Bab 2

Langit mendadak kelabu, menggantung berat membawa hawa pengap yang mencekik—pertanda badai akan segera turun.

Bima berdiri di depan jendela kaca raksasa di ruang kerjanya, melonggarkan dasi dengan gusar. Sudah beberapa hari ini perasaannya tak karuan, pikirannya kalut tanpa alasan yang jelas.

Tepat pada saat itu, asistennya menerobos masuk, napasnya tersengal-sengal panik. "Pak Bima! Gawat, Pak—Bu Safira meninggal!"

Bima berbalik cepat, pupil matanya mengecil tajam. Ia menatap asistennya dengan tatapan tak percaya. "Apa kamu bilang? Coba ulangi."

Ia bahkan tidak menyadari suaranya sendiri terdengar bergetar.

Asisten itu bersusah payah melanjutkan kata-katanya. "Pak, sudah dipastikan Bu Safira meninggal karena infeksi saat berada di dalam tahanan. Jenazahnya sudah dikirim untuk dikremasi."

Tubuh tegap Bima sedikit limbung. Tanpa bisa dicegah, ingatannya terlempar pada hari itu—saat Safira tergeletak bersimbah darah, mengulurkan tangan dengan putus asa ke arahnya, memohon pertolongan dalam bisu.

Waktu itu amarah telah menguasai dirinya. Ia murka karena Safira berkali-kali mencoba mencelakai Livia, bahkan berniat membunuh bayi dalam kandungan perempuan itu.

Namun, tak pernah sekalipun terlintas di benaknya untuk membiarkan Safira mati.

Kini, mendengar kabar tersebut, tanpa sadar ia mengangkat tangan dan meremas dadanya. Ada ruang kosong yang tiba-tiba menganga di sana.

Seharusnya ia lega Safira akhirnya lenyap. Toh, bayi Livia berhasil selamat, dan awalnya ia memang berencana mengeluarkan Safira dari penjara setelah kondisi Livia membaik.

Tapi sekarang...

Kabar kematian Safira di penjara juga dengan cepat sampai ke telinga Livia.

Perempuan itu bersandar di ranjangnya tanpa ekspresi. Matanya menatap perutnya yang mulai membuncit dengan sorot yang sulit diartikan.

Ia tak pernah menyangka janin ini akan begitu kuat—bertahan hidup melewati segala rintangan.

Livia hamil melalui program bayi tabung, dan sejak awal ia sudah berencana untuk menggugurkan kandungan itu setelah pernikahannya nanti.

Namun dengan kematian Safira, ia butuh rencana baru.

Livia mengambil ponselnya dan memutar sebuah nomor. "Jemput aku sekarang. Lakukan sesuai rencana."

"Siap, Mbak."

Sementara itu, Bima masih duduk terpaku di ruang kerjanya, berusaha mencerna kabar kematian Safira.

Dering ponselnya yang melengking memecah keheningan.

Baru saja ia mengangkat panggilan itu, suara Livia yang panik langsung terdengar di seberang sana.

"Mas Bima, aku diculik! Tolong aku, Mas! Aku—"

Sambungan terputus tiba-tiba.

"Livia!"

Bima melompat dari kursinya dengan panik, jarinya bergerak cepat menghubungi asistennya. "Lacak lokasi Livia sekarang juga! Cepat!"

"Baik, Pak."

Tak butuh waktu lama bagi asistennya untuk mengirimkan titik koordinat. Livia disekap di sebuah pabrik terbengkalai di kawasan utara kota.

Bima menginjak pedal gas dalam-dalam, membelah jalanan dengan kecepatan gila-gilaan menuju lokasi tersebut. Setibanya di sana, ia menemukan Livia dengan kedua tangan terikat.

Ketakutan terpancar jelas di mata perempuan itu. Begitu melihat Bima, ia langsung menjerit, "Mas Bima! Tolong!"

Penculik di sebelahnya langsung menempelkan pisau ke leher Livia saat Bima melangkah maju. "Berhenti di situ, Bima! Selangkah lagi kau maju, kubunuh perempuan ini sekarang juga!"

Bima membeku. Ia menatap si penculik dengan sorot mata tegang. "Siapa yang menyuruhmu? Apa pun yang kamu mau, akan kuberikan! Lepaskan saja Livia!"

Penculik itu menyeringai bengis. "Aku nggak butuh apa-apa! Pak Kusuma yang mengutusku ke sini dengan satu tujuan—membuat Livia menanggung akibat perbuatannya, dan menyusul Nona Safira ke alam baka!"

Kilat dingin melintas di mata Bima. Otaknya berputar cepat, menerka siapa dalang yang dimaksud pria di hadapannya ini.

"Berapa yang mereka bayar sampai kau nekat mempertaruhkan nyawa begini? Aku bayar dua kali lipat," ucap Bima. Ia mengangkat kedua tangannya, melangkah maju dengan sangat hati-hati. Tatapannya tak lepas sedetik pun dari pisau yang menempel di leher Livia.

"Dan siapa sebenarnya 'Pak Sutedja' yang kau maksud?"

Surya, kakak tertua Safira, sudah lama menghilang tanpa jejak.

Sementara kakak keduanya, Satria, sudah dijebloskan ke penjara oleh Bima sendiri.

Hanya mereka berdua keluarga Safira yang tersisa.

Penculik itu menjawab tanpa ragu. "Satria, tentu saja. Dia memberiku perintah tegas—Livia harus membayar mahal untuk semuanya."

Amarah di mata Bima kian membeku, memancarkan aura yang membunuh.

Ia pikir ia sudah membuat keluarga Sutedja hancur lebur, tapi rupanya mereka masih punya sisa kekuatan untuk menyerang balik. Belas kasihnya ternyata salah sasaran, dan kini Livia yang harus menanggung bahayanya!

Melihat pesan sandiwaranya telah tersampaikan dengan sempurna, Livia langsung menjerit. "Mas Bima, aku takut banget!"

"Aku nggak akan biarkan siapa pun menyakitimu!" Tatapan Bima tetap terkunci pada si penculik.

Di luar pandangan Bima, tangan Livia yang terikat diam-diam menyenggol kaki penculik itu. Rencana mereka sudah berhasil sempurna—sekarang saatnya pria sewaan ini pergi.

Menangkap sinyal tersebut, si penculik mulai melangkah mundur perlahan sambil tetap menyandera Livia.

Tiba-tiba, kakinya tersandung dan ia jatuh tersungkur.

Bima tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menerjang maju dan bergumul dengan si penculik.

Dengan tenaga yang jauh lebih besar, Bima berhasil menindih pria itu ke lantai, meski si penculik terus meronta dengan putus asa.

Livia menyambar pisau yang terlempar ke lantai dan berseru panik, "Mas, biar aku bantu!"

Tanpa ragu sedikit pun, ia mengarahkan pisau itu tepat ke dada si penculik dan menancapkannya dalam-dalam.

Jantungnya tertembus telak. Penculik itu menatap Livia dengan mata terbelalak tak percaya. Tangannya yang gemetar terangkat pelan. "Kau..."

Livia buru-buru memasang wajah ketakutan setengah mati. Ia melepaskan gagang pisau itu dan menjerit histeris. "Mas Bima, aku... aku bunuh orang!"

Tatapan tajam Bima beralih dari mayat yang terbujur kaku dengan mata mendelik itu. Livia memanfaatkan momen tersebut untuk ambruk ke dalam pelukan Bima, menangis tersedu-sedu.

"Mas, aku bunuh dia! Apa aku bakal dipenjara? Aku takut banget waktu dia culik aku—yang ada di pikiranku cuma ketakutan nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku harus gimana, Mas?"

Setelah sempat terdiam sejenak, Bima perlahan menepuk bahu Livia. "Aku nggak akan biarkan hal buruk terjadi padamu. Lagipula, bajingan ini memang pantas mati."

Dan bukan cuma penculik ini, ia pastikan Satria juga akan membayar mahal untuk semua ini.

Bima membawa Livia ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh. Di ruang tunggu, ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan: [Pindahkan Satria ke lapas dengan pengamanan paling ketat di pelosok.]

Jarinya sempat ragu di atas layar. Ingatan masa lalu berkelebat—dulu, ia dan Satria adalah sahabat karib. Namun pada akhirnya, ia menekan tombol kirim.


Lima tahun kemudian.

Safira melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara, menggandeng dua anak kecil yang luar biasa menggemaskan di sisi kiri dan kanannya.

Meski hanya memoleskan riasan tipis, kecantikan alaminya membuat wanita itu terlihat layaknya bintang film papan atas. Diapit oleh kedua anaknya yang berwajah rupawan, kehadiran ketiganya langsung menyita perhatian setiap mata yang memandang.

Safira menatap nanar kota yang begitu familier ini, tempat ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya. Di balik sepasang matanya yang indah, kilat kebencian menyala terang.

Kota Pelita, aku kembali! batinnya dingin.

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya