. "Ava!" dia menangis, melemparkan dirinya di sampingku. "Syukurlah, kamu bangun!"
Aku menatapnya, kebingungan berkecamuk dalam pikiranku. Kenapa dia bertindak seperti ini? Seperti dia peduli?
Terakhir kali aku berada di rumah ini, dia mengatakan aku tidak diterima di sini. Bahwa aku adalah aib.
Namun, di sini dia, memelukku, wajahnya pucat dengan kekhawatiran.
Pikiranku berputar saat aku mencoba memahami semuanya. Apakah ini nyata? Apakah aku diberi kesempatan kedua?
Suara dalam pikiranku berbicara lagi, tenang namun tegas. "Kamu telah diberi hadiah, Ava. Kesempatan untuk mengubah segalanya."
Jantungku berdegup kencang. Kesempatan kedua.
Aku tidak mati. Aku tidak hancur lagi.
Dan saat kepahitan dan kebencian kembali memenuhi hatiku, aku tahu satu hal dengan pasti.
Kali ini, aku akan mengakhiri mereka, mereka akan memohon untuk mati dan tidak akan pernah melihatnya.
"Bagus! Itu yang kuinginkan juga," kata suara itu.
