Bab 45

Telepon itu terputus.

Farhan berdiri di ruang tamunya yang lapang, ponsel masih tergenggam, senyum getir mengambang di sudut bibirnya.

Dia tahu betul, kalau tadi dia sekadar mengajaknya makan malam tanpa alasan, perempuan itu pasti menolak tanpa ragu.

Kesadaran itu membuat dadanya seperti direma...

Masuk dan lanjutkan membaca