Bab 11

Udara di dalam lift terasa begitu menyesakkan.

Pertanyaan Citra menggantung di udara, membawa beban mematikan yang menghantam dada Bima.

Pria itu menatap wajah pucat pasi di hadapannya, melihat bibir wanita itu gemetar menahan rasa sakit yang luar biasa. Sesuatu meledak di dalam dirinya, menghanguskan seluruh akal sehatnya.

"Citra! Kamu nggak sadar kalau lambungmu itu bermasalah?" Bima menerjang maju.

Ia mencengkeram pergelangan tangan Citra terlalu keras, membuat wanita itu memekik kesakitan.

"Sebegitu nggak pedulinya kamu sama badanmu sendiri?"

Bagi Citra dengan kondisinya saat ini, pertanyaan itu terdengar seperti lelucon paling kejam di dunia.

"Lambungku?" Sudut bibirnya terangkat sinis. Namun sejurus kemudian, tawa Citra pecah—tawa sumbang dan putus asa yang memantul di dinding lift, hancur berkeping-keping.

"Bima, baru sekarang kamu peduli sama lambungku?"

"Lima tahun lalu, waktu aku sekarat kesakitan di penjara, kamu di mana? Nggak usah sok jadi orang baik!"

Suaranya tiba-tiba meninggi, kebencian dan keputusasaan selama lima tahun akhirnya meledak.

"Bukannya ini yang kamu mau? Kamu kan suka lihat aku menderita, lihat aku hancur nggak ada harganya seperti sampah? Kamu puas sekarang?"

Dengan tangannya yang bebas, ia menunjuk perutnya sendiri. Wajahnya menyiratkan kegilaan yang nyaris seperti orang ingin bunuh diri.

"Kalau itu belum cukup, ya sudah! Aku bakal balik ke sana dan terus minum! Sampai lambungku bocor, sampai aku mati di depan mereka! Asal kembalikan anak-anakku!"

"Kamu sudah gila!"

"Iya, aku memang gila!" Citra menantang amarah Bima yang memuncak dengan tatapan mata yang sudah sepenuhnya mati, hanya menyisakan abu.

"Aku gila sejak detik kamu sendiri yang menjebloskanku ke penjara, membuangku dan bayi kita yang belum lahir demi menyelamatkan Livia!"

"Aku sudah nggak punya apa-apa lagi, Bima! Yang aku punya cuma kedua jagoanku itu!"

Setiap kata yang ia teriakkan menguras sisa tenaga yang dimilikinya. Setelah ledakan emosi itu, tubuhnya tak lagi mampu menopang dirinya sendiri.

Dunia berputar di sekelilingnya, dan ia mulai terhuyung jatuh.

"Anak-anakku... kembalikan... anak-anakku..." Citra terus meracau, langkahnya goyah, tubuhnya oleng tak terkendali.

Melihat wanita itu nyaris ambruk, rasa frustrasi dan amarah di dada Bima mencapai puncaknya.

Dalam satu gerakan cepat, ia melangkah maju. Tepat sebelum Citra menyentuh lantai, Bima membungkuk dan merengkuh tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.

Terangkat tiba-tiba, Citra tersentak. Insting bertahan hidup membuatnya secara otomatis mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu.

Sedetik kemudian, ia sadar apa yang terjadi dan meronta hebat. "Bima, lepasin! Kamu gila, ya!"

Ia memukuli dada Bima dan menendang-nendangkan kakinya, tapi tenaganya sama sekali tak sebanding dengan pria itu.

Bima mengabaikan semua perlawanannya. Ia menggendong Citra melintasi lobi yang sepi dengan langkah panjang dan mantap, langsung menuju mobil Bentley hitam yang sudah menunggu di depan gedung.

Sopir dan petugas keamanan menundukkan kepala melihat pemandangan itu. Tak ada yang berani bersuara saat mereka membukakan pintu belakang mobil dalam diam.

Bima meletakkan Citra di kursi belakang yang luas, lalu ikut masuk. Pintu mobil dibanting tertutup di belakang mereka.

"Biarin aku keluar!" Citra tak sanggup berada di ruang tertutup berdua saja dengan pria itu sedetik pun lebih lama. Ia menerjang pintu, menarik-narik gagangnya dengan putus asa, tapi kunci sentral sudah lebih dulu diaktifkan.

"Jalan," perintah Bima kepada sopir di depan, suaranya sedingin dan sekeras baja.

Mobil itu melaju mulus, membelah lautan cahaya neon ibu kota.

Sisa-sisa pengaruh alkohol, rasa perih yang menyayat di lambungnya, serta kelelahan mental menghantam Citra bertubi-tubi, mengikis sisa kewarasannya.

Berontaknya perlahan melemah. Ia memejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga, tapi tubuhnya tetap kaku, tak rileks sedikit pun.

Kesunyian di dalam mobil itu terasa mencekam.

Bima menoleh, garis rahangnya yang tegas tercetak jelas di bawah cahaya remang-remang.

Ia menatap perempuan yang meringkuk di sudut kursi di sebelahnya. Riasan wajah yang awalnya dipulas sempurna kini luntur oleh air mata, membuat wajah pucat itu terlihat semakin rapuh.

Namun, sorot kebencian yang menyala di mata perempuan itu sebelumnya sudah cukup untuk membuat kekesalan di dada Bima kian menumpuk, nyaris meledak.

Selama lima tahun ini, wajah tersebut selalu tumpang tindih dengan sosok gadis dalam ingatannya—gadis yang dulu selalu mengikutinya dengan mata berbinar ceria—yang kini terkoyak oleh kepucatan dan kebencian.

Jakun Bima naik-turun, dadanya mendadak terasa sesak oleh perasaan yang tak bisa dijelaskan.

Saat mobil melewati sebuah persimpangan, matanya menangkap plang "Apotek 24 Jam" dari balik jendela. Ia bersuara hampir secara refleks. "Berhenti."

Sang sopir segera menepikan kendaraan.

"Beli obat mag," perintahnya singkat.

"Baik, Pak Bima."

Sopir itu tak lama kemudian kembali membawa obat yang diminta. Bima mengambilnya dan melemparkan bungkusan itu ke kursi kosong di antara dirinya dan Citra.

Mobil kembali melaju.

Entah karena suara kresek plastik itu yang mengusiknya, atau karena rasa melilit di perutnya yang semakin parah.

Tubuh Citra sedikit gemetar, dan ia perlahan membuka mata.

Tatapannya jatuh pada bungkusan berlogo apotek tersebut.

Ia tertegun sejenak.

Detik berikutnya, rasa hina yang jauh lebih tajam dari sakit lambungnya menusuk ulu hati.

Habis menyakiti, lalu sok peduli?

Dia pikir Citra ini apa? Binatang peliharaan yang bisa dipanggil dan diusir sesuka hati?

Citra membuang muka, dengan keras kepala kembali meraih tuas pintu mobil.

Tepat saat tangannya hendak menyentuh tuas itu, sebuah cengkeraman sekuat besi dari belakang menahan pergelangan tangannya.

Sedetik kemudian, tarikan yang begitu kuat menghempaskannya ke belakang.

Citra jatuh terjerembap di atas jok kulit. Belum sempat ia bereaksi, sosok tinggi besar sudah mengungkungnya.

Bima bertumpu dengan satu lutut di atas jok, mengurungnya rapat-rapat di antara tubuh pria itu dan pintu mobil.

Satu tangannya menekan kaca jendela tepat di sebelah wajah Citra, sementara tangan yang lain mencengkeram dagu perempuan itu, memaksanya mendongak.

Jarak mereka begitu dekat sampai embusan napas masing-masing terasa di kulit.

Aura dominan pria itu, yang membawa aroma samar alkohol, sepenuhnya menyelimuti Citra.

"Di mana anak-anakku?" Citra mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menekan kata-kata itu dari sela-sela giginya. "Di mana Tito dan Tomi?"

Bima menunduk, napas hangatnya menyapu telinga Citra. Suaranya terdengar rendah dan berbahaya. "Di kediaman utama. Kakekku yang menjaga mereka. Mereka aman."

Mendengar jawaban itu, urat saraf Citra yang sejak tadi menegang hingga batas maksimal, akhirnya mengendur.

Asalkan anak-anaknya baik-baik saja.

"Mau bertemu mereka?" Ibu jari Bima mengusap pelan garis rahang Citra yang rapuh.

Citra berhenti memberontak.

"Kalau begitu, menurutlah."

"Turuti kata-kataku, dan aku akan mengembalikan mereka padamu."

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya