Bab 7

Rolls-Royce Phantom hitam itu melaju kencang di jalan tol, tapi suasana di dalam mobil dinginnya seperti es.

Thomas dan Timothy duduk terpisah di jok belakang, masing-masing dijepit oleh satu pengawal. Tak satu pun dari mereka mengamuk—mereka cuma membalas semuanya dengan diam yang aneh, seolah sudah sepakat tanpa perlu bicara.

“Kalian mau makan apa? Mau jalan ke mana? Aku…” ucapan Benjamin terpotong.

“Kami nggak mau makan apa-apa, dan kami nggak mau ke mana-mana,” kata Thomas. Wajah kecilnya kaku saat ia melafalkan tiap kata dengan sengaja. “Om jahat. Lepasin kami sekarang juga, atau Mama bakal bikin Om nyesel!”

Benjamin merasa seperti ada sesuatu yang menusuk tajam dadanya.

Ia menarik napas dalam, berusaha melunakkan suaranya. “Om bukan orang jahat. Om itu…”

“Om bukan papa kami!” suara Timothy tidak keras, tapi tegasnya seperti palu saat memotong kalimat Benjamin. “Papa kami udah meninggal dari lama.”

Wajah Benjamin seketika pucat pasi.

Begini cara Sophie membesarkan mereka? Sampai-sampai anak-anak dipaksa untuk tidak mengakui dirinya.

Amarah yang tak bernama bercampur nyeri yang menusuk berputar di dadanya, hampir menghanguskan akal sehatnya.

Ia menginjak pedal gas, dan laju mobil kembali melonjak.

Ia tidak menuju vilanya, juga tidak ke kantor perusahaan. Ia justru meluncur lurus ke Kediaman Keluarga Brown.

Kediaman Brown berdiri di bukit termahal di Kota Luminous, rumah tua yang megah—angkuh dalam kemewahannya yang terasa seperti warisan zaman.

Begitu Rolls-Royce berhenti di depan gerbang, Felix, kepala pelayan, bergegas keluar menyambut. “Tuan Benjamin, ada perlu apa datang mendadak begini? Kakek Anda lagi latihan kaligrafi di taman belakang.”

Benjamin tak menjawab, hanya melempar pandang yang sarat maksud pada para pengawal.

Para pengawal langsung paham dan membuka pintu belakang.

Begitu Felix melihat wajah kedua anak itu dengan jelas, ia membeku, sampai saputangan yang tadi dipegangnya terlepas dan jatuh.

Dua bocah itu… persis sekali seperti Benjamin waktu kecil.

“Ini… siapa…” suara Felix bergetar.

“Anak saya,” ucap Benjamin datar, lalu melangkah begitu saja ke arah taman belakang.

Di taman belakang, di bawah pohon pir, seorang lelaki tua berwibawa sedang melukis. Dialah tumpuan terakhir Grup Brown, kepala keluarga yang sudah bertahun-tahun mundur dari hiruk-pikuk—kakek Benjamin.

“Siapa itu? Kalian nggak tahu ya, kalau saya lagi melukis jangan diganggu!” Kakek Brown bahkan tidak menoleh, nadanya menyimpan sedikit tidak senang.

“Kakek, ini aku.”

Mendengar suara Benjamin, Kakek Brown perlahan mengangkat kepala. Ia baru hendak memarahi cucunya ketika tatapannya mendadak terpaku pada dua anak yang digiring pengawal.

Kuas di tangannya jatuh ke tanah dengan bunyi pelan, “pluk.”

Ia berdiri, wajahnya tak percaya, lalu melangkah cepat ke depan—tubuhnya sedikit limbung karena terlalu bersemangat.

“Benjamin, anak-anak ini…”

“Cicit Kakek,” kata Benjamin. Suaranya mengandung emosi rumit yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya kenali.

“Cicitku?” Kakek Brown mendekat, menatap tajam seolah takut yang dilihatnya menguap.

“Mereka mirip kamu! Mirip sekali! Persis seperti kamu waktu kecil!” Wajah renta itu seketika dipenuhi kegembiraan yang liar. “Seakan-akan dicetak dari cetakan yang sama!”

Ia mengulurkan tangan yang sedikit gemetar, hendak menyentuh pipi anak-anak itu. “Sini, sini… biar Kakek gendong! Cicit-cicit kesayangan Kakek!”

Namun Thomas mendadak memalingkan kepala dengan kasar, menghindari tangan itu. “Kamu siapa? Aku nggak mau digendong!”

Timothy hanya mundur selangkah, menolak lewat tindakannya.

Suasananya mendadak jadi serba canggung.

Raka mengernyit, lalu berjongkok agar sejajar dengan tinggi mereka. “Ini kakek buyut kalian. Salam yang sopan.”

“Nggak mau!” Tegar mengangkat dagu, bersikeras, lalu berteriak, “Aku mau Mama! Balikin aku ke Mama sekarang!”

Kesabaran Raka menipis cepat.

“Apa pun yang bisa dia kasih ke kalian, aku bisa kasih dua kali lipat,” katanya tegas. “Mulai hari ini kalian tinggal di sini. Ini rumah kalian yang sebenarnya.”

Dia mencoba menenangkan mereka dengan janji-janji soal materi, mengira itu yang diinginkan anak kecil.

“Aku nggak peduli!” mata Tegar memerah. “Dasar tukang bully! Kamu bikin Mama aku nangis! Aku benci kamu!”

Tio menatap ke atas ke arah Raka. Mata itu—mirip sekali dengan mata Raka sendiri—sama sekali tak menyimpan kepolosan anak-anak, hanya penilaian dingin.

“Kamu pikir karena kamu kaya kamu jadi hebat? Mama aku bilang yang paling penting itu hati nurani. Orang kayak kamu, yang nyulik anak orang, nggak punya hati nurani. Kamu cuma tukang bully.”

“Apa kamu bilang?” amarah Raka menyala seketika.

Selama lebih dari tiga puluh tahun hidupnya, dia kejam dalam urusan bisnis dan tak pernah mengenal kata kalah.

Sekarang dia dimarahi anaknya sendiri yang baru empat tahun!

“Aku bilang kamu tukang bully!” Tegar membalas tanpa gentar. “Lepasin kita sekarang! Atau aku beneran bakal telepon polisi!”

Pak Wiryo akhirnya menangkap ada sesuatu yang benar-benar nggak beres di tengah kekacauan itu.

Ia menarik Raka agak ke samping dan merendahkan suara, wajahnya serius. “Ini sebenarnya apa? Siapa ibu anak-anak ini? Kenapa selama ini aku nggak pernah dengar?”

Pak Wiryo sudah pensiun bertahun-tahun, mengurus hobi saja dan menikmati masa tuanya.

Ia mengira cucunya mengurus semuanya dengan baik, jadi ia tak pernah terlalu ikut campur. Ia tak menyangka hari ini bakal dibenturkan pada kenyataan yang sedramatis ini.

“Ibu mereka… Siska,” Raka memaksa nama itu keluar, seperti tersangkut di tenggorokan.

“Putrinya keluarga S—?” Pak Wiryo terperanjat. “Bukannya dia meninggal lima tahun lalu?”

“Dia nggak mati,” suara Raka terdengar letih. “Dia bohongin semua orang.”

Pak Wiryo menatap dua cicitnya yang masih kecil namun berdiri menantang dengan wajah dingin, lalu kembali melihat cucunya yang gelisah, dan mengembuskan napas panjang.

Rupanya banyak hal terjadi selama bertahun-tahun ini yang sama sekali tak ia ketahui.

Pak Wiryo melangkah mendekati anak-anak itu dan berusaha keras membuat wajahnya hangat dan ramah. “Sayang, jangan takut, ya. Aku kakek buyut kalian. Boleh cerita… bagaimana kabar mama kalian? Selama ini dia baik-baik saja?”

Begitu nama ibunya disebut, Tegar langsung terbuka, nadanya penuh bangga sekaligus khawatir. “Mama aku mama paling hebat sedunia! Mama bisa foto-foto, bisa masak, terus ngajak kita ke tempat main! Mama besarin kita berdua sendirian, capek banget.”

“Mama sering nggak bisa tidur malam. Mama minum pil putih biar tidur. Mama bilang itu permen, tapi aku tahu itu obat.”

“Mama bilang kalau ada kita, Mama nggak takut apa pun. Makanya aku harus cepat gede, biar bisa jagain Mama!”

Tio mengangkat kepala dan memandang Pak Wiryo dengan tenang.

Lalu ia menoleh pada Raka dan mengucapkan kalimat yang membuat semua orang terpaku. “Aku tahu kamu sangat kaya dan punya kuasa. Tapi kami nggak bisa tinggal di sini.”

Ia berhenti, wajah kecilnya memancarkan ejekan dan kesedihan yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.

“Soalnya Mama pernah masuk penjara karena penganiayaan. Kalian semua bilang Mama pembunuh. Artinya, kami ini anak pembunuh.”

“Kalau kalian percaya orang kayak kami nggak pantas buat keluarga Wijaya…”

“Boleh nggak, sekarang kalian balikin kami ke Mama?”

Bab Sebelumnya
Bab Selanjutnya