Bab 9
Bima menatap lekat wanita di hadapannya. Tubuh wanita itu bergetar menahan amarah, matanya memancarkan kebencian yang begitu pekat. Untuk sesaat, lidah Bima terasa kelu.
Andai saja dulu ia tahu tentang anak-anak itu...
Andai saja ia mau bertanya satu kali lagi, memercayainya sedikit saja...
Bima menggeleng kuat, menepis pikiran-pikiran yang mengganggunya.
Wanita inilah yang lebih dulu menjebak Alya!
Sekalipun ia telah berkorban banyak demi anak-anak itu, semua itu tidak bisa menghapus kesalahan masa lalunya!
Semua penderitaan ini adalah akibat perbuatannya sendiri!
Suasana di balkon itu hening mencekam.
Alunan musik dari dalam ruangan VIP sudah berhenti entah sejak kapan. Semua orang di dalam sana dengan peka menjaga ketenangan, hanya sesekali mencuri pandang ke arah balkon dengan raut penuh rasa ingin tahu.
"Beberapa tahun ini, membesarkan mereka sendirian pasti tidak mudah bagimu."
Setelah keheningan yang cukup panjang, Bima akhirnya kembali bersuara. Nada amarahnya telah lenyap, berganti dengan sikap dingin dan kaku.
"Anak-anak itu harus tetap tinggal bersama keluarga Wijaya. Mereka adalah putraku, darah daging Wijaya, dan sama sekali tidak boleh dibesarkan di tempat lain."
Ia menatap wajah Citra yang memucat pasi, lalu melanjutkan, "Sebagai kompensasi, aku bisa mengabulkan permintaan apa pun yang kau ajukan."
"Vila eksklusif di pinggir danau kawasan Sentul itu bisa langsung dibalik nama menjadi milikmu. Aku ingat kau selalu menyukai desainnya."
"Aku akan mengucurkan dana satu setengah triliun rupiah dari Wijaya Group untuk membangun studio fotografi independen untukmu, lengkap dengan tim terbaik di negeri ini, supaya kau bisa melanjutkan kariermu."
"Di luar itu, aku akan memberimu tujuh setengah triliun rupiah tunai sebagai kompensasi tambahan. Dengan semua fasilitas ini, kau punya modal yang lebih dari cukup untuk mengejar apa pun yang kau inginkan."
Ia memberi jeda sejenak, lalu menambahkan, "Kalau ada hal lain yang kau inginkan—perhiasan, mobil mewah, atau apa pun itu—sebutkan saja."
Itu adalah kekayaan dan status yang tidak akan bisa dicapai kebanyakan orang meski mereka hidup sepuluh kali lipat lebih lama. Tawaran semacam itu pasti akan menggoyahkan iman wanita mana pun.
Namun, setelah mendengar semua penawarannya, Citra hanya tersenyum. Tidak ada secercah pun kebahagiaan dalam senyum itu—yang ada hanyalah kepedihan yang mendalam dan raut penuh ejekan.
"Bima, apa kau benar-benar berpikir uang bisa membuatmu bertindak semaumu?" Citra mendongak, menantang tatapan rumit pria itu, dan mengucapkan setiap kata dengan ketegasan yang mutlak. "Aku tidak mau apa-apa."
"Aku cuma mau anak-anakku."
"Kembalikan Tegar dan Tirta padaku, dan aku berjanji akan langsung menghilang dari duniamu, tidak akan pernah muncul lagi. Kita tidak akan punya urusan apa-apa lagi seumur hidup."
"Jangan mimpi!" Bima murka sekaligus merasa terhina. Ia sudah mengalah sejauh ini, tapi wanita itu masih saja tidak puas.
Ia menendang pot anggrek mahal di dekatnya. Pot porselen yang rapuh itu hancur berkeping-keping dalam sekejap, membuat tanah dan serpihannya berserakan di lantai.
Orang-orang di dalam ruangan VIP terlonjak kaget, dan suasana seketika berubah tegang.
Menghadapi kemarahan Bima yang meledak-ledak, Citra tetap bergeming. Suaranya terdengar putus asa, menyiratkan keberanian yang nekat. "Bima, lima tahun yang lalu, kau menghancurkan keluargaku, nama baikku, dan semua cinta yang kumiliki untukmu. Semua yang kupunya hancur lebur di tanganmu sendiri."
Ia mengulurkan tangan, menunjuk tepat di dadanya. Sepasang mata indahnya kini tampak kosong bak tanah gersang yang tak bernyawa.
"Sekarang aku cuma punya Tegar dan Tirta. Cuma mereka alasan hidupku."
"Kalau sampai kau merampas mereka dariku..."
"Apa bedanya itu dengan memaksaku mati untuk kedua kalinya?"
Kata-kata itu menghantam dada Bima layaknya godam besi.
Menatap wajah wanita itu yang pucat namun penuh perlawanan, melihat tekad putus asa di matanya, untuk pertama kalinya Bima benar-benar sadar bahwa wanita itu tidak sedang menggertak.
Jika ia nekat merampas anak-anak itu, Citra benar-benar akan mengakhiri hidupnya.
Kesadaran itu membuat tengkuknya meremang.
Kenapa? Bukankah selama ini wanita itu hanya gila harta dan pujian?
Kenapa tawaran uang sebanyak itu sama sekali tak diliriknya?
Pikiran Bima kacau balau.
Tepat pada saat itu, pintu ruang VIP terbuka sedikit.
Nanda mengintip ke dalam, lalu berkata hati-hati, "Bim, klien kita nanya, apa negosiasinya mau dilanjut?"
Sorot mata Bima mendadak menajam.
Sebuah ide gila yang penuh dendam terlintas di benaknya.
"Kalau kamu mau aku mengembalikan anak-anak itu, bukan hal yang mustahil."
Ia perlahan menoleh kembali pada Citra, tatapannya berubah kelam dan berbahaya.
"Kerja sama malam ini sangat penting buatku. Kalau kamu bisa bantu aku mengamankan kontrak ini..." Ia melangkah maju, berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Aku akan kembalikan anak-anak itu padamu."
Tubuh Citra seketika menegang.
Bantu mengamankan kontrak? Ia tahu persis apa maksudnya.
Laki-laki ini ingin dia menemani para klien itu!
Rasa terhina yang luar biasa seketika menyelimuti dirinya.
Namun, ia hanya terdiam selama beberapa detik sebelum kembali mengangkat wajah. Ditekannya seluruh emosi dari sorot matanya hingga yang tersisa hanyalah ketenangan yang mati rasa.
"Oke." Ia setuju tanpa ragu.
Harga diri? Hal itu sudah hancur berkeping-keping sejak Bima menjebloskannya ke penjara.
Demi Tomi dan Tito, ia rela melakukan apa saja—bukan cuma melayani klien bisnis, nyawanya pun akan ia serahkan jika perlu.
Bima menatap persetujuan kilat wanita itu dengan dada yang mendadak sesak. Alih-alih merasakan kepuasan balas dendam, ia justru merasa semakin jengkel.
Ia mendengus dingin, lalu berbalik dan berjalan masuk lebih dulu ke ruang VIP.
Citra menarik napas panjang, merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan tertiup angin, lalu menyusul masuk.
Saat keduanya kembali muncul beriringan di hadapan semua orang, tatapan orang-orang di ruangan itu langsung berubah penuh arti.
Setelah keributan tadi dan kini mereka kembali dengan tenang bersama-sama, apa yang baru saja terjadi sudah sangat jelas bagi mereka.
Pria di kursi utama, seorang pengusaha paruh baya bertubuh tambun bernama Pak Edi, langsung berdiri sambil tersenyum lebar dan mengangkat gelasnya.
"Wah, Pak Bima, dari tadi kami tungguin, lho! Saya kira Bapak sudah lupa sama teman-teman lama gara-gara ketemu wanita cantik!"
"Benar itu! Pak Bima, siapa perempuan manis ini? Disimpan rapat-rapat terus, nggak mau dikenalin ke kami?" sahut yang lain.
"Jelas ini kesayangan! Lihat saja ribut-ributnya tadi—kalau bukan cinta sejati, apa lagi?"
"Pak Bima, curang ini namanya! Malam ini Bapak harus dihukum minum tiga gelas!"
Berbagai godaan dan tawa nakal memenuhi ruang VIP tersebut.
Tatapan-tatapan yang menelanjangi dan penuh nafsu itu membuat perut Citra mual.
Ia berdiri tanpa ekspresi di belakang Bima, sekuat tenaga menahan rasa jijiknya.
Bima hanya membalas mereka dengan tatapan datar.
Kemudian, ia menarik kursi di sebelahnya dan berkata pada Citra, "Duduk."
Citra menurut, meski gerakannya sedikit kaku.
Kursi itu berada tepat di sebelah sang klien bisnis, Pak Edi.
