Bab 3
“Ma, kita sekarang mau ketemu Om Fajar, ya?” tanya Timo, menengadah dengan mata bulat sebesar anggur yang penuh rasa ingin tahu.
“Kata Om Fajar, dia punya kejutan buat kita,” sambung Toma dengan antusias.
Sofia tersenyum hangat pada kedua putranya. “Iya. Tapi sebelum itu, kita mampir dulu ke studio foto Mama yang baru.”
Fajar Turnawan dan Beni dulu saingan keras di dunia bisnis, tapi entah bagaimana, Fajar justru jadi salah satu sahabat terdekat Sofia.
Waktu Sofia sudah di ujung tanduk di penjara, menunggu mati pelan-pelan tanpa ada yang peduli, Fajar yang menggunakan relasinya untuk menariknya keluar—menukar identitasnya dengan seorang narapidana yang sudah keburu meninggal, memalsukan jejak supaya Sofia bisa kabur.
Tanpa Fajar, Sofia dan anak-anaknya mungkin sudah tidak ada.
“Yeay! Kita bisa main sama Om Fajar!” seru Toma, kegirangan tanpa bisa ditahan.
Senyum Sofia makin dalam saat ia memandangi keduanya.
Dia tak pernah menyangka akan mengandung anak kembar ketika dulu dia melarikan diri ke luar negeri.
Semakin besar, wajah mereka makin mirip Beni—rahang tegas yang sama, tatapan tajam dengan mata biru yang sama.
Tapi beda dari Beni yang dingin dan selalu menjaga jarak, Toma luar biasa hidup, mulutnya tak pernah kehabisan cerita, sementara Timo lebih banyak diam, memperhatikan, seperti menyimpan dunia kecilnya sendiri di kepala.
Sofia membukakan pintu mobil. Toma naik ke kursi depan, sedangkan Timo duduk di belakang.
Setelah melahirkan di negeri orang, Sofia kembali pada cinta pertamanya—fotografi.
Dulu, ketika namanya melambung di dunia fotografi lewat satu foto luar biasa: seekor macan tutul yang melesat di alam liar, orang-orang tak henti bilang dia benar-benar “ketiban berkah”. Bahkan jepretan santainya pun punya ciri khas yang gampang dikenali.
Tapi dia pernah sebodoh itu—meninggalkan semuanya demi Beni. Si “anak ajaib” yang dulu dielu-elukan mendadak lenyap dari peredaran, seolah tak pernah ada.
Kalau mengingatnya sekarang, Sofia cuma bisa menyimpulkan satu hal: dulu dia benar-benar nggak waras.
Kesalahan terburuknya adalah menukar seluruh hidupnya demi sesuatu yang dia sebut cinta. Untungnya, dia selalu punya nyali untuk mulai lagi—bahkan ketika jiwanya remuk, dia masih bisa mencari cara untuk berdiri dan menyusun ulang dirinya.
Sofia menyetir pelan, kaca jendela diturunkan agar anak-anak bisa menikmati pemandangan Kota Lumin. Angin siang menyapu masuk, membawa aroma jalanan yang hidup.
Toma sibuk menggulir berita di ponselnya.
Saat lampu merah, Sofia melirik sekilas layar itu dan mendapati Toma sedang menonton wawancara berita bisnis.
Pembawa acaranya memperkenalkan bintang tamu dengan semangat berlebihan. “Kita merasa terhormat hari ini bisa kedatangan CEO Brown Group yang masuk jajaran perusahaan global, Beni Brown…”
Belum sempat kalimat itu selesai, sebuah tangan kecil dari kursi belakang menyambar layar dan menggeser videonya, menutup tayangan itu.
Toma langsung manyun, menoleh kesal ke adiknya. “Timo, ngapain lo gitu?”
“Aku benci dia,” jawab Timo tanpa ragu.
Sofia mengangkat alis, heran. “Timo, kamu bahkan belum pernah ketemu dia. Kenapa kamu benci banget?”
“Karena dia nyakitin Mama,” kata Timo mantap, seakan itu kebenaran yang nggak butuh bukti. “Aku sama Toma lahir buat jagain Mama. Siapa pun yang bikin Mama sakit, itu musuh kita.”
Toma mengangguk kencang. “Iya! Nggak ada yang boleh nyakitin Mama kalau kita ada.”
Sofia berkedip, hangat tiba-tiba memenuhi dadanya, mengalir sampai ke ujung-ujung tubuh.
Anak-anaknya sudah tumbuh bukan cuma jadi titik lemahnya, tapi juga jadi kekuatannya—perisai yang rapat, yang tak gampang ditembus.
“Aku tahu. Tapi…”
Suara Santi mengecil, menggantung dalam keraguan. Selama ini ia tak pernah benar-benar membahas soal siapa ayah mereka dengan kedua anak itu, meski mereka pernah menanyakan.
Setelah beberapa kali ia mengelak, baik Timo maupun Tomi seolah menangkap ketidaknyamanannya dan tak pernah mengungkitnya lagi.
Sekarang, celetukan mereka justru membuat Santi bertanya-tanya—jangan-jangan mereka sudah tahu lebih banyak dari yang ia kira.
Ucapan Timo berikutnya mengukuhkan kecurigaannya.
“Mama, aku sama Tomi udah tahu kok apa yang Mama sembunyiin.”
Tomi menunjuk wajahnya sendiri. “Mama, kita nggak bodoh.”
Santi mendadak kehilangan kata.
Pengaruh Ben sudah sampai puncaknya. Meski mereka tidak tinggal di Kota Luminous, berita soal Ben hampir selalu muncul di linimasa. Dengan otak kedua bocah itu yang kelewat cerdas, mana mungkin mereka tak menyadari kemiripan mencolok antara diri mereka dan pria di berita-berita itu?
Lampu lalu lintas berubah hijau, dan Santi kembali melajukan mobil.
Ia menggenggam setir dengan satu tangan, pikirannya masih tertambat pada percakapan barusan.
“Tomi, Timo, kalau suatu hari…” Santi memilih kata-kata dengan hati-hati.
Namun sebelum ia sempat menyelesaikannya, keduanya memotong tanpa ragu. “Mama, nggak bakal ada hari kayak gitu. Kita selalu di sisi Mama.”
Pandangan Santi bergetar oleh emosi. Kadang, ada hal-hal yang tak perlu diucapkan terang-terangan.
“Iya,” katanya pelan, mata dipenuhi bahagia dan rasa cukup.
Mereka mendekati tikungan kiri. Santi memutar setir dan melaju setelah berbelok, sama sekali tak menyadari ada sebuah Rolls-Royce yang sedang menunggu lampu di dekat situ.
Ben menatap tak percaya saat mobil Santi melintas.
Sesaat ia meragukan matanya sendiri. Bukankah Santi seharusnya sudah mati di penjara? Bagaimana mungkin ia masih hidup?
Namun apa yang baru saja ia lihat terasa terlalu nyata untuk disangkal.
Santi yang sekilas tertangkap pandang itu masih memiliki wajah cantik yang ia ingat, hanya saja rautnya kini tampak lebih matang, dengan kedalaman yang sulit dijelaskan.
Ia langsung memerintah sopirnya, “Ikuti mobil yang barusan belok kiri itu.”
Sopirnya ragu. “Maaf, Pak Brown, mobilnya sudah keburu jauh. Kita nggak bakal sempat nyusul.”
Tubuh Ben yang tegang perlahan mengendur. Ia memejamkan mata, lalu berkata, “Lanjut ke tujuan semula. Kita cek lokasi kantor baru.”
“Baik, Pak Brown.”
Sementara itu, Santi berhenti tepat di depan studio fotografinya.
Franky membantunya mendirikan usaha itu dengan identitas palsu. Bertahun-tahun berjalan, studio itu berkembang pesat, menarik banyak klien kelas atas.
Saat Santi turun dari mobil, ia melihat ruko di sebelahnya hampir selesai direnovasi, meski bagian depan belum dipasangi dekorasi apa pun. Ia belum bisa menebak usaha apa yang akan menempatinya.
Ia sempat berniat memperluas studionya ke sana kalau pekerjaan makin ramai, tapi rupanya orang lain sudah lebih dulu mengambilnya.
Santi menggenggam tangan kedua putranya. “Yuk, kita masuk, lihat-lihat.”
Tak lama setelah mereka masuk, mobil Ben berhenti di lokasi yang sama.
Dengan pikiran penuh pertimbangan, ia menatap SUV hitam yang terparkir di samping bangunan itu, merasa ada sesuatu yang ganjil—mobil itu terasa akrab.
Persis seperti kendaraan yang tadi ia lihat Santi kendarai.
Jangan-jangan…?
